25 Desember 2009

NABI HUD

Nabi Noh dan pengikut pengikutnya yang terdiri dari orang orang yang beriman telah diselamatkan Allah dari bahaya maut. Semua musuh mereka yang terdiri dari orang-orang kafir yang jahat, seluruhnya sudah musnah. Orang-orang beriman yang selamat ini, setelah berhenti banjir dahsyat itu, di bawah pimpinan Nabi Noh semakin tebal iman mereka, semakin percaya kepada Nabi Noh dan ajarannya. Mereka tidak berhenti henti mengucap syukur dan beribadat menyembah Allah yang telah menyelamatkan mereka. Makin terasa sampai sedalam dalamnya dalam jiwa raga mereka akan kebesaran Allah dan kekuasaanNya. Demikianlah berjalan beberapa abad pula lamanya. Manusia hidup rukun dan damai, iman dan taqwa, senang, tenang dan bahagia sekali.




Tetapi beberapa abad kemudian, anak cucu atau keturunan mereka, mulalah melupakan ajaran Nabi Noh dan nenek moyang mereka yang beriman itu. Mungkin karena kurangnya penerangan atau pengaruh penghidupan yang semakin meningkat, pengaruh ekonomi, keinginan-keinginan dan keperluan, ditambah lagi oleh tipu daya Setan dan Iblis yang selalu menggoda dan memperdayakan mereka. Akhirnya seluruh manusia menjadi lupa sama sekali akan Allah Pencipta yang diajarkan Nabi Noh dan nenek moyang mereka orang beriman.
Setelah mereka berkembang biak menjadi manusia banyak, hidup terpancar di segenap pelosok yang berjauhan dan berdekatan, menjadi berbagai bagai suku kaum dan bangsa, antar satu sama lain sudah tak kenal mengenal lagi, masing masing golongan, suku dan bangsa berkembang menurut adat kebiasaan atau tradisi masing masing. Yang satu ingin lebih kaya, lebih kuat dari yang lain. Akhirnya yang kaya memeras terhadap si miskin, dan yang kuat menindas terhadap yang lemah.
Bersamaan dengan lenyapnya keimanan terhadap Allah, lenyap pulalah ketenteraman dan keamanan, kebahagiaan dan kesenangan hidup. Lalu timbullah berbagai-bagai maksiat, kejahatan, kepercayaan yang sesat dan menyesatkan. Bila mereka sudah kacau dan tak aman lagi, kembalilah mereka ingin menyelamatkan diri masing masing. Karena mereka sudah lupa terhadap Allah, maka mereka tercari carilah cara memperoleh keselamatan dan ketenteraman. Akhirnya mereka buat pulalah patung berhala, dan patung patung itulah menurut para pemuka mereka yang dapat menyelamatkan mereka dari segala kesusahan dan bahaya. Akhirnya patung atau berhala itu mereka hormati, mereka mengagungkannya, mereka puji lalu sembah. Dan patung patung itulah 'tuhan', kata mereka.
Sejarah sepeninggalan Nabi Noh berulang kembali, dengan ulangan yang sama tidak ada perbezaan sama sekali. Bangsa 'Ad, begitulah namanya satu kaum yang paling derhaka di zaman itu, hidup di negeri Ahqaf, antara Yaman dan Oman sekarang ini, di bilangan negeri Arab jua.
Bangsa 'Ad ini termasyhur sekali karena besar tubuh orangnya dan kuat. Hidup di tanah yang subur, tumbuh di situ berbagai bagai tumbuh tumbuhan, mengalir di situ sungai sungai dan mata air. Masing masing mempunyai kebun yang luas, hasil bumi yang berlipat ganda banyaknya. Dengan kekayaan yang melimpah ruah itu, mereka dapat membuat rumah dan istana tempat tinggal masing masing.
Kerana kebahagiaan hidup yang berlimpahan itu, mereka lupa akan asal usul kejadian mereka, mereka tidak tahu dari mana asalnya segala nikmat dan rahmat yang berlimpah ruah itu.
Akal mereka hanya sampai ke batu batu yang mereka buat dan gambar sendiri berupakan patung patung. Kepada batu batu itulah mereka berterima kasih atas semua nikmat dan rahmat itu, dan kepada batu itu pulalah mereka minta tolong bila di timpa kesusahan dalam hidup dan penghidupan mereka.
Bukan hanya sesat diri mereka bahkan akhirnya mereka menyebarkan kejahatan di permukaan bumi yang penuh rahmat itu. Si kuat di antara mereka menyeksa kepada yang lemah, yang besar menganiaya terhadap anak kecil, sehingga keamanan dan kebahagiaan hanya dimiliki oleh beberapa gelintir manusia saja di antara mereka, iaitu mereka yang kuat dan berani saja. Sedang orang yang lemah dan tak punya kekuasaan, hidup menderita, dengan derita yang tak terperikan lagi.
Diutus Tuhanlah kepada mereka seorang dari bangsa 'Ad itu sendiri, Nabi Hud namanya. Seorang yang lapang dada, berbudi tinggi, pengasih dan penyantun, penuh dengan kesabaran. Diajarkan kepada kaum 'Ad itu akan Tuhan yang sebenarnya, iaitu Allah s.w.t. Sedang batu batu yang mereka sembah dan cintai itu tak ada kekuasaan apa apa. Tidak dapat memberi manfaat atau mudarat, tidak mempunyai kuasa untuk berbuat apa apa. Allahlah yang selayaknya disembah dan dipuja, karena Allahlah yang menjadikan kamu dan memberi kamu rezeki, yang menghidupkan dan mematikan kamu, yang membentangkan bumi tempat berpijak, menumbuhkan tumbuh tumbuhan dan mendatangkan berbagai-bagai nikmat yang kamu pergunakan, kata Nabi Hud kepada mereka.
Sebagai manusia di zaman Nabi Noh, seruan dan ajaran Hud ini tidak dihiraukan oleh manusia 'Ad, mereka membantah dengan membangga banggakan kekayaan dan kepintaran mereka sendiri. Diperingatkan pula oleh Nabi Hud, bahawa nanti semua orang yang sudah mati itu akan dihidupkan kembali di Alam Akhirat, akan diperhitungkan kejahatan dan kebaikannya. Mana yang jahat akan diseksa dan mana yang baik akan dibahagiakan dalam Syurga yang disediakan Tuhan.
Ajaran ini lebih mereka ejek lagi dengan berkata: "Manakan boleh orang yang sudah mati dan hancur menjadi satu dengan tanah akan dapat hidup kembali. Hidup hanya di dunia ini saja, senang dan susah hanya di muka bumi saja."
Diperingatkan Hud seksa yang pernah diturunkan Allah terhadap manusia engkar di zaman Nabi Noh. Mereka tidak percaya. Itu adalah cerita bohong yang diada adakan saja, atau berita dongeng yang diada adakan oleh Hud, kata mereka.
Bahkan Hud dianggap mereka orang yang terlalu bodoh. "Apa kelebihan engkau atas kami?" kata mereka kepada Hud. "Engkau makan sebagaimana kami makan jua, engkau minum sebagaimana kami minum pula, engkau hidup seperti kehidupan kami tak ada bezanya sedikit juga," kata mereka selanjutnya. "Kenapa engkau mengatakan diutus Allah? Kenapa engkau saja yang diutus Allah? Kami pun berhak diutus Allah itu! Perkataanmu itu adalah bohong semata mata," kata mereka kepada Hud.
Hud terus mengajak mereka, walaupun mendapat sambutan dingin dan juga tentangan dari mereka yang engkar itu. Demikianlah dari masa ke semasa, tahun ke tahun, beratus tahun pula lamanya. Hanya sedikit sekali yang menurut ajarannya itu.
Ternyata pulalah, bahawa memang mereka tidak mahu beriman, mereka tidak mahu berhenti berbuat derhaka dan jahat, mereka hanya berbuat apa yang mereka kehendaki belaka dengan tidak mengacuhkan siapa saja. Sifat takbur mereka sudah demikian hebatnya, sehingga tidak dapat diempang empang lagi, sehingga masyarakat ketika itu kerananya menjadi kacau bilau, porak peranda, sehingga tak ada orang yang merasa aman lagi, selain orang orang yang kuat dan berkuasa saja. Sedang semua mereka tidak juga mahu menurutkan ajaran Nabi Hud itu.
Pada suatu hari terbentanglah di langit awan hitam yang panjang, melintang di tengah tengah langit. Hampir semua mereka ke luar rumah menoleh ke arah awan yang agak ganjil itu. Akhirnya mereka berkata: "Itulah awan panjang, menandakan sebentar lagi hujan akan turun untuk menyiram tanam tanaman kita, memberi minum kepada binatang-binatang ternak kita."
Tetapi Nabi Hud berkata kepada mereka: "Itu bukan awan rahmat, tetapi awan yang membawa angin kencang yang akan menewaskan kamu sekalian, angin yang penuh dengan azab seksa yang sepedih pedihnya."
Sejurus kemudian angin dahsyat berhembuslah, luar biasa hebatnya. Binatang ternakan mereka yang sedang berkeliaran di padang pasir, kecil besar turut terbang disapu bersih oleh angin entah ke mana perginya. Mulalah mereka takut dan berlompatan lari masuk ke dalam rumah mereka masing masing, yang merupakan gedung dan istana yang kuat kukuh itu. Mereka tutup segala pintu, untuk berlindung diri. Mereka pergunakan segala kekuatan tubuh mereka yang kuat dan besar itu untuk mempertahankan pintu dan rumah-rumah mereka itu agar jangan diterbangkan angin.
Tujuh malam dan delapan hari lamanya angin dahsyat itu bertiup sehebat hebatnya. Jangankan manusia dan binatang-binatang serta tumbuh tumbuhan, batu yang besar yang berupakan gunung itu pun lenyap menjadi angin, lebih lebih lagi patung yang mereka sembah selama ini. Demikianlah jadinya manusia kuat yang takbur itu.
Firman Allah: "Tidaklah Tuhan akan mencelakakan satu negeri dengan satu petaka, sedang penduduknya berbuat baik baik."
Heran, Nabi Hud dan pengikutnya tetap di rumah saja, dengan tidak merasakan sedikit juga akan bahaya angin ribut yang begitu dahsyat selama se minggu berturut turut itu. Akhirnya Nabi Hud pindah tempat karena negeri itu sudah menjadi padang jarak padang tekukur. Dia pindah ke Hadhramaut, di mana beliau hidup sampai wafatnya. Alhambra Granada

Tidak ada komentar:

Posting Komentar