Pada suatu hari, berkat rahmat dan kemurahan-Nya, seorang wartawan muda mendapat kesempatan untuk mewawancarai Tuhan. Berikut cuplikannya:
TUHAN : Wartawan muda, apakah benar kamu ingin mewawancarai Aku ?
Wartawan : Ya, sekiranya Tuhan ada waktu sedikit
TUHAN : O, waktu-Ku adalah kekekalan. No Problem! Ajukanlah pertanyaanmu anak muda!
Wartawan : Terima kasih, Apa yang paling mengherankan bagi Tuhan tentang kami umat manusia ?
TUHAN : Dari perspektif surga, kalian adalah makhluk aneh. Kalian suka mencemaskan masa depan sampai lupa pada masa kini, sedemikian rupa sehingga kalian tidak hidup sekarang tapi tidak pula di masa depan. Kalian hidup seolah-olah tidak akan mati dan mati seolah-olah tidak pernah hidup. Kalian cepat bosan sebagai anak-anak dan terburu-buru ingin segera dewasa. Tetapi kemudian rindu menjadi anak-anak kembali: suka bertengkar, berkelahi dan ribut karena soal-soal sepele. Kalian rela kehilangan kesehatan untuk mengejar uang, tetapi kemudian membuangnya untuk mengembalikan kesehatan kalian. Hal-hal inilah yang membuat hidup kalian susah dan banyak masalah.
Wartawan : Lantas apa nasihat Tuhan bagi kami agar bisa hidup benar dan berbahagia?
TUHAN : Ah, semua nasihat sudah pernah Kuberikan, inipun keanehan kalian juga, selalu melupakan nasihat-Ku. Tetapi karena koranmu dibaca semua orang, sedangkan mimbar-Ku jarang dihadiri orang, baiklah Kuulangi beberapa yang terpenting
Pertama, kalian harus sadar bahwa mengejar rezeki adalah sebuah kesalahan. Yang seharusnya kalian lakukan adalah mengusahakan agar kalian layak dikucuri rezeki. Jadi, janganlah mengejar rezeki; tetapi biarlah rezeki yang mengejar kalian.
Kedua, siapa yang kalian miliki lebih berharga daripada apa yang kalian punyai; jadi perbanyaklah teman; kurangi musuh. Ingatlah, seribu kawan masih kurang, satu lawan terlalu banyak.
Ketiga, selalu membandingkan diri dengan orang lain adalah sebuah kebodohan; sebaiknya kalian harus mensyukuri apa yang sudah kalian terima; kemudian kenalilah talenta dan potensi yang kalian miliki lalu kembangkanlah sebaik mungkin; maka kalian akan menjadi manusia unggul berkualitas; dan pada kondisi inilah juga rezeki selalu mengikuti rumah kalian.
Keempat, orang terkaya diantara kalian bukanlah dia yang mengumpulkan paling banyak, tetapi dia yang paling memerlukan sedikit sedemikian rupa sehingga masih sanggup memberi dan berbagi dengan orang lain
Kelima, orang terbesar di antara kalian ialah dia yang menolong orang lain menjadi besar; bukan dia yang membesarkan dirinya dengan bermacam-macam gelar dan kehormatan. Yang terakhir ini mendatangkan kecemburuan sedangkan yang pertama mendatangkan rasa sayang. Jadi, kalian harus mendalami lagi makna pelayanan.
Keenam, dua orang bisa melihat dan mengalami hal yang sama tetapi menghayatinya secara berbeda; jadi belajarlah memahami pikkran dan perasaan orang lain. Secara khusus, jangan pernah memutlakkan pendapat kalian sendiri; bertanya; mendengar dan berdialog lebih baik daripada beropini; berteori dan saling membantah.
Ketujuh, bila kalian berbuat kesalahan, tidak cukup hanya mendapat pengampunan dari-Ku dan dari orang lain yang kalian cederai; tetapi kalian juga harus belajar mengampuni diri sendiri.
Itu saja., bila kalian mengamalkan tujuh nasihat-Ku, niscaya kalian akan baik-baik-saja
Wartawan : Dahulu lewat Nabi Musa, Tuhan memberikan sepuluh nasihat, tidakkah Tuhan menambah lagi agar sempurna ?
TUHAN : memang sepuluh adalah angka sempurna, tetapi tujuh juga angka sempurna. Jadi, itu sudah lengkap. Tapi karena kamu wartawan pemberani maka aku beri satu bonus: Ingatlah!, dalam semua masalah dan kesusahan kalian, Aku selalu ada dan siap membantu. Jadi, jangan kalian sia-siakan keahlian-Ku. Aku-pun masih seperti yang dulu; Maha Pengasih lagi Maha Penyayang …semoga kalian sukses selalu.
Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan
07 Januari 2010
05 Januari 2010
Wanita tak pernah sholat, mati saat berdandan.
Temanku berkata kepadaku, “Ketika perang teluk berlangsung, aku sedang berada di Mesir dan sebelum perang meletus, aku sudah terbiasa menguburkan mayat di Kuwait yang aku ketahui dari masyarakat setempat. Salah seorang familiku menghubungiku meminta agar menguburkan ibu mereka yang meninggal. Aku pergi ke pekuburan dan aku menunggu di tempat memandikan mayat.
Di sana aku melihat empat wanita berhijab bergegas meninggalkan tempat memandikan mayat tersebut. Aku tidak menanyakan sebab mereka keluar dari tempat itu karena memang bukan urusanku. Beberapa menit kemudian wanita yang memandikan mayat keluar dan memintaku agar menolongnya memandikan mayat tersebut. Aku katakan kepadanya, ‘Ini tidak boleh, karena tidak halal bagi seorang lelaki melihat aurat wanita.’ Tetapi ia mengemukakan alasannya bahwa jenazah wanita yang satu ini sangat besar.
Kemudian wanita itu kembali masuk dan memandikan mayat tersebut. Setelah selesai dikafankan, ia memanggil kami agar mayat tersebut diusung. Karena jenazah ini terlalu berat, kami berjumlah sebelas orang masuk ke dalam untuk mengangkatnya. Setelah sampai di lubang kuburan (kebiasaan penduduk Mesir membuat pekuburan seperti ruangan lalu dengan menggunakan tangga, mereka menurunkan mayat ke ruangan tersebut dan meletakkannya di dalamnya dengan tidak ditimbun).
Kami buka lubang masuknya dan kami turunkan dari pundak kami. Namun tiba-tiba jenazahnya terlepas dan terjatuh ke dalam dan tidak sempat kami tangkap kembali hingga aku mendengar dari gemeretak tulangnya yang patah ketika jenazah itu jatuh. Aku melihat ke dalam ternyata kain kafannya sedikit terbuka sehingga terlihat auratnya. Aku segera melompat ke jenazah dan menutup aurat tersebut.
Lalu dengan susah payah aku menyeretnya ke arah kiblat dan aku buka kafan di bagian mukanya. Aku melihat pemandangan yang aneh. Matanya terbe-lalak dan berwarna hitam. Aku menjadi takut dan segera memanjat ke atas dengan tidak menoleh ke belakang lagi.
Setelah sampai di apartemen, aku menghubungi salah seorang anak perempuan jenazah. Ia bersumpah agar aku menceritakan apa yang terjadi saat memasukkan jenazah ke dalam kuburan. Aku berusaha untuk mengelak, namun ia terus mendesakku hingga akhirnya terpaksa harus memberitahukannya. Ia berkata, “Ya Syaikh (panggilan yang sering diucapkan kepada seorang ustadz-red), ketika anda melihat kami bergegas keluar dikarenakan kami melihat wajah ibu kami menghitam, karena ibu kami tidak pernah sekalipun melaksanakan shalat dan meninggal dalam keadaan berdandan.”
Kisah nyata ini menegaskan bahwa Allah SWT menghendaki agar sebagian hamba-Nya melihat bekas Su’ul khatimah hamba-Nya yang durhaka agar menjadi pelajaran bagi yang masih hidup. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan pelajaran bagi orang-orang yang berakal.
Di sana aku melihat empat wanita berhijab bergegas meninggalkan tempat memandikan mayat tersebut. Aku tidak menanyakan sebab mereka keluar dari tempat itu karena memang bukan urusanku. Beberapa menit kemudian wanita yang memandikan mayat keluar dan memintaku agar menolongnya memandikan mayat tersebut. Aku katakan kepadanya, ‘Ini tidak boleh, karena tidak halal bagi seorang lelaki melihat aurat wanita.’ Tetapi ia mengemukakan alasannya bahwa jenazah wanita yang satu ini sangat besar.
Kemudian wanita itu kembali masuk dan memandikan mayat tersebut. Setelah selesai dikafankan, ia memanggil kami agar mayat tersebut diusung. Karena jenazah ini terlalu berat, kami berjumlah sebelas orang masuk ke dalam untuk mengangkatnya. Setelah sampai di lubang kuburan (kebiasaan penduduk Mesir membuat pekuburan seperti ruangan lalu dengan menggunakan tangga, mereka menurunkan mayat ke ruangan tersebut dan meletakkannya di dalamnya dengan tidak ditimbun).
Kami buka lubang masuknya dan kami turunkan dari pundak kami. Namun tiba-tiba jenazahnya terlepas dan terjatuh ke dalam dan tidak sempat kami tangkap kembali hingga aku mendengar dari gemeretak tulangnya yang patah ketika jenazah itu jatuh. Aku melihat ke dalam ternyata kain kafannya sedikit terbuka sehingga terlihat auratnya. Aku segera melompat ke jenazah dan menutup aurat tersebut.
Lalu dengan susah payah aku menyeretnya ke arah kiblat dan aku buka kafan di bagian mukanya. Aku melihat pemandangan yang aneh. Matanya terbe-lalak dan berwarna hitam. Aku menjadi takut dan segera memanjat ke atas dengan tidak menoleh ke belakang lagi.
Setelah sampai di apartemen, aku menghubungi salah seorang anak perempuan jenazah. Ia bersumpah agar aku menceritakan apa yang terjadi saat memasukkan jenazah ke dalam kuburan. Aku berusaha untuk mengelak, namun ia terus mendesakku hingga akhirnya terpaksa harus memberitahukannya. Ia berkata, “Ya Syaikh (panggilan yang sering diucapkan kepada seorang ustadz-red), ketika anda melihat kami bergegas keluar dikarenakan kami melihat wajah ibu kami menghitam, karena ibu kami tidak pernah sekalipun melaksanakan shalat dan meninggal dalam keadaan berdandan.”
Kisah nyata ini menegaskan bahwa Allah SWT menghendaki agar sebagian hamba-Nya melihat bekas Su’ul khatimah hamba-Nya yang durhaka agar menjadi pelajaran bagi yang masih hidup. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan pelajaran bagi orang-orang yang berakal.
28 Desember 2009
NABI ISA AL MASIHI
Mariam sekarang ini telah menjadi remaja puteri, seorang gadis yang lain dari yang lain, yang kerjanya hanya beribadat dan mensucikan din di hadapan Allah, di dalam Rumah Suci.
Pada suatu hari Mariam sedang beribadat di tempatnya sebagai kebiasaannya, tiba tiba dihadapannya berdiri seorang lelaki. Alangkah terkejut dan terperanjatnya, kerana selama hidup
dan selama dia berada di tempat itu, belum pernah dia mendapat kunjungan seorang lelaki selain Zakaria.
Mariam nampaknya mahu berpaling dan menghindarkan diri kerana menurut kiraan Mariam lelaki itu adalah seorang jahat yang berniat buruk terhadap dirinya, sedang dia sendiri adalah seorang suci dan penuh iman. Mariam berlindung diri kepada Allah dengan berkata: Sesungguhnya saya melindungkan diri kepada Allah dan kejahatan engkau, sekiranya engkau seorang yang takut kepada Allah.
Orang yang tidak dikenal itu memberikan isyarat, agar supaya Mariam tinggal tenang jangan takut dan khuatir. Lalu orang itu berkata kepada Mariam: Sesungguhnya saya ini datang diutus oleh Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak yang suci.
Dengan muka yang diselubungi kesedihan, hati yang penuh hairan dan khuatir, mulut dan lidahnya rasa terkunci, akhirnya dapat juga Mariam menjawab: Bagaimana saya akan memperolehi
seorang anak, sedang seorang manusia pun belum pernah menyentuh tubuh saya dan saya bukan seorang yang jahat.
Mendengar jawapan itu, Malaikat (Ruhul Kudus) itupun berkata: Demikianlah halnya; Tuhanmu telah berfirman: Perkara itu amat mudah bagiKu, supaya Kujadikan itu tanda kekuasaanKu untuk manusia dengan rahmatKu. Kejadian itu bukanlah satu hal yang tidak dapat diluluskan.
Sehabis jawaban itu, Malaikat itupun lenyaplah dari pemandangan Mariam, tidak diketahui ke mana perginya. Tinggallah sekarang Mariam seorang diri kehairanan memikirkan apa yang sudah dilihat dan didengarnya itu.
Mulailah dia khuatir lagi, kekhuatiran yang lain pula sifatnya dan kekhuatirannya semula tadi. Sudah pasti orang ramai akan heboh dan bising, bila mereka mendengar bahawa Mariam menjadi hamil. Apalagi kalau melahirkan anak dengan tidak mempunyai suami. Fikiran ini sangat menggoyangkan perasaan Mariam, sebab ini bukanlah masalah kecil bagi seorang yang suci murni sebagai Mariam. Badannya gementar memikirkan bagaimana akhirnya kejadian ini.
Dia benar benar merasa sesuatu dalam kandungannya. Untuk menghindarkan apa yang akan terjadi sebagai yang dikhuatirkannya itu, Mariam memutuskan akan menjauhkan diri ke luar kota,
mengasingkan diri di tempat yang jauh dan terpencil, yang sunyi sepi. Maksudnya itu diteruskannya dengan mengambil satu tempat jauh di desa, dimana dia tinggal seorang diri berhati sedih bercampur
takut, memikirkan kejadian yang akan terjadi bila dia sudah melahirkan bayi kandungannya, bayi yang tidak berbapa.
Beberapa bulan berlalu, kandungannya makin terasa mendekati waktu bersalin. Semakin dekat waktunya bersalin, semakin hebat pulalah penderitaan batin yang dideritanya, sehingga makan dan minum tidak berasa enak lagi. Makanan dimakannya berasa sekam, air diminum berasa duri.
KESEDIHAN YANG MEMUNCAK
Di dalam sebuah pondok didesa yang jauh terpencil, dia menyembunyikan diri dari pandangan dan pendengaran orang ramai, agar rahsia ajaib yang sudah ada dibatang tubuhnya jangan sampai diketahui orang, tidak dilihat sebuah mata dan tidak didengar sebuah telinga pun.
Setelah terasa betul oleh Mariam, bahawa waktu yang ditunggu-tunggunya itu sudah dekat, tanda-tanda yang dia akan melahirkan seorang anak telah cukup, maka disaat itulah kesedihan
hatinya, kekhuatiran dan ketakutannya memuncak hebat sehebat-hebatnya. Ketika itulah dia mengeluh sambil berkata: Maha Penyantun Engkau, ya Tuhanku. Takdir apakah gerangan yang akan terjadi, kejadian apakah akan terjadi dibalik malam yang gelap ini.
Mariamlah seorang manusia yang paling berat ditimpa beban pemikiran di saat itu. Dia berasal dari keturunan yang baik-baik dan kukuh kuat. Bapanya seorang yang suci terhormat, ibunya pun demikian pula. Dia sendiri pun seorang yang suci murni dan ini sudah cukup dikenal dan diakui orang ramai. Tetapi sudah cukupkah kesemuanya itu menjadi jaminan baginya terhadap tuduhan orang
ramai? Apakah orang ramai tidak akan menuduhnya dengan tuduhan yang bukan-bukan terhadap dirinya, sekiranya dia melahirkan anak dengan tidak berbapa? Dapatkah gerangan semuanya itu melenyapkan seluruh tohmahan yang akan tumbuh itu? Atau dituduh orang jugakah dia melakukan perbuatan jahat dan mesum? Akan dituduh dia mencemarkan nama baik ibu-bapa dan nenek-moyangnya yang suci murni.
Semua itu amat berat untuk difikirkan dan dipecahkan oleh Mariam yang hanya seorang diri yang pula menderita sakitnya mahu bersalin. Jasadnya menanggung tanggungan yang paling berat, sedang jiwanya pula sedang menanggung tanggungan yang lebih berat lagi. Dua beban berat yang harus dipikul sekaligus.
Tetapi bagaimana juga berat dan hebatnya derita lahir dan batin yang dideritanya, rasa ibadat dan taqwa kepada Allah telah dapat menolong dia dalam menanggung semua penanggungan itu, pananggungan yang maha berat dan rumit.
Ya, dia akan melahirkan seorang yang amat mulia dan amat agung, maka penanggungan dan penderitaan yang amat berat dan hebat harus ditanggungkannya pula untuk melahirkannya. Itu
sudah menjadi adat alam sunnah Ilahi kiranya.
KELAHIRAN ISA AL-MASIHI
Setelah Mariam merasakan betul bahawa kandungannya sudah dekat sekali akan lahir, maka dia tinggalkan pondok tempat dia mengasingkan diri itu. Dia berjalan meninggalkan desa yang terpencil itu, mencari tempat yang lebih suci dan sepi lagi. Disuatu tempat dipadang pasir, dibawah sebatang pokok korma, dia lalu berhenti. Disitulah dia duduk seorang din menantikan takdir, tidak ada kawan dan bidan atau tabib yang akan menolong dia, bila ditimpa sakit atau kesulitan dalam melahirkan bayi kandungannya.
Dalam keadaan demikian, dibawah langit terbuka, ditengah sawang padang pasir yang luas, dengan tidak ditemani seorang manusia pun, selain temannya yang bernama iman dan taqwa tibalah saat yang ditunggu-tunggunya. Seorang anak bayi lelaki pun lahirlah ke atas dunia yang luas terbuka ini, seorang bayi yang akan menjadi manusia suci dan berpengaruh besar.
Dengan perasaan terharu-biru dan cemas sedih, dipandangnyalah wajah anak bayinya yang baru lahir itu. Dengan keadaan tubuh yang lesu-lunglai bekas bersalin, fikiran dan perasaan yang semakin diliputi cemas dan khuatir, timbullah berbagai-bagai kegelisahan batin yang tak terbada, sehingga dia mengeluh: Aduhai nasibku ini. Lebih baik kiranya aku mati sebelum ini, tentu aku dilupakan manusia selupa-lupanya.
Fikirannya bingung tidak tahu apa yang harus dikerjakannya. Badannya lesu dan lemah longlai segala sendi dan tulang-belulangnya, ditambah lagi dengan rasa lapar dan dahaga yang tak terkirakan hebatnya
sehabis melahirkan bayinya itu. Dia lalu menyandarkan dirinya ke pokok korma yang kering itu, sambil memangku anak bayinya dengan kedua tangannya yang lemas itu.
Baru saja biji matanya tertuju ke wajah bayinya, tiba-tiba Mariam mendengar suara yang jelas dan dekat, memanggilnya: Hai Mariam, janganlah engkau terlalu berdukacita. Sesungguhnya Tuhanmu sudah mengadakan didekatmu sebuah anak sungai yang kecil dan goncangkanlah batang korma yang engkau sandari itu, nescaya akan berguguranlah buah-buahnya yang sudah masak. Maka makanlah dan minumlah dan tenangkanlah hatimu. Lantas kalau engkau ditanya seseorang, maka berkatalah kepadanya: Aku bernazar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, bahawa aku akan diam, tidak akan berkata-kata kepada siapapun juga di hari ini.
Setelah mendengar suara itu, Mariam melihat tanah yang berada di sisinya menjadi retak dan dari retakan itu mengalir air yang amat jernih, merupakan anak sungai yang kecil, tepat sebagai yang didengarnya dan suara tadi.
Matanya lalu dialihkannya ke arah batang korma yang disandarnya itu. Di atas pohon korma itu jelas dilihatnya buah-buah korma yang sudah masak. Dengan tangannya yang masih lemah dan tidak berdaya itu, cuba menggerakkan batang korma yang kukuh itu. Batang korma itu bergerak dengan kerasnya, sehingga buah-buahnya yang masak itu berguguran didekatnya.
Dimakannya buah dan diminumnyalah air yang jernih itu. Dengan demikian hilanglah lapar dan dahaganya, badannya kembali beransur-ansur menjadi kuat dan segar kembali, fikirannya mulai menjadi tenang pula.
Sungguh besar pertolongan Tuhan terhadap Mariam. Buah korma yang matang untuk dimakan dan air jernih untuk diminum. Tetapi cukupkah kiranya mukjizat Tuhan yang maha besar ini dijadikan perisai untuk menjawab tuduhan orang nantinya? Cukupkah ini untuk menutup mulut orang yang mahu menuduh? Kesedihan dan kegelisahan Mariam tidak berkurangan hanya badannya sudah berasa lega dan waras mendapat makan dan minum yang luarbiasa itu.
Matanya tidak putus-putusnya memandang wajah anaknya yang baru lahir. Luarbiasa keadaan dan hal ehwalnya. Pandangannya ke wajah bayi itulah hanya satu-satunya yang dapat menghiburkan hatinya yang duka, sehingga hatinya agak tenteram pula sedikit, sedang badannya semakin kuat juga.
Kembalilah dia ke desa tempat dia mengasingkan din, meninggalkan tempat dia bersalin yang sekarang ini dinamakan orang Baitullaham (Bethlehem), ertinya tempat lahir. Mulailah orang yang tidak jauh tinggal dan rumahnya itu mengetahui khabar kelahiran bayinya. Tak lama kemudian, khabar itupun tersiarlah dengan cepatnya ke seluruh pelosok negeri.
BAYI BERBICARA
Orang-orang lalu datang berduyun-duyun, dan jauh dan dekat, ingin menyaksikan sendiri kabar yang luarbiasa itu. Mariam dihujani orang ramai dengan pertanyaan-pertanyaan. Dia tidak menjawab, hanya berkata sebagai apa yang telah diwahyukan Tuhan kepadanya, bahawa dia berpuasa dan bernazar tidak akan bercakap-cakap sehari itu.
Berbagai-bagai kata orang ramai tentang Mariam dan kejadian itu. Ada yang amat hairan atas keluarbiasaan kejadian itu. Ada pula memandang kejadian itu sebagai tanda kesucian dan kebesaran Mariam. Tetapi banyak pula yang mengejek-ejek dengan pelbagai tuduhan sebagai yang telah dikhuatirkan Mariam sendiri. Semuanya itu didengarkan dan dibiarkannya saja dengan sabar dan tenang, sesuai dengan petunjuk Tuhan kepadanya.
Keesokan harinya, mereka pun datang pula bertanyakan ini dan itu, mengatakan apa yang terasa dalam hati dan batin mereka masing-masing. Mereka tahu bahawa nazar Maryam sudah habis waktunya. Berbagai-bagai cara dan isi pertanyaan mereka. Ada yang bertanya: Hai Mariam, sesungguhnya engkau telah membawa sesuatu yang mungkar!
Ada pula yang mengejek: Hai saudaranya Harun, bapamu bukanlah orang yang jahat, sedang ibumu pun bukan perempuan jalang! Dari manakah engkau perolehi anak ini?
Banyak lagi pertanyaan yang mengejek dan kasar-kasar yang dihadapkan kepada Mariam. Akhirnya Maryam berdiri mengambil anak bayinya, lalu berkata kepada mereka: Ini adalah anakku, tanyakanlah kepadanya hakikat kejadian yang sebenarnya, yang tuan-tuan tanyakan itu.
Orang ramai hairan dan tercengang mendengarkan jawapan Mariam yang tidak masuk akal itu. Mereka lalu berkata: Bagaimana kami dapat berbicara dengan bayi yang masih dalam ayunan itu?
Mendengar ejekan yang berturut-turut itu, lalu Allah memperlihatkan kekuasaanNya untuk mukjizat yang sebesar-besarnya bagi bayi yang bernama Isa al-Masihi itu dikala besarnya. Di saat itulah bayi Isa a.s. yang masih kecil itu berkata dengan terang kepada orang banyak: Sesungguhnya aku ini seorang hamba Allah, akan diberinya kepadaku sebuah Kitab (Injil) dan dijadikanNya aku seorang Nabi. DijadikanNya aku seorang yang berguna buat manusia dimana aku berada, diwasiatkanNya kepadaku berbuat dan mengerjakan sembahyang dan mengeluarkan zakat selama aku hidup. Dan aku berbakti kepada ibuku, tidaklah aku dijadikan Tuhan seorang yang sombong dan derhaka. Selamatlah diriku ketika aku dilahirkan dan ketika aku mati dan ketika aku kembali hidup.
Barulah sebahagian orang ramai itu insaf dan percaya, yakin akan kesucian Mariam, akan kebesaran dan keagungan bayi yang baru lahir itu. Khabar kesucian dan keagungan bayi itupun tersiarlah ke mana-mana, sehingga setiap orang menunggu-nunggu akan besarnya anak itu, sebagai seorang Utusan Allah (Rasul) buat mereka.Nabi Isa al-Masihi yang dipopularkan orang Kristian dengan nama Jesus Kristus itupun makin sehari makin besar juga. Di kala dia masih berupakan seorang anak yang di bawah umur, telah banyak tampak tanda-tanda kebesaran dan keluarbiasaannya.
Pada suatu hari, ketika Isa sedang bermain-main dengan teman-teman sebayanya, tiba-tiba Isa menerkai semua apa yang disimpan dalam poket seluar dan dirumah mereka masing-masing, dengan tekaan yang tepat dan tidak salah sedikit juga.
Kadang-kadang Isa berlaku sebagai guru terhadap teman-teman sebayanya itu, mengajarkan apa-apa yang mereka itu semua tidak mengetahuinya. Semua temannya itu menurut dan patuh terhadap ajaran Isa. Masing-masing memperhatikan sebaik-baiknya setiap kata dan nasihat yang keluar dari mulut Isa.
Ketika Isa sudah berumur 12 tahun, ibunya membawa beliau meninggalkan dusun yang jauh terpencil itu, berangkat pindah ke kota Baitul Maqdis (Jerusalem). Di jalan banyaklah pemandangan baru yang belum pernah dilihat didesanya sendiri. Tetapi Isa tinggal tenang saja melihat pemandangan yang baru itu, tidak menarik hatinya sedikit juga sebagai kebanyakan anak-anak yang seumur dengan dia. Lebih-lebih lagi ketika memasuki kota besar Jerusalem menempuh jalan-jalan besar, rumah-rumah yang bagus dan menarik hati. Tidak satu pun yang menarik perhatian Isa, kesemuanya itu dipandangnya sebagai barang-barang yang biasa saja, tidak baru sedikit juga dalam pandangan mata dan hatinya. Inilah pula salah satu keluar-biasaan Isa dibanding dengan anak-anak lainnya.
Ibunya lalu pulang ke desa kembali, sedang Isa tetap tinggal dikota Baitul Maqdis, kota yang penuh dengan pendita dan tempat-tempat ibadat, sebagai pusaka dan doa Nabi Ibrahim dahulu.
Setiap hari, orang ramai berduyun-duyun datang ke gereja-gereja menerima pelajaran agama yang diberikan pendita-pendita. Isa pun turut serta orang ramai itu, mendengar pelajaran dan fatwa-fatwa itu. Bahkan inilah yang paling digemari Isa, lain-lain pekerjaan dan permainan tidak satu pun yang menarik hatinya dan dia tidak pernah turut berbagai-bagai keramaian dan permainan itu.
Tiap-tiap kata fatwa yang keluar dan mulut pendita-pendita didengarkannya dengan penuh perhatian dan sungguh-sungguh. Berbeza dengan orang ramai yang juga turut belajar dan mendengar fatwa itu, dimana umumnya mereka itu hanya menerima dan tunduk saja terhadap semua fatwa dan kata-kata itu, maka Isa bukan hanya tunduk dan menerima mentah-mentah saja tetapi kalau perlu bertanya dan membantah mana yang tidak sesuai dengan pendapatnya. Isa di antara murid-murid yang pertama-pertama kali berani bertanya dan membantah, sedang murid yang lain seorang pun tidak pernah bertanya, apalagi akan membantah.
Melihat keberanian dan perbuatan Isa itu, tidak sedikit kawan-kawan dan orang ramai yang menaruh sakit hati dan marah kepadanya dan menganggap dia seorang yang pembantah dan penyangkal, tidak tunduk kepada pendita-pendita yang dihormati dan dimuliakan orang. Bahkan sudah menjadi tabiat manusia di saat itu, bahawa pendita-pendita itu adalah orang suci, orang-orang yang benar semua kata-katanya, tidak boleh dibantah atau ditanyai samasekali, sebab orang yang bertanya dan membantah itu dianggap telah melanggar agama, telah engkar dan kafir layaknya.
Bukan hanya orang ramai saja yang marah kepadanya, tetapi juga pendita-pendita sendiri, sebab memang pendita-pendita itulah yang melarang orang bertanya dan membantah, serta mengajarkan bahawa sesiapa yang membantah dan bertanya itu, adalah orang engkar dan musuh Tuhan.
Beratus-ratus tahun lamanya, pendita-pendita itu tidak pernah dibantah dan disoal orang, sehingga telah menjadi adat turun-temurun bagi orang banyak yang hanya mendengar, tunduk dan diam dihadapan mereka. Sebab itu, tidak hairanlah kalau hal itu dianggap orang ramai sebagai ajaran agama, ketetapan syariat yang tidak boleh dilanggar samasekali.
Isa tidak menghiraukan kemarahan orang ramai itu, tidak peduli sekalipun pendita-pendita itu sendiri sakit hati kepadanya, namun Isa tetap membantah dan bertanyakan apa-apa yang tidak terang atau yang berlawanan dengan pendiriannya.
Demikianlah halnya Isa bertahun-tahun asyik belajar, asyik bertanya dan membantah tiap-tiap fatwa yang tidak sesuai. Dia lupa segala-galanya, kadang-kadang dia lupa makan dan minum, lupa terhadap ibunya sendiri yang sudah lama ditinggalkannya.
Dia bukan hanya tetap dalam kota Baitul Maqdis saja, tetapi juga pergi ke tempat-tempat yang jauh, didalam dan diluar kota, dimana saja ada pendita. Masing-masing pendita yang dia kenal dan dengar, sekalipun jauh tempatnya, pasti dia datangi untuk belajar dan menerima fatwanya, pula untuk ditanya dan dibantahnya apabila perlu. Begitulah; dia senantiasa pindah dari desa ke desa, dan kota ke kota lainnya.
MENJADI RASUL
Setelah Isa berumur 30 tahun, barulah datang kepadanya Ruhul Amin, iaitu Malaikat Jibril sebagai Utusan Allah untuk mengangkat Isa menjadi Rasul Allah, menyambung pelajaran yang pernah diajarkan Rasul-rasul yang sebelumnya dan untuk memberi khabar kepada manusia, bahawa nanti
dikemudian hari akan diutus Allah seorang Rasul lagi, iaitu Nabi Muhammad s.a.w.
Kepada Nabi Isa a.s. diturunkan Allah sebuah Kitab Suci (Bible) yang berisi ajaran-ajaran Tuhan yang membenarkan akan Kitab-kitab Suci yang sebelumnya dan pula memberi keterangan tentang akan datangnya Kitab Suci nanti, iaitu al-Quran al-Karim, yang diturunkan kepada Rasul yang paling akhir, iaitu Muhammad s.a.w.
Apa yang diterimanya itu, disampaikannya kepada manusia kaumnya. Diterangkannya bahawa dia adalah Utusan Allah, supaya semua manusia mengikutinya.
Mulailah Nabi Isa a.s. berjuang menyiarkan agama yang benar, membongkar akan kesalahan dan kesesatan pendita Yahudi yang telah jauh menyimpang dan ajaran Nabi Musa a.s. yang sebenarnya, bahkan terbukti kepada Nabi Isa bahawa mereka telah lupa samasekali akan semua ajaran-ajaran yang diberikan Nabi dalam Kitab Sucinya yang bernama Taurat. Sudah banyak pula yang tidak kenal kepada Allah lagi, hanya mementingkan hartabenda dan kekayaan dunia semata, baik rakyat umum ataupun para penditanya sendiri. Mereka berebutan pangkat pendita bukan untuk menyiarkan agama Allah, tetapi semata-mata berebutan pangkat dan hartabenda yang terdiri dan emas dan perak. Mereka bukan membela nasib kaum fakir miskin lagi sebagai yang diperintahkan Allah, tetapi malah merampas hak kaum fakir miskin dan orang-orang yang terlantar, bahkan menghisap darah orang melarat dan mencelakakan penghidupan mereka.
Pendita-pendita turut serta menghisap dan memeras. Mereka ajarkan kepada manusia bahawa mengorbankan harta bagi kepentingan pendita, bererti mengorbankan harta bagi Allah, sehingga banyak pendita-pendita yang lebih kaya dari raja-raja. Pendita-pendita itu menutup mata samasekali terhadap nasibnya orang-orang yang fakir dan miskin, terhadap orang-orang yang terlantar, anak-anak yatim dan piatu, terhadap orang yang mendapat kecelakaan. Mereka hanya bertekun didalam gereja-gereja untuk dipuji-puji orang ramai saja.
Agama yang diajarkan Nabi Musa, telah mereka ubah disesuaikan dengan kepentingan mereka sendiri. Banyak yang halal diharamkan dan yang haram dihalalkan. Agama yang menyerang nafsu kebendaan, mereka ubah menjadi agama yang memuji-muji kebendaan, serta melupakan Tuhan.
Rakyat, mereka anjurkan berkorban dan bersedekah untuk Rumah Suci sebanyak-banyaknya, yang sebenarnya bagi kepentingan diri mereka sendiri, sedangkan yang bersedekah itu kebanyakannya orang yang fakir miskin dan orang bawahan yang susah jalan penghidupannya.
Segala rahsia itu dibongkar oleh Nabi Isa. Nabi Isa sedaya-upaya untuk mengembalikan manusia kepada agama yang benar, kepada syariat Nabi Musa yang sebenar-benarnya. Bani Israel yang telah sesat jalannya itu dianjurkan Nabi Isa agar kembali ke jalan yang benar.
NASIB PARA RASUL
Ajaran Nabi Isa berlawanan sungguh dengan kemahuan dan keinginan masyarakat umum dimasa itu. Isa melarang mereka berlazat-lazat dan bersenang-senang, serta umumnya mereka asyik dengan berbagai kemaksiatan dan kejahatan.
Diantara pendita dan orang ramai, memang ada orang yang benar-benar suci dan bersih, ingat dan selalu mengabdikan diri kepada Allah s.w.t. Mereka ini sajalah yang sebenarnya mengakui akan ajakan dan pelajaran yang diberikan oleh Nabi Isa. Mereka inilah yang menjadi pembela, tulang belakang Nabi Isa a.s. dan mereka inilah yang disebutkan Allah dalam al-Quran Ansarullah dan Hawariyun. Sedang lain-lainnya, masyarakat ramai, lebih-lebih masyarakat yang kayaraya, pembesar-pembesar negeri hampir semuanya menentang akan ajakan dan ajaran Nabi Isa, bahkan menghalang dari tersiarnya pengajaran ini, sebab mereka takut akan kehilangan harta dan pangkat serta pengaruh. Nabi Isa mereka dustakan, mereka halangi dengan berbagai cara. Semua ini memang sudah menjadi nasibnya para Nabi dan Rasul Allah, sejak dari Nabi Adam a.s., sampai kepada Nabi Muhammad s.a.w., kerana Nabi-nabi dan Rasul-rasul Allah itu diutus memang untuk merobah keadaan dan susunan masyarakat kepada siapa mereka diutus Tuhan, jadi bukan semata-mata untuk menurutkan kemahuan umat.
Nabi Isa terus-menerus mengajarkan semua yang diperintahkan Allah kepadanya, dari desa ke desa dan dari kota ke kota. Kerana begitu hebat tentangan kaumnya, maka kepada Nabi Isa diberikan Allah beberapa mukjizat yang luarbiasa, agar orang ramai insaf akan kebenaran Nabi Isa sebagai orang yang diutus Allah.
Nabi Isa menggumpal sekepal tanah, lalu ditiupnya, segera tanah itu menjadi burung, terbang ke sana ke mari bersiul-siul, beranak dan berketurunan.
Ramai orang ditimpa penyakit kusta dan tidak seorang juga yang dapat menyembuhkan penyakit itu, sehingga penyakit itu terus-menerus, turun-temurun menyerang sebuah desa. Oleh Nabi Isa semua orang yang sakit bertahun-tahun itu dapat disembuhkan sekaligus dengan sesembuh-sembuhnya. Banyak pula orang yang buta sejak dilahirkan ke dunia ini pun dapat disembuhkan oleh Nabi Isa, sampai dapat melihat seterang-terangnya. Bahkan orang yang sudah mati pun, ada yang dihidupkan Nabi Isa.
Semua itu menjadi dalil dan bukti yang tidak dapat dibantah lagi, atas kenabian dan kerasulan Nabi Isa a.s. bagi orang-orang yang mahu beriman dan percaya. Tetapi bagi musuh-musuhnya, orang-orang yang ditakdirkan Tuhan untuk jadi kayu api neraka, semua kejadian itu dipandangnya sebagai sihir semata-mata, namun Nabi Isa tetap mereka tentang dan musuhi.
Nabi Isa mempunyai kawan dan pula mempunyai lawan. Dengan kawan-kawannya itulah Nabi Isa berjalan ke tempat-tempat yang jauh, menyiarkan pelajaran agama, menolong manusia sengsara. Tetapi sayang, lawannya lebih banyak daripada kawannya dan lawannya ini memusuhinya dengan sehebat-hebatnya, serta mengadakan tekanan dan rintangan seberat-beratnya.
Musuh Nabi Isa bukan saja orang ramai yang telah dihinggapi penyakit kekafiran, tetapi banyak dari pembesar-pembesar negeri yang takut kehilangan pangkat, banyak pendita-pendita yang takut kehilangan pengaruh.
Setelah pendita-pendita sesat itu merasa bahawa Nabi Isa tidak dapat mereka kalahkan dengan debat dan kata-kata, mereka berusaha mencari jalan lain. Pembesar-pembesar negeri sejak dari raja, sampai kepada pembesar-pembesar bawahannya, mereka hasut untuk menyingkirkan Nabi Isa dan masyarakat, dengan tuduhan mengganggu ketenteraman, melenyapkan keamanan negeri dan akan merebut kekuasaan pemerintah.
Pada suatu hari, Isa dan sahabat-sahabatnya itu tiba disuatu daerah padang pasir yang tandus dan kering, jauh dan desa dan kampung, tidak ada manusia dan rumah, sedang persediaan air dan makanan sudah habis samasekali. Padang pasir yang tandus itu tidak mempunyai tempat untuk berlindung, sedang matahari bersinar terik.
Mereka diserang haus dan lapar yang hebat sekali. Mereka lalu duduk berunding, bertukar fikiran, jalan mana yang harus ditempuh untuk keluar dari daerah kering itu, dimana kiranya dan bagaimana caranya mendapat sedikit air untuk dapat mempertahankan hidup mereka. Keadaan mereka lebili sulit lagi, kerana disaat itu pulalah musuh-musuh mereka telah mengepung dan menunggu-nunggu kedatangan mereka untuk dihancurkannya.
Dalam keadaan yang sulit dan rumit itulah Nabi Isa menuangkan pengajaran-pengajaran yang sangat dalam kepada para pengikutnya itu, meresapkan ke dalam jiwa mereka hakikat perjuangan hidup di dunia menjelang mati, merasakan erti hidup yang sebenarnya. Sesungguhnya para sahabat dan Hawariyun itu telah teguh imannya, sudah tidak syak lagi dan ragu-ragu lagi akan kebenaran Nabi Isa dan kerasulannya, tunduk dan patuh menjalankan nasihat dan perintah Nabi Isa, namun mereka masih ingin mendapatkan bukti-bukti dan tanda-tanda yang lebih nyata, semata-mata untuk menambah tebal keimanan mereka. Apalagi sekarang ini benar-benar mereka sedang dalam kesulitan menghadapi musuh dan bahaya lapar yang tidak terhingga.
Mereka lalu berkata kepada Isa: Ya, Isa anak Mariam! Kuasakah Tuhan menurunkan makanan dari langit untuk kami?
Dengan keterangan, bahawa mereka hanya ingin tahu saja, bukanlah kerana kurang percaya dan kurang tegas iman.
Permintaan yang demikian pernah pula dikemukakan oleli pengikut Nabi Ibrahim dahulu. Terhadap permintaan sahabat-sahabatnya itu, Nabi Isa menasihatkan agar mereka jangan hendaknya menuntut mukjizat-mukjizat supaya tuntutan itu janganlah menjadi fitnah terhadap keimanan mereka sendiri.
Nabi Isa memperingatkan mereka sekali lagi kepada mukjizat-mukjizat yang banyak sekali, yang sudah diperlihatkan Nabi Isa kepada mereka.
Mendengar keterangan Nabi Isa itu, mereka lalu berkata: Kami menghendaki yang demikian itu, supaya dapatlah kami memakan makanan yang kami katakan itu dan supaya tetap teguh kepercayaan dalam hati kami, sedang kami mengakui sebenar-benarnya, bahawa engkau orang yang benar, sehingga kami menjadi saksi atas yang demikian itu.
Setelah mendengar perkataan mereka itu, Nabi Isa lalu berdoa kepada Tuhan: Ya Allah, Tuhan kami, turunkanlah makanan dan langit untuk menjadi perayaan besar (hariraya) bagi kami dan orang-orang yang sesudah kami dan pula menjadi bukti kekuasaan Engkau. Berilah kami rezeki, sedang Engkau adalah sebaik-baik pemberi rezeki.
Doa dan harapanan itu dikabulkan Allah. Makanan yang lazat cita rasanya turunlah dari langit untuk mereka santap bersama-sama, diiringi oleh turunnya wahyu Allah: Sesungguhnya Aku turunkan makanan itu kepadamu, tetapi ingat, barangsiapa yang engkar diantara kamu dikemudian hari, akan Aku seksa dengan seksaan yang belum pernah Aku seksakan kepada orang-orang yang hidup didunia ini.
Makanan itu segera mereka santap bersama-sama dengan sekenyang-kenyangnya, sehingga segarlah perasaannya, hilang rasa laparnya, serta kembalilah kekuatan mereka yang sudah penat dan lelah itu. Kejadian itu tersiar pula kemana-mana menambah imannya orang yang beriman dan menambah dengkinya musuh-musuh mereka.
Dalam pada itu kaum Bani Israel, iaitu musuh Nabi Isa dipelopori oleh pendita-pendita mereka sendiri, telah berkumpul untuk mencari daya-upaya cara bagaimana dapat menewaskan Nabi Isa dan pengikut-pengikutnya. Hadir pula dalam rapat besar itu pembesar-pembesar negeri dan raja mereka.
Nabi Isa telah mengetahui lebih dahulu akan rencana-rencana mereka untuk membunuh Nabi Isa itu. Sebab itulah Nabi Isa terus mengembara menghindarkan diri dari tangkapan mereka.
Dalam rapat besar itu, tiba-tiba seorang pemuda yang tangkas mengacungkan tangan minta berbicara untuk mengemukakan pendapat dan usulnya. Pemuda itu Yahuza namanya. Kepadanya diberikan kesempatan membentangkan pandangan dan buah fikirannya.
Dengan tegas pemuda itu lalu mengusulkan, agar Nabi Isa ditangkap dan dibunuh saja. Dia sendiri telahpun mengetahui akan tempat Nabi Isa dan pengikut-pengikutnya itu bersembunyi. Dia sendiri menyanggupkan dirinya untuk menjadi pelopor dalam penangkapan dan pengepungan itu.
Fikiran yang dikemukakan pemuda itu, dengan segera mendapat persetujuan dari yang hadir dengan sambutan yang meriah sekali. Apalagi orang banyak sudah lama tidak mendengar, di mana Isa sedang berada, tiba-tiba pemuda itu menerangkan, bahawa dia mengetahui tempat Nabi Isa. Pemuda itu mendapat pujian setinggi langit. Orang banyak datang berduyun-duyun mencium tangan pemuda itu dan menjanjikan kepadanya apa saja yang dia kehendaki, bila dia telah berhasil dapat menangkap Nabi Isa serta membunuhnya.
Raja lalu menyiapkan tentera dan perbekalan, untuk dikerahkan menangkap Nabi Isa, dibawah pimpinan pemuda itu. Dalam pada itu pendita-pendita dan pembesar-pembesar negeri yang benci kepada Isa, berpropaganda kepada orang banyak untuk membenci Nabi Isa, dan menuduhnya sebagai pengacau, serta perusak agama dan negara.
Nabi Isa dan pengikut-pengikutnya telah mengetahui itu semua. Tahu bahawa tentera raja dan banyak orang telah siap mencari-cari mereka, ke mana saja mereka pergi.
Nabi Isa dan pengikut-pengikutnya, dengan sembunyi-sembunyi dan menyeludup pindah dari sebuah tempat ke lain tempat, agar jangan sampai diketahui oleh musuh-musuhnya. Akhirnya Nabi Isa dan pengikut-pengikutnya itu terperosok ke sebuah daerah yang telah dikepung oleh musuh disekitarnya. Tidak ada jalan keluar untuk melepaskan diri dan kepungan. Tidak ada jalan lain, selain bersembunyi dibelukar yang ada dalam sebuah kebun yang luas dalam daerah kepungan itu.
Disaat yang amat kritikal, dipuncak segala krisis, tidaklah hairan kalau banyak diantara pengikut Nabi Isa a.s. yang masih kurang kuat imannya, sama mencuba menghindarkan diri dari bahaya maut. Pengikut Isa a.s. berkurang satu demi satu. Akhirnya hanya tinggal 12 orang, yang menyanggupkan diri untuk tetap bersama Isa a.s. dalam keadaan yang bagaimanapun. Mereka yang 12 orang inilah yang dinamai Allah di dalam al-Quran dengan al-Hawariyun, iaitu pengikut-pengikut atau sahabat-sahabat yang setia.
Di saat itu Nabi Isa a.s. mulai mengeluh dan berkata: Siapakah gerangan yang akan menjadi pembelaku? Keluhan Isa itu dijawab oleh Hawariyun tersebut dengan kata: Kami siap untuk membela dan bersamamu menegakkan agama Allah.
Tentera musuh makin dekat jua dan musuh rupanya sudah tahu, bahawa Nabi Isa dan pengikut-pengikutnya berada di tempat itu. Ketika itulah pengikut-pengikut Nabi Isa mendapat ujian yang sebesar-besarnya. Terbuktilah, bahawa diantara pengikutnya ada yang tidak tahan, ada juga yang teguh imannya. Seorang demi seorang para pengikutnya meninggalkan Isa, lalu meminta perlindungan dari musuh. Mereka lari dengan tidak minta izin dan tidak memberitahu lebih dahulu kepada Isa. Lupalah mereka ketika itu akan pemimpin besar yang selama mi mereka puja dan ikutinya.
Akhirnya salah seorang dari pengikut yang lari ini pulalah yang telah belot, menunjukkan tempat bersembunyinya Nabi Isa kepada musuh-musuh itu.
Kepungan makin dipersempit, kerana sudah nyata dimana tempat Nabi Isa bersembunyi. Dengan dipelopori oleh pemuda Yahuza, musuh makin mempersempit kepungan mereka.
Yahuza sebagai pelopor, lalu menyerbu masuk sendirian ke dalam belukar dimana Nabi Isa sedang bersembunyi. Dia ingin menangkap Nabi Isa dengan tangannya sendiri.
Baru saja pemuda itu menyerbu ke tempat persembunyian Nabi Isa, Tuhan memperlihatkan kekuasaanNya. Mata musuh tidak dapat melihat Nabi Isa, sedang pemuda Yahuza yang telah menyerbu sendirian itu, dirobah Allah mukanya menjadi serupa dengan muka Nabi Isa.
Tepat disaat itu tentera musuh menyerbu masuk, mereka melihat Yahuza yang berbentuk Nabi Isa itu segera ditangkapnya serta dipukulinya, lalu mereka gantung ditiang gantungan yang berupa salib. Ditiang salib itulah orang tangkapan yang mereka kira Nabi Isa itu, mereka pakukan, lalu dilemparinya dengan batu, serta dipukulinya dengan kayu, sehingga darah tertumpah sebanyak-banyaknya. Akhirnya tangkapan itu matilah di tiang salib itu.
Nabi Isa yang sebenarnya terlepas dan tangkapan itu, tetapi orang ramai dan musuh tidak mengetahuinya. Kepada Nabi Muhammad diwahyukan Allah apa yang sebenarnya terjadi di saat itu.
Firman Allah di dalam al-Quran:
Kata mereka, mereka telah membunuh al-Masihi Isa Anak Mariam, seorang yang menjadi Rasul Allah. Yang sebenarnya mereka tidaklah membunuh Nabi Isa dan pula menyalibkannya, tetapi telah menyalibkan seorang lain yang diserupakan Allah dengan rupa Nabi Isa. Orang-orang yang berselisihan tentang Nabi Isa ini, yang sebenarnya masih dalam keraguan, bukanlah dengan pengetahuan yang yakin, hanya dengan menduga belaka. Bukanlah mereka telah membunuh Nabi Isa yang sebenarnya. Allah telah mengangkatkan Nabi Isa kepadaNya, Allah itu Maha Agung dan Maha Bijaksana.
Dan firmanNya lagi:
Mereka (orang-orang kafir) membuat rencana (untuk membunuh Nabi Isa), sedang Allah juga membuat rancangan (untuk menghindarkan Nabi Isa dari dibunuh), akhirnya rencana Allah jugalah yang terjadi, kerana Allah adalah sepandai-pandai perencana.
Ingatlah tatkala Allah bersabda: Hai Isa, Aku akan ambil kamu, dan akan angkatkan kamu kepadaKu, dan akan membersihkan kamu dari (tangan-tangan) orang-orang yang kafir itu dan akan jadikan orang-orang yang mengikut kamu itu diatas orang-orang yang kafir itu sampai hari kiamat dan kemudian kepadaKu jualah tempat kembali kamu. Nanti Aku akan tetapkan keputusan tentang segala perkara yang kamu perselisihkan.
Selain ayat-ayat yang tersebut diatas ini, ada banyak lagi ayat-ayat didalam Kitab Suci al-Quran yang menerangkan bahawa Allah telah angkat Nabi Isa kepadaNya dan bahawa Allah akan turunkan Nabi Isa kembali untuk diimani oleh semua ahli Kitab. Di samping ayat-ayat al-Quran, tidak sedikit jumlah Hadis-hadis yang sahih menerangkan bahawa Isa akan turun kembali.
Dengan alasan-alasan tersebut, maka ijmak sekalian Sahabat, Tabiin dan Mujtahidin, bahawa Isa masih hidup dan akan turun.
Firman Allah dalam al-Quran, surah Ali-Imran 55:
(Ingatlah) tatkala Allah berfirman: Hai Isa, sesungguhnya Aku (Allah) akan mengambil engkau dan akan mengangkat engkau kepadaKu serta akan membersihkan engkau dari mereka yang kafir itu.
Perkataan Allah Aku ambil dan Aku angkat engkau kepadaKu dalam ayat tersebut di atas, diulangi Allah lagi dalam ayat-ayat lainnya, dan beberapa Hadis Sahih yang menerangkan bahawa Isa a.s. akan diturunkan kembali, menjadikan para Sahabat, Tabiin dan Mujtahidin sepakat mengatakan bahawa Nabi Isa masih hidup di langit, dan suatu waktu nanti akan turun lagi ke bumi.
PENGIKUT-PENGIKUT ISA AL-MASIHI
Iman al-Kisaie (Abu Bakar Muhammad bin Abdullah) yang hidup dalam abad ke 11 Masihi, dan menulis kitab Qisasul Anbiya, bahawa Nabi Isa a.s. pernah melalui (menjumpai) suatu kelompok manusia yang sedang menangkap ikan. Nabi Isa lalu memberikan pelajaran kepada mereka, agar mereka jangan hanya hidup untuk didunia ini saja. Diterangkannya pula kepada mereka tentang kehidupan diakhirat dengan Syurganya, dan ajaran-ajaran serta kepercayaan lainnya. Akhirnya empat orang dari kaum penangkap ikan ini beriman kepada Isa a.s. dan menjadi pengikutnya. Mereka itu ialah Syimun dan saudara lelakinya yang bernama Andirius, Yaqub dan Yuhanna.
Kemudian Nabi Isa a.s. melalui pula suatu kelompok manusia yang sedang mencuci pakaian mereka disungai. Nabi Isa berkata kepada mereka: Hai kaum, kamu mencuci pakaian itu dan membersihkannya dan kotoran-kotoran yang melekat padanya. Apakah kamu tidak mahu membersihkan hatimu itu? Mereka pun beriman dan menjadi pengikut Isa a.s. Mereka adalah: Lukas, Thomas, Markus dan Yuhanna dan beberapa saudara mereka yang masih kecil, di antaranya juga yang bernama Syimun dan Yaqub.
Mereka itu semualah yang menjadi pengikut-pengikut yang setia dan yang disebut Hawariyun dalam al-Quran menurut al-Kisaie. Mereka semua berjumlah 12 orang. Akhirnya datang pula seorang lainnya yang bernama Judas, yang belum pernah mendengarkan akan perkataan-perkataan atau ajaran Isa a.s., tetapi turut beriman kerana ajakan orang-orang yang telah beriman lebih dahulu. Hanya setelah Isa dan pengikutnya mengalami pengepungan yang amat kritikal sebagai yang telah kita terangkan sebelum ini, Judas ini murtad, menyeleweng, meninggalkan Isa dan pengikut-pengikutnya lalu mengkhianati Isa a.s dengan memberitahukan tempat persembunyian Nabi Isa kepada musuh-musuhnya, iaitu orang-orang Yahudi, sehingga mereka menyerbu tempat persembunyian itu.
Menurut sejarah, Nabi Isa diangkat Allah menjadi Nabi dan Rasul dalam umur 30 tahun. Setelah menyiarkan ajarannya selama tiga tahun atau lima tahun, terjadilah pengepungan, yang menurut kaum Nasrani, Isa tertangkap dan disalib.
Jadi Nabi Isa menyebarkan ajarannya itu hanya dalam waktu tiga atau lima tahun saja, yang selalu diancam oleh orang Yahudi untuk dibunuh, sehingga menjadikan Nabi Isa selalu berpindah-randah tempat untuk menghindari penangkapan atau pembunuhan terhadap diri beliau. Kerana keadaan yang demikian itu, pengikut-pengikutnya tidak banyak, dan pelajaran yang disampaikannya pun tidak teratur, serta orang-orang yang menerima pelajaran dari beliau itu berbagai-bagai peringkat kecerdasannya, berbagai-bagai pula lamanya masing-masing mereka bergaul dengan Isa al-Masih a.s.
Sesudah Nabi Isa as. diangkat Allah ke langit, maka hanya tinggal para pengikut yang setia ini sajalah, yang dengan sekadar ilmu yang ada pada masing-masing mereka, mereka ajarkan lagi ajaran Isa al-Masih a.s. itu. Juga dalam keadaan bersembunyi, tidak aman dan tidak bebas.
Diantara mereka, ada pula yang menuliskan apa yang mereka ketahui itu. Dan dari tulisan-tulisan mereka inilah nantinya yang dijadikan Kitab Suci yang mereka namai Injil. Masing-masing Injil itu mereka namai dengan nama penulisnya. Di antaranya ada Injil Mathius, Injil Yuhanna, Injil Lukas, Injil Barnaba dan banyak lagi Injil-injil yang lainnya. Tentu saja Injil-injil itu tidak sama antar satu sama lain, sebab hanya merupakan catatan dari masing-masing pencatat saja, selama mereka bergaul dengan Nabi Isa, atau semata-mata hanya khabar atau cerita yang sampai kepada mereka saja tentang Nabi Isa a.s. Sebab tidak semua penulis Injil itu adalah Sahabat (Hawari), malah banyak pula penulis-penulis Injil yang tidak pernah bertemu samasekali dengan Isa, bahkan tidak pula dengan para Sahabat atau Hawari.
Tidak hairanlah kalau beberapa abad kemudian, ajaran yang diajarkan mereka menjadi bersimpang-siur, menjadikan mereka berpecah-belah tentang kepercayaan. Ada diantara mereka yang mengatakan bahawa Isa al-Masih a.s. adalah sebagai Nabi dan Rasul sebagaimana juga Nabi-nabi dan Rasul-rasul yang datang sebelumnya. Tetapi ada pula diantara mereka yang melebihkannya kerana Isa tidak punya bapa, menganggap Isa sebagai anak Allah. Juga tentang ibunya yang bernama Mariam dan Malaikat Jibril (Ruhul Kudus) yang mendatangi Mariam. Bahkan timbul kepercayaan yang mengatakan bahawa Isa adalah Allah yang menjelma menjadi anak manusia melalui perut seorang wanita suci iaitu ibunya, Mariam. Bahkan timbul lagi kepercayaan bahawa Malaikat Ruhul Kudus yang menyampaikan berita kelahiran Isa kepada Mariam itupun adalah Allah menjelma pula. Akhirnya timbullah kepercayaan Trinitas; iaitu Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Ruhul Kudus. Oleh orang-orang yang datang kemudian ditafsirkan bahawa Allah Bapa itu Tuhan 100%, Allah Putra, iaitu Jesus (Isa) itu Tuhan 100% dan Allah Ruhul Kudus (Malaikat Jibril) adalah Tuhan 100% pula. Bahkan ada yang mempercayai bahawa Mariam ibunya, adalah Tuhan pula, sebab ia melahirkan Tuhan iaitu Tuhan Jesus.
Kekacauan yang menimpa pengikut-pengikut Isa al-Masih a.s. itu menimbulkan kekacauan yang menyebabkan pertumpahan darah yang terus-menerus dalam waktu berabad-abad lamanya dikalangan mereka. Sehingga manusia berada kembali dalam kegelapan, iaitu kegelapan kepercayaan.
Untuk melenyapkan kegelapan itulah akhirnya diutus Allah Nabi dan Rasul terakhir, iaitu Muhammad s.a.w. dengan membawa Kitab Suci al-Quran, untuk membetulkan semua kitab yang salah, yang dianggap orang Kitab-kitab Suci, yang ada tersebar sebelum lahirnya Nabi Muhammad s.a.w.
Diantara ayat-ayat al-Quran yang ada hubungannya dengan kepercayaan-kepercayaan orang yang mengaku pengikut Nabi Isa a.s. berbunyi sebagai berikut (ertinya): Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini adalah hamba Allah. Allah beri kepadaku Kitab, dan Allah menjadikan aku Nabi. Allah jadikan aku orang yang berbakti dimana saja aku berada. Allah wajibkan kepadaku mendirikan sembahyang, dan mengeluarkan zakat selama aku hidup. Allah jadikan aku berbakti terhadap ibuku, dan Allah tidak jadikan aku menjadi orang sombong dan celaka. Dan keselamatan tercurah atasku pada hari aku dilahirkan, serta pada hari matiku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup diakhirat nanti. Ya itulah Isa anak Mariam. Allah firmankan perkataan-perkataan yang penuh berisi kebenaran, kerana banyak manusia yang berselisih tentang dia dan ragu-ragu. Tidaklah layak bagi Allah mempunyai anak. Maha Suci Ia. Bila Ia menghendaki sesuatu, Ia hanya berkata: Jadilah, maka terjadilah sesuatu yang dikehendakiNya itu. (Berkata Isa): Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kamu, maka sembahlah Ia (Allah saja), inilah jalan yang lurus (benar). Maka timbullah perselisihan diantara golongan manusia. Maka celaka besarlah orang-orang kafir dihari yang amat hebat nanti. Dihari itu mereka akan datang kepada Kami, dan alangkah terangnya mereka dapat mendengar dan melihat dihari itu. Tetapi orang-orang zalim yang hidup sekarang ini tetap dalam kesesatan yang nyata. Dan ancamlah mereka (Hai, Muhammad) dengan kepastiannya hari yang penuh dengan dukacita itu, iaitu tatkala sudah diputuskan segala perkara. Mereka tetap lalai dan tidak mahu percaya. Sesungguhnya Kamilah yang memiliki bumi dan apa-apa yang terdapat diatasnya. Dan akhirnya kepada Kami jualah mereka itu akan kembali.
(Mariam: 3040)
Dan ingatlah ketika Isa Anak Maryam berkata: Hai, Bani Israel, sesungguhnya aku ini Rasul Allah yang diutus kepada kamu, membenarkan apa yang dihadapanku (iaitu Kitab Taurat) dan memberi khabar gembira akan kedatangannya seorang Rasul sesudahku namanya Ahmad (iaitu Muhammad). Tetapi tatkala Rasul itu datang kepada mereka membawa keterangan, mereka berkata: Ini adalah sihir semata." (as-Saff: 6)
Hai, Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), sungguh sudah datang kepadamu Rasul Kami (Nabi Muhammad) menerangkan banyak perkara yang kamu (nenek-moyangmu) sembunyikan dan isi al-Kitab (Taurat dan Injil) dan banyak pula yang kamu hapuskan (kerana memberatkan kamu) sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya yang terang dan Kitab Suci (al-Quran dan Allah).
(al-Maidah: 5)
Hai, Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu. Janganlah kamu berkata tentang Allah selain perkataan yang benar. Sesungguhnya ia Anak Mariam itu adalah Rasul Allah dan (kejadian Isa itu adalah disebabkan) kalimahNya, yang diletakkan pada Mariam (untuk menghamilkannya) bersama roh daripadaNya. Berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya. Janganlah kamu katakan Allah itu bertiga (Trinitas). Berhentilah kamu dan perkataan yang demikian, itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah hanya Satu (Maha Tunggal). Maha Suci Ia daripada mempunyai anak. KepunyaanNyalah apa saja yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi. Dan cukuplah Allah itu saja sebagai Pelindung (Saksi). (an-Nisa: 171)
Berkata orang-orang Yahudi: Uzair anak Allah. Dan berkata orang-orang Nasrani: Isa al-Masihi anak Allah. Yang demikian itu adalah omongan mereka dengan mulut mereka, menyerupai perkataan orang-orang kafir yang dahulu, yang telah dibinasakan oleh Allah. Hairan mengapa mereka dipalingkan begitu rupa. Mereka menjadikan guru-guru dan pendita-pendita mereka sebagai Tuhan selain Allah. Dan begitu juga terhadap Isa Al-Masihi Anak Mariam. Padahal mereka tidak diperintah selain untuk menyembah Allah yang Maha Esa, yang tiada Tuhan selain Dia. Maha Suci Ia dan apa-apa yang mereka sekutukan.
(at-Taubah: 3031)
Maksud turunnya Isa itu adalah untuk menerangkan kepada orang-orang yang mengaku mengikuti pelajaran Nabi Isa, tetapi telah membelok dari ajaran Nabi Isa yang sebenarnya. Lebih-lebih untuk menegaskan kepada mereka bahawa Isa tidak pernah mengajarkan bahawa dia adalah Tuhan atau anak Tuhan dan untuk menegaskan kepada ummat manusia, bahawa Muhammad s.a.w. adalah Rasul Allah yang terakhir yang harus diimani dan diikuti dan bahawa al-Quran al-Karim adalah Kitab Suci yang mencakupi seluruh Kitab-kitab Suci yang sebelumnya dan bahawa Islam adalah ajaran semua Nabi dan Rasul yang pernah diutus Tuhan ke permukaan bumi ini.
Dengan alasan yang tersebut diatas inilah, maka ummat Islam percaya, bahawa Nabi Isa a.s. tidaklah mati terbunuh ditiang salib sebagai kepercayaan ummat Nasrani sekarang ini. Kerana selain ayat-ayat al-Quran yang amat jelas tersebut diatas itu, tidak mungkin menurut kepercayaan setiap orang Islam, seorang Nabi dan Rasul Allah yang begitu benar dan mulianya, akan dapat ditangkap, serta dibunuh dengan pembunuhan kejam, di luar penkemanusiaan itu.
Allah yang Maha Kuasa pasti telah dapat menyelamatkan Nabi dan RasulNya yang bernama Isa al-Masihi, dan perlakuan yang tidak sewajarnya ini.
Kalau ummat Islam dan ummat Nasrani berlainan kepercayaan tentang kedua masalah ini (iaitu tentang ketuhanan Isa dan tersalibnya Isa) ummat Islam tidak diperbolehkan bertengkar dan berdebat dengan ummat Nasrani tentang masalah ini. Kerana masalah ini seratus peratus masalah ghaib, yang tidak mungkin dapat diselesaikan dengan bertengkar dan berdebat.
Dengan ayat-ayat yang tersebut diatas, ummat Islam menunggu sampai datang saatnya nanti di hari kiamat, dialam akhirat, dimana Allah akan menetapkan putusan tentang masalah yang sedang diperselisihkan sekarang ini, antara ummat Islam, ummat Nasrani dan ummat Yahudi.
Marilah kita sama menunggu saat yang dijanjikan Allah itu dengan sabar dan menjauhkan diri dari sengketa, berjalan dan hidup dengan kepercayaan masing-masing.
Tetapi bila perdebatan mengenai masalah-masalah yang diperselisihkan itu dapat dijamin akan berjalan secara baik, dijamin tidak akan membangkitkan nafsu-nafsu yang tidak dapat dikendalikan, maka setiap saat ummat Islam diperbolehkan menghadapinya.
Firman Allah dalam al-Quran:
Serulah manusia kejalan Allah dengan bijaksana dan nasihat-nasihat yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmulah yang lebih mengetahui akan orang-orang yang sesat dari jalanNya dan Ialah pula yang lebih tahu akan orang-orang yang benar (mendapat petunjuk). Dan jika kamu terpaksa harus membalas seksaan, maka balaslah dengan pembalasan yang sebanding dengan apa yang telah mereka seksakan kepadamu. Dan jika kamu sabar (tidak membalas) maka itulah yang lebih baik, bagi orang-orang yang sabar. Dan sabarlah engkau dan tidaklah engkau dapat bersabar, kalau bukan kerana Allah. Dan janganlah engkau berdukacita terhadap mereka dan janganlah engkau berkecil hati lantaran tipu daya mereka. Sesungguhnya Allah beserta dengan orang yang taqwa dan orang yang berbuat kebaikan.
(an-Nahal: 125-129)
Pada suatu hari Mariam sedang beribadat di tempatnya sebagai kebiasaannya, tiba tiba dihadapannya berdiri seorang lelaki. Alangkah terkejut dan terperanjatnya, kerana selama hidup
dan selama dia berada di tempat itu, belum pernah dia mendapat kunjungan seorang lelaki selain Zakaria.
Mariam nampaknya mahu berpaling dan menghindarkan diri kerana menurut kiraan Mariam lelaki itu adalah seorang jahat yang berniat buruk terhadap dirinya, sedang dia sendiri adalah seorang suci dan penuh iman. Mariam berlindung diri kepada Allah dengan berkata: Sesungguhnya saya melindungkan diri kepada Allah dan kejahatan engkau, sekiranya engkau seorang yang takut kepada Allah.
Orang yang tidak dikenal itu memberikan isyarat, agar supaya Mariam tinggal tenang jangan takut dan khuatir. Lalu orang itu berkata kepada Mariam: Sesungguhnya saya ini datang diutus oleh Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak yang suci.
Dengan muka yang diselubungi kesedihan, hati yang penuh hairan dan khuatir, mulut dan lidahnya rasa terkunci, akhirnya dapat juga Mariam menjawab: Bagaimana saya akan memperolehi
seorang anak, sedang seorang manusia pun belum pernah menyentuh tubuh saya dan saya bukan seorang yang jahat.
Mendengar jawapan itu, Malaikat (Ruhul Kudus) itupun berkata: Demikianlah halnya; Tuhanmu telah berfirman: Perkara itu amat mudah bagiKu, supaya Kujadikan itu tanda kekuasaanKu untuk manusia dengan rahmatKu. Kejadian itu bukanlah satu hal yang tidak dapat diluluskan.
Sehabis jawaban itu, Malaikat itupun lenyaplah dari pemandangan Mariam, tidak diketahui ke mana perginya. Tinggallah sekarang Mariam seorang diri kehairanan memikirkan apa yang sudah dilihat dan didengarnya itu.
Mulailah dia khuatir lagi, kekhuatiran yang lain pula sifatnya dan kekhuatirannya semula tadi. Sudah pasti orang ramai akan heboh dan bising, bila mereka mendengar bahawa Mariam menjadi hamil. Apalagi kalau melahirkan anak dengan tidak mempunyai suami. Fikiran ini sangat menggoyangkan perasaan Mariam, sebab ini bukanlah masalah kecil bagi seorang yang suci murni sebagai Mariam. Badannya gementar memikirkan bagaimana akhirnya kejadian ini.
Dia benar benar merasa sesuatu dalam kandungannya. Untuk menghindarkan apa yang akan terjadi sebagai yang dikhuatirkannya itu, Mariam memutuskan akan menjauhkan diri ke luar kota,
mengasingkan diri di tempat yang jauh dan terpencil, yang sunyi sepi. Maksudnya itu diteruskannya dengan mengambil satu tempat jauh di desa, dimana dia tinggal seorang diri berhati sedih bercampur
takut, memikirkan kejadian yang akan terjadi bila dia sudah melahirkan bayi kandungannya, bayi yang tidak berbapa.
Beberapa bulan berlalu, kandungannya makin terasa mendekati waktu bersalin. Semakin dekat waktunya bersalin, semakin hebat pulalah penderitaan batin yang dideritanya, sehingga makan dan minum tidak berasa enak lagi. Makanan dimakannya berasa sekam, air diminum berasa duri.
KESEDIHAN YANG MEMUNCAK
Di dalam sebuah pondok didesa yang jauh terpencil, dia menyembunyikan diri dari pandangan dan pendengaran orang ramai, agar rahsia ajaib yang sudah ada dibatang tubuhnya jangan sampai diketahui orang, tidak dilihat sebuah mata dan tidak didengar sebuah telinga pun.
Setelah terasa betul oleh Mariam, bahawa waktu yang ditunggu-tunggunya itu sudah dekat, tanda-tanda yang dia akan melahirkan seorang anak telah cukup, maka disaat itulah kesedihan
hatinya, kekhuatiran dan ketakutannya memuncak hebat sehebat-hebatnya. Ketika itulah dia mengeluh sambil berkata: Maha Penyantun Engkau, ya Tuhanku. Takdir apakah gerangan yang akan terjadi, kejadian apakah akan terjadi dibalik malam yang gelap ini.
Mariamlah seorang manusia yang paling berat ditimpa beban pemikiran di saat itu. Dia berasal dari keturunan yang baik-baik dan kukuh kuat. Bapanya seorang yang suci terhormat, ibunya pun demikian pula. Dia sendiri pun seorang yang suci murni dan ini sudah cukup dikenal dan diakui orang ramai. Tetapi sudah cukupkah kesemuanya itu menjadi jaminan baginya terhadap tuduhan orang
ramai? Apakah orang ramai tidak akan menuduhnya dengan tuduhan yang bukan-bukan terhadap dirinya, sekiranya dia melahirkan anak dengan tidak berbapa? Dapatkah gerangan semuanya itu melenyapkan seluruh tohmahan yang akan tumbuh itu? Atau dituduh orang jugakah dia melakukan perbuatan jahat dan mesum? Akan dituduh dia mencemarkan nama baik ibu-bapa dan nenek-moyangnya yang suci murni.
Semua itu amat berat untuk difikirkan dan dipecahkan oleh Mariam yang hanya seorang diri yang pula menderita sakitnya mahu bersalin. Jasadnya menanggung tanggungan yang paling berat, sedang jiwanya pula sedang menanggung tanggungan yang lebih berat lagi. Dua beban berat yang harus dipikul sekaligus.
Tetapi bagaimana juga berat dan hebatnya derita lahir dan batin yang dideritanya, rasa ibadat dan taqwa kepada Allah telah dapat menolong dia dalam menanggung semua penanggungan itu, pananggungan yang maha berat dan rumit.
Ya, dia akan melahirkan seorang yang amat mulia dan amat agung, maka penanggungan dan penderitaan yang amat berat dan hebat harus ditanggungkannya pula untuk melahirkannya. Itu
sudah menjadi adat alam sunnah Ilahi kiranya.
KELAHIRAN ISA AL-MASIHI
Setelah Mariam merasakan betul bahawa kandungannya sudah dekat sekali akan lahir, maka dia tinggalkan pondok tempat dia mengasingkan diri itu. Dia berjalan meninggalkan desa yang terpencil itu, mencari tempat yang lebih suci dan sepi lagi. Disuatu tempat dipadang pasir, dibawah sebatang pokok korma, dia lalu berhenti. Disitulah dia duduk seorang din menantikan takdir, tidak ada kawan dan bidan atau tabib yang akan menolong dia, bila ditimpa sakit atau kesulitan dalam melahirkan bayi kandungannya.
Dalam keadaan demikian, dibawah langit terbuka, ditengah sawang padang pasir yang luas, dengan tidak ditemani seorang manusia pun, selain temannya yang bernama iman dan taqwa tibalah saat yang ditunggu-tunggunya. Seorang anak bayi lelaki pun lahirlah ke atas dunia yang luas terbuka ini, seorang bayi yang akan menjadi manusia suci dan berpengaruh besar.
Dengan perasaan terharu-biru dan cemas sedih, dipandangnyalah wajah anak bayinya yang baru lahir itu. Dengan keadaan tubuh yang lesu-lunglai bekas bersalin, fikiran dan perasaan yang semakin diliputi cemas dan khuatir, timbullah berbagai-bagai kegelisahan batin yang tak terbada, sehingga dia mengeluh: Aduhai nasibku ini. Lebih baik kiranya aku mati sebelum ini, tentu aku dilupakan manusia selupa-lupanya.
Fikirannya bingung tidak tahu apa yang harus dikerjakannya. Badannya lesu dan lemah longlai segala sendi dan tulang-belulangnya, ditambah lagi dengan rasa lapar dan dahaga yang tak terkirakan hebatnya
sehabis melahirkan bayinya itu. Dia lalu menyandarkan dirinya ke pokok korma yang kering itu, sambil memangku anak bayinya dengan kedua tangannya yang lemas itu.
Baru saja biji matanya tertuju ke wajah bayinya, tiba-tiba Mariam mendengar suara yang jelas dan dekat, memanggilnya: Hai Mariam, janganlah engkau terlalu berdukacita. Sesungguhnya Tuhanmu sudah mengadakan didekatmu sebuah anak sungai yang kecil dan goncangkanlah batang korma yang engkau sandari itu, nescaya akan berguguranlah buah-buahnya yang sudah masak. Maka makanlah dan minumlah dan tenangkanlah hatimu. Lantas kalau engkau ditanya seseorang, maka berkatalah kepadanya: Aku bernazar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, bahawa aku akan diam, tidak akan berkata-kata kepada siapapun juga di hari ini.
Setelah mendengar suara itu, Mariam melihat tanah yang berada di sisinya menjadi retak dan dari retakan itu mengalir air yang amat jernih, merupakan anak sungai yang kecil, tepat sebagai yang didengarnya dan suara tadi.
Matanya lalu dialihkannya ke arah batang korma yang disandarnya itu. Di atas pohon korma itu jelas dilihatnya buah-buah korma yang sudah masak. Dengan tangannya yang masih lemah dan tidak berdaya itu, cuba menggerakkan batang korma yang kukuh itu. Batang korma itu bergerak dengan kerasnya, sehingga buah-buahnya yang masak itu berguguran didekatnya.
Dimakannya buah dan diminumnyalah air yang jernih itu. Dengan demikian hilanglah lapar dan dahaganya, badannya kembali beransur-ansur menjadi kuat dan segar kembali, fikirannya mulai menjadi tenang pula.
Sungguh besar pertolongan Tuhan terhadap Mariam. Buah korma yang matang untuk dimakan dan air jernih untuk diminum. Tetapi cukupkah kiranya mukjizat Tuhan yang maha besar ini dijadikan perisai untuk menjawab tuduhan orang nantinya? Cukupkah ini untuk menutup mulut orang yang mahu menuduh? Kesedihan dan kegelisahan Mariam tidak berkurangan hanya badannya sudah berasa lega dan waras mendapat makan dan minum yang luarbiasa itu.
Matanya tidak putus-putusnya memandang wajah anaknya yang baru lahir. Luarbiasa keadaan dan hal ehwalnya. Pandangannya ke wajah bayi itulah hanya satu-satunya yang dapat menghiburkan hatinya yang duka, sehingga hatinya agak tenteram pula sedikit, sedang badannya semakin kuat juga.
Kembalilah dia ke desa tempat dia mengasingkan din, meninggalkan tempat dia bersalin yang sekarang ini dinamakan orang Baitullaham (Bethlehem), ertinya tempat lahir. Mulailah orang yang tidak jauh tinggal dan rumahnya itu mengetahui khabar kelahiran bayinya. Tak lama kemudian, khabar itupun tersiarlah dengan cepatnya ke seluruh pelosok negeri.
BAYI BERBICARA
Orang-orang lalu datang berduyun-duyun, dan jauh dan dekat, ingin menyaksikan sendiri kabar yang luarbiasa itu. Mariam dihujani orang ramai dengan pertanyaan-pertanyaan. Dia tidak menjawab, hanya berkata sebagai apa yang telah diwahyukan Tuhan kepadanya, bahawa dia berpuasa dan bernazar tidak akan bercakap-cakap sehari itu.
Berbagai-bagai kata orang ramai tentang Mariam dan kejadian itu. Ada yang amat hairan atas keluarbiasaan kejadian itu. Ada pula memandang kejadian itu sebagai tanda kesucian dan kebesaran Mariam. Tetapi banyak pula yang mengejek-ejek dengan pelbagai tuduhan sebagai yang telah dikhuatirkan Mariam sendiri. Semuanya itu didengarkan dan dibiarkannya saja dengan sabar dan tenang, sesuai dengan petunjuk Tuhan kepadanya.
Keesokan harinya, mereka pun datang pula bertanyakan ini dan itu, mengatakan apa yang terasa dalam hati dan batin mereka masing-masing. Mereka tahu bahawa nazar Maryam sudah habis waktunya. Berbagai-bagai cara dan isi pertanyaan mereka. Ada yang bertanya: Hai Mariam, sesungguhnya engkau telah membawa sesuatu yang mungkar!
Ada pula yang mengejek: Hai saudaranya Harun, bapamu bukanlah orang yang jahat, sedang ibumu pun bukan perempuan jalang! Dari manakah engkau perolehi anak ini?
Banyak lagi pertanyaan yang mengejek dan kasar-kasar yang dihadapkan kepada Mariam. Akhirnya Maryam berdiri mengambil anak bayinya, lalu berkata kepada mereka: Ini adalah anakku, tanyakanlah kepadanya hakikat kejadian yang sebenarnya, yang tuan-tuan tanyakan itu.
Orang ramai hairan dan tercengang mendengarkan jawapan Mariam yang tidak masuk akal itu. Mereka lalu berkata: Bagaimana kami dapat berbicara dengan bayi yang masih dalam ayunan itu?
Mendengar ejekan yang berturut-turut itu, lalu Allah memperlihatkan kekuasaanNya untuk mukjizat yang sebesar-besarnya bagi bayi yang bernama Isa al-Masihi itu dikala besarnya. Di saat itulah bayi Isa a.s. yang masih kecil itu berkata dengan terang kepada orang banyak: Sesungguhnya aku ini seorang hamba Allah, akan diberinya kepadaku sebuah Kitab (Injil) dan dijadikanNya aku seorang Nabi. DijadikanNya aku seorang yang berguna buat manusia dimana aku berada, diwasiatkanNya kepadaku berbuat dan mengerjakan sembahyang dan mengeluarkan zakat selama aku hidup. Dan aku berbakti kepada ibuku, tidaklah aku dijadikan Tuhan seorang yang sombong dan derhaka. Selamatlah diriku ketika aku dilahirkan dan ketika aku mati dan ketika aku kembali hidup.
Barulah sebahagian orang ramai itu insaf dan percaya, yakin akan kesucian Mariam, akan kebesaran dan keagungan bayi yang baru lahir itu. Khabar kesucian dan keagungan bayi itupun tersiarlah ke mana-mana, sehingga setiap orang menunggu-nunggu akan besarnya anak itu, sebagai seorang Utusan Allah (Rasul) buat mereka.Nabi Isa al-Masihi yang dipopularkan orang Kristian dengan nama Jesus Kristus itupun makin sehari makin besar juga. Di kala dia masih berupakan seorang anak yang di bawah umur, telah banyak tampak tanda-tanda kebesaran dan keluarbiasaannya.
Pada suatu hari, ketika Isa sedang bermain-main dengan teman-teman sebayanya, tiba-tiba Isa menerkai semua apa yang disimpan dalam poket seluar dan dirumah mereka masing-masing, dengan tekaan yang tepat dan tidak salah sedikit juga.
Kadang-kadang Isa berlaku sebagai guru terhadap teman-teman sebayanya itu, mengajarkan apa-apa yang mereka itu semua tidak mengetahuinya. Semua temannya itu menurut dan patuh terhadap ajaran Isa. Masing-masing memperhatikan sebaik-baiknya setiap kata dan nasihat yang keluar dari mulut Isa.
Ketika Isa sudah berumur 12 tahun, ibunya membawa beliau meninggalkan dusun yang jauh terpencil itu, berangkat pindah ke kota Baitul Maqdis (Jerusalem). Di jalan banyaklah pemandangan baru yang belum pernah dilihat didesanya sendiri. Tetapi Isa tinggal tenang saja melihat pemandangan yang baru itu, tidak menarik hatinya sedikit juga sebagai kebanyakan anak-anak yang seumur dengan dia. Lebih-lebih lagi ketika memasuki kota besar Jerusalem menempuh jalan-jalan besar, rumah-rumah yang bagus dan menarik hati. Tidak satu pun yang menarik perhatian Isa, kesemuanya itu dipandangnya sebagai barang-barang yang biasa saja, tidak baru sedikit juga dalam pandangan mata dan hatinya. Inilah pula salah satu keluar-biasaan Isa dibanding dengan anak-anak lainnya.
Ibunya lalu pulang ke desa kembali, sedang Isa tetap tinggal dikota Baitul Maqdis, kota yang penuh dengan pendita dan tempat-tempat ibadat, sebagai pusaka dan doa Nabi Ibrahim dahulu.
Setiap hari, orang ramai berduyun-duyun datang ke gereja-gereja menerima pelajaran agama yang diberikan pendita-pendita. Isa pun turut serta orang ramai itu, mendengar pelajaran dan fatwa-fatwa itu. Bahkan inilah yang paling digemari Isa, lain-lain pekerjaan dan permainan tidak satu pun yang menarik hatinya dan dia tidak pernah turut berbagai-bagai keramaian dan permainan itu.
Tiap-tiap kata fatwa yang keluar dan mulut pendita-pendita didengarkannya dengan penuh perhatian dan sungguh-sungguh. Berbeza dengan orang ramai yang juga turut belajar dan mendengar fatwa itu, dimana umumnya mereka itu hanya menerima dan tunduk saja terhadap semua fatwa dan kata-kata itu, maka Isa bukan hanya tunduk dan menerima mentah-mentah saja tetapi kalau perlu bertanya dan membantah mana yang tidak sesuai dengan pendapatnya. Isa di antara murid-murid yang pertama-pertama kali berani bertanya dan membantah, sedang murid yang lain seorang pun tidak pernah bertanya, apalagi akan membantah.
Melihat keberanian dan perbuatan Isa itu, tidak sedikit kawan-kawan dan orang ramai yang menaruh sakit hati dan marah kepadanya dan menganggap dia seorang yang pembantah dan penyangkal, tidak tunduk kepada pendita-pendita yang dihormati dan dimuliakan orang. Bahkan sudah menjadi tabiat manusia di saat itu, bahawa pendita-pendita itu adalah orang suci, orang-orang yang benar semua kata-katanya, tidak boleh dibantah atau ditanyai samasekali, sebab orang yang bertanya dan membantah itu dianggap telah melanggar agama, telah engkar dan kafir layaknya.
Bukan hanya orang ramai saja yang marah kepadanya, tetapi juga pendita-pendita sendiri, sebab memang pendita-pendita itulah yang melarang orang bertanya dan membantah, serta mengajarkan bahawa sesiapa yang membantah dan bertanya itu, adalah orang engkar dan musuh Tuhan.
Beratus-ratus tahun lamanya, pendita-pendita itu tidak pernah dibantah dan disoal orang, sehingga telah menjadi adat turun-temurun bagi orang banyak yang hanya mendengar, tunduk dan diam dihadapan mereka. Sebab itu, tidak hairanlah kalau hal itu dianggap orang ramai sebagai ajaran agama, ketetapan syariat yang tidak boleh dilanggar samasekali.
Isa tidak menghiraukan kemarahan orang ramai itu, tidak peduli sekalipun pendita-pendita itu sendiri sakit hati kepadanya, namun Isa tetap membantah dan bertanyakan apa-apa yang tidak terang atau yang berlawanan dengan pendiriannya.
Demikianlah halnya Isa bertahun-tahun asyik belajar, asyik bertanya dan membantah tiap-tiap fatwa yang tidak sesuai. Dia lupa segala-galanya, kadang-kadang dia lupa makan dan minum, lupa terhadap ibunya sendiri yang sudah lama ditinggalkannya.
Dia bukan hanya tetap dalam kota Baitul Maqdis saja, tetapi juga pergi ke tempat-tempat yang jauh, didalam dan diluar kota, dimana saja ada pendita. Masing-masing pendita yang dia kenal dan dengar, sekalipun jauh tempatnya, pasti dia datangi untuk belajar dan menerima fatwanya, pula untuk ditanya dan dibantahnya apabila perlu. Begitulah; dia senantiasa pindah dari desa ke desa, dan kota ke kota lainnya.
MENJADI RASUL
Setelah Isa berumur 30 tahun, barulah datang kepadanya Ruhul Amin, iaitu Malaikat Jibril sebagai Utusan Allah untuk mengangkat Isa menjadi Rasul Allah, menyambung pelajaran yang pernah diajarkan Rasul-rasul yang sebelumnya dan untuk memberi khabar kepada manusia, bahawa nanti
dikemudian hari akan diutus Allah seorang Rasul lagi, iaitu Nabi Muhammad s.a.w.
Kepada Nabi Isa a.s. diturunkan Allah sebuah Kitab Suci (Bible) yang berisi ajaran-ajaran Tuhan yang membenarkan akan Kitab-kitab Suci yang sebelumnya dan pula memberi keterangan tentang akan datangnya Kitab Suci nanti, iaitu al-Quran al-Karim, yang diturunkan kepada Rasul yang paling akhir, iaitu Muhammad s.a.w.
Apa yang diterimanya itu, disampaikannya kepada manusia kaumnya. Diterangkannya bahawa dia adalah Utusan Allah, supaya semua manusia mengikutinya.
Mulailah Nabi Isa a.s. berjuang menyiarkan agama yang benar, membongkar akan kesalahan dan kesesatan pendita Yahudi yang telah jauh menyimpang dan ajaran Nabi Musa a.s. yang sebenarnya, bahkan terbukti kepada Nabi Isa bahawa mereka telah lupa samasekali akan semua ajaran-ajaran yang diberikan Nabi dalam Kitab Sucinya yang bernama Taurat. Sudah banyak pula yang tidak kenal kepada Allah lagi, hanya mementingkan hartabenda dan kekayaan dunia semata, baik rakyat umum ataupun para penditanya sendiri. Mereka berebutan pangkat pendita bukan untuk menyiarkan agama Allah, tetapi semata-mata berebutan pangkat dan hartabenda yang terdiri dan emas dan perak. Mereka bukan membela nasib kaum fakir miskin lagi sebagai yang diperintahkan Allah, tetapi malah merampas hak kaum fakir miskin dan orang-orang yang terlantar, bahkan menghisap darah orang melarat dan mencelakakan penghidupan mereka.
Pendita-pendita turut serta menghisap dan memeras. Mereka ajarkan kepada manusia bahawa mengorbankan harta bagi kepentingan pendita, bererti mengorbankan harta bagi Allah, sehingga banyak pendita-pendita yang lebih kaya dari raja-raja. Pendita-pendita itu menutup mata samasekali terhadap nasibnya orang-orang yang fakir dan miskin, terhadap orang-orang yang terlantar, anak-anak yatim dan piatu, terhadap orang yang mendapat kecelakaan. Mereka hanya bertekun didalam gereja-gereja untuk dipuji-puji orang ramai saja.
Agama yang diajarkan Nabi Musa, telah mereka ubah disesuaikan dengan kepentingan mereka sendiri. Banyak yang halal diharamkan dan yang haram dihalalkan. Agama yang menyerang nafsu kebendaan, mereka ubah menjadi agama yang memuji-muji kebendaan, serta melupakan Tuhan.
Rakyat, mereka anjurkan berkorban dan bersedekah untuk Rumah Suci sebanyak-banyaknya, yang sebenarnya bagi kepentingan diri mereka sendiri, sedangkan yang bersedekah itu kebanyakannya orang yang fakir miskin dan orang bawahan yang susah jalan penghidupannya.
Segala rahsia itu dibongkar oleh Nabi Isa. Nabi Isa sedaya-upaya untuk mengembalikan manusia kepada agama yang benar, kepada syariat Nabi Musa yang sebenar-benarnya. Bani Israel yang telah sesat jalannya itu dianjurkan Nabi Isa agar kembali ke jalan yang benar.
NASIB PARA RASUL
Ajaran Nabi Isa berlawanan sungguh dengan kemahuan dan keinginan masyarakat umum dimasa itu. Isa melarang mereka berlazat-lazat dan bersenang-senang, serta umumnya mereka asyik dengan berbagai kemaksiatan dan kejahatan.
Diantara pendita dan orang ramai, memang ada orang yang benar-benar suci dan bersih, ingat dan selalu mengabdikan diri kepada Allah s.w.t. Mereka ini sajalah yang sebenarnya mengakui akan ajakan dan pelajaran yang diberikan oleh Nabi Isa. Mereka inilah yang menjadi pembela, tulang belakang Nabi Isa a.s. dan mereka inilah yang disebutkan Allah dalam al-Quran Ansarullah dan Hawariyun. Sedang lain-lainnya, masyarakat ramai, lebih-lebih masyarakat yang kayaraya, pembesar-pembesar negeri hampir semuanya menentang akan ajakan dan ajaran Nabi Isa, bahkan menghalang dari tersiarnya pengajaran ini, sebab mereka takut akan kehilangan harta dan pangkat serta pengaruh. Nabi Isa mereka dustakan, mereka halangi dengan berbagai cara. Semua ini memang sudah menjadi nasibnya para Nabi dan Rasul Allah, sejak dari Nabi Adam a.s., sampai kepada Nabi Muhammad s.a.w., kerana Nabi-nabi dan Rasul-rasul Allah itu diutus memang untuk merobah keadaan dan susunan masyarakat kepada siapa mereka diutus Tuhan, jadi bukan semata-mata untuk menurutkan kemahuan umat.
Nabi Isa terus-menerus mengajarkan semua yang diperintahkan Allah kepadanya, dari desa ke desa dan dari kota ke kota. Kerana begitu hebat tentangan kaumnya, maka kepada Nabi Isa diberikan Allah beberapa mukjizat yang luarbiasa, agar orang ramai insaf akan kebenaran Nabi Isa sebagai orang yang diutus Allah.
Nabi Isa menggumpal sekepal tanah, lalu ditiupnya, segera tanah itu menjadi burung, terbang ke sana ke mari bersiul-siul, beranak dan berketurunan.
Ramai orang ditimpa penyakit kusta dan tidak seorang juga yang dapat menyembuhkan penyakit itu, sehingga penyakit itu terus-menerus, turun-temurun menyerang sebuah desa. Oleh Nabi Isa semua orang yang sakit bertahun-tahun itu dapat disembuhkan sekaligus dengan sesembuh-sembuhnya. Banyak pula orang yang buta sejak dilahirkan ke dunia ini pun dapat disembuhkan oleh Nabi Isa, sampai dapat melihat seterang-terangnya. Bahkan orang yang sudah mati pun, ada yang dihidupkan Nabi Isa.
Semua itu menjadi dalil dan bukti yang tidak dapat dibantah lagi, atas kenabian dan kerasulan Nabi Isa a.s. bagi orang-orang yang mahu beriman dan percaya. Tetapi bagi musuh-musuhnya, orang-orang yang ditakdirkan Tuhan untuk jadi kayu api neraka, semua kejadian itu dipandangnya sebagai sihir semata-mata, namun Nabi Isa tetap mereka tentang dan musuhi.
Nabi Isa mempunyai kawan dan pula mempunyai lawan. Dengan kawan-kawannya itulah Nabi Isa berjalan ke tempat-tempat yang jauh, menyiarkan pelajaran agama, menolong manusia sengsara. Tetapi sayang, lawannya lebih banyak daripada kawannya dan lawannya ini memusuhinya dengan sehebat-hebatnya, serta mengadakan tekanan dan rintangan seberat-beratnya.
Musuh Nabi Isa bukan saja orang ramai yang telah dihinggapi penyakit kekafiran, tetapi banyak dari pembesar-pembesar negeri yang takut kehilangan pangkat, banyak pendita-pendita yang takut kehilangan pengaruh.
Setelah pendita-pendita sesat itu merasa bahawa Nabi Isa tidak dapat mereka kalahkan dengan debat dan kata-kata, mereka berusaha mencari jalan lain. Pembesar-pembesar negeri sejak dari raja, sampai kepada pembesar-pembesar bawahannya, mereka hasut untuk menyingkirkan Nabi Isa dan masyarakat, dengan tuduhan mengganggu ketenteraman, melenyapkan keamanan negeri dan akan merebut kekuasaan pemerintah.
Pada suatu hari, Isa dan sahabat-sahabatnya itu tiba disuatu daerah padang pasir yang tandus dan kering, jauh dan desa dan kampung, tidak ada manusia dan rumah, sedang persediaan air dan makanan sudah habis samasekali. Padang pasir yang tandus itu tidak mempunyai tempat untuk berlindung, sedang matahari bersinar terik.
Mereka diserang haus dan lapar yang hebat sekali. Mereka lalu duduk berunding, bertukar fikiran, jalan mana yang harus ditempuh untuk keluar dari daerah kering itu, dimana kiranya dan bagaimana caranya mendapat sedikit air untuk dapat mempertahankan hidup mereka. Keadaan mereka lebili sulit lagi, kerana disaat itu pulalah musuh-musuh mereka telah mengepung dan menunggu-nunggu kedatangan mereka untuk dihancurkannya.
Dalam keadaan yang sulit dan rumit itulah Nabi Isa menuangkan pengajaran-pengajaran yang sangat dalam kepada para pengikutnya itu, meresapkan ke dalam jiwa mereka hakikat perjuangan hidup di dunia menjelang mati, merasakan erti hidup yang sebenarnya. Sesungguhnya para sahabat dan Hawariyun itu telah teguh imannya, sudah tidak syak lagi dan ragu-ragu lagi akan kebenaran Nabi Isa dan kerasulannya, tunduk dan patuh menjalankan nasihat dan perintah Nabi Isa, namun mereka masih ingin mendapatkan bukti-bukti dan tanda-tanda yang lebih nyata, semata-mata untuk menambah tebal keimanan mereka. Apalagi sekarang ini benar-benar mereka sedang dalam kesulitan menghadapi musuh dan bahaya lapar yang tidak terhingga.
Mereka lalu berkata kepada Isa: Ya, Isa anak Mariam! Kuasakah Tuhan menurunkan makanan dari langit untuk kami?
Dengan keterangan, bahawa mereka hanya ingin tahu saja, bukanlah kerana kurang percaya dan kurang tegas iman.
Permintaan yang demikian pernah pula dikemukakan oleli pengikut Nabi Ibrahim dahulu. Terhadap permintaan sahabat-sahabatnya itu, Nabi Isa menasihatkan agar mereka jangan hendaknya menuntut mukjizat-mukjizat supaya tuntutan itu janganlah menjadi fitnah terhadap keimanan mereka sendiri.
Nabi Isa memperingatkan mereka sekali lagi kepada mukjizat-mukjizat yang banyak sekali, yang sudah diperlihatkan Nabi Isa kepada mereka.
Mendengar keterangan Nabi Isa itu, mereka lalu berkata: Kami menghendaki yang demikian itu, supaya dapatlah kami memakan makanan yang kami katakan itu dan supaya tetap teguh kepercayaan dalam hati kami, sedang kami mengakui sebenar-benarnya, bahawa engkau orang yang benar, sehingga kami menjadi saksi atas yang demikian itu.
Setelah mendengar perkataan mereka itu, Nabi Isa lalu berdoa kepada Tuhan: Ya Allah, Tuhan kami, turunkanlah makanan dan langit untuk menjadi perayaan besar (hariraya) bagi kami dan orang-orang yang sesudah kami dan pula menjadi bukti kekuasaan Engkau. Berilah kami rezeki, sedang Engkau adalah sebaik-baik pemberi rezeki.
Doa dan harapanan itu dikabulkan Allah. Makanan yang lazat cita rasanya turunlah dari langit untuk mereka santap bersama-sama, diiringi oleh turunnya wahyu Allah: Sesungguhnya Aku turunkan makanan itu kepadamu, tetapi ingat, barangsiapa yang engkar diantara kamu dikemudian hari, akan Aku seksa dengan seksaan yang belum pernah Aku seksakan kepada orang-orang yang hidup didunia ini.
Makanan itu segera mereka santap bersama-sama dengan sekenyang-kenyangnya, sehingga segarlah perasaannya, hilang rasa laparnya, serta kembalilah kekuatan mereka yang sudah penat dan lelah itu. Kejadian itu tersiar pula kemana-mana menambah imannya orang yang beriman dan menambah dengkinya musuh-musuh mereka.
Dalam pada itu kaum Bani Israel, iaitu musuh Nabi Isa dipelopori oleh pendita-pendita mereka sendiri, telah berkumpul untuk mencari daya-upaya cara bagaimana dapat menewaskan Nabi Isa dan pengikut-pengikutnya. Hadir pula dalam rapat besar itu pembesar-pembesar negeri dan raja mereka.
Nabi Isa telah mengetahui lebih dahulu akan rencana-rencana mereka untuk membunuh Nabi Isa itu. Sebab itulah Nabi Isa terus mengembara menghindarkan diri dari tangkapan mereka.
Dalam rapat besar itu, tiba-tiba seorang pemuda yang tangkas mengacungkan tangan minta berbicara untuk mengemukakan pendapat dan usulnya. Pemuda itu Yahuza namanya. Kepadanya diberikan kesempatan membentangkan pandangan dan buah fikirannya.
Dengan tegas pemuda itu lalu mengusulkan, agar Nabi Isa ditangkap dan dibunuh saja. Dia sendiri telahpun mengetahui akan tempat Nabi Isa dan pengikut-pengikutnya itu bersembunyi. Dia sendiri menyanggupkan dirinya untuk menjadi pelopor dalam penangkapan dan pengepungan itu.
Fikiran yang dikemukakan pemuda itu, dengan segera mendapat persetujuan dari yang hadir dengan sambutan yang meriah sekali. Apalagi orang banyak sudah lama tidak mendengar, di mana Isa sedang berada, tiba-tiba pemuda itu menerangkan, bahawa dia mengetahui tempat Nabi Isa. Pemuda itu mendapat pujian setinggi langit. Orang banyak datang berduyun-duyun mencium tangan pemuda itu dan menjanjikan kepadanya apa saja yang dia kehendaki, bila dia telah berhasil dapat menangkap Nabi Isa serta membunuhnya.
Raja lalu menyiapkan tentera dan perbekalan, untuk dikerahkan menangkap Nabi Isa, dibawah pimpinan pemuda itu. Dalam pada itu pendita-pendita dan pembesar-pembesar negeri yang benci kepada Isa, berpropaganda kepada orang banyak untuk membenci Nabi Isa, dan menuduhnya sebagai pengacau, serta perusak agama dan negara.
Nabi Isa dan pengikut-pengikutnya telah mengetahui itu semua. Tahu bahawa tentera raja dan banyak orang telah siap mencari-cari mereka, ke mana saja mereka pergi.
Nabi Isa dan pengikut-pengikutnya, dengan sembunyi-sembunyi dan menyeludup pindah dari sebuah tempat ke lain tempat, agar jangan sampai diketahui oleh musuh-musuhnya. Akhirnya Nabi Isa dan pengikut-pengikutnya itu terperosok ke sebuah daerah yang telah dikepung oleh musuh disekitarnya. Tidak ada jalan keluar untuk melepaskan diri dan kepungan. Tidak ada jalan lain, selain bersembunyi dibelukar yang ada dalam sebuah kebun yang luas dalam daerah kepungan itu.
Disaat yang amat kritikal, dipuncak segala krisis, tidaklah hairan kalau banyak diantara pengikut Nabi Isa a.s. yang masih kurang kuat imannya, sama mencuba menghindarkan diri dari bahaya maut. Pengikut Isa a.s. berkurang satu demi satu. Akhirnya hanya tinggal 12 orang, yang menyanggupkan diri untuk tetap bersama Isa a.s. dalam keadaan yang bagaimanapun. Mereka yang 12 orang inilah yang dinamai Allah di dalam al-Quran dengan al-Hawariyun, iaitu pengikut-pengikut atau sahabat-sahabat yang setia.
Di saat itu Nabi Isa a.s. mulai mengeluh dan berkata: Siapakah gerangan yang akan menjadi pembelaku? Keluhan Isa itu dijawab oleh Hawariyun tersebut dengan kata: Kami siap untuk membela dan bersamamu menegakkan agama Allah.
Tentera musuh makin dekat jua dan musuh rupanya sudah tahu, bahawa Nabi Isa dan pengikut-pengikutnya berada di tempat itu. Ketika itulah pengikut-pengikut Nabi Isa mendapat ujian yang sebesar-besarnya. Terbuktilah, bahawa diantara pengikutnya ada yang tidak tahan, ada juga yang teguh imannya. Seorang demi seorang para pengikutnya meninggalkan Isa, lalu meminta perlindungan dari musuh. Mereka lari dengan tidak minta izin dan tidak memberitahu lebih dahulu kepada Isa. Lupalah mereka ketika itu akan pemimpin besar yang selama mi mereka puja dan ikutinya.
Akhirnya salah seorang dari pengikut yang lari ini pulalah yang telah belot, menunjukkan tempat bersembunyinya Nabi Isa kepada musuh-musuh itu.
Kepungan makin dipersempit, kerana sudah nyata dimana tempat Nabi Isa bersembunyi. Dengan dipelopori oleh pemuda Yahuza, musuh makin mempersempit kepungan mereka.
Yahuza sebagai pelopor, lalu menyerbu masuk sendirian ke dalam belukar dimana Nabi Isa sedang bersembunyi. Dia ingin menangkap Nabi Isa dengan tangannya sendiri.
Baru saja pemuda itu menyerbu ke tempat persembunyian Nabi Isa, Tuhan memperlihatkan kekuasaanNya. Mata musuh tidak dapat melihat Nabi Isa, sedang pemuda Yahuza yang telah menyerbu sendirian itu, dirobah Allah mukanya menjadi serupa dengan muka Nabi Isa.
Tepat disaat itu tentera musuh menyerbu masuk, mereka melihat Yahuza yang berbentuk Nabi Isa itu segera ditangkapnya serta dipukulinya, lalu mereka gantung ditiang gantungan yang berupa salib. Ditiang salib itulah orang tangkapan yang mereka kira Nabi Isa itu, mereka pakukan, lalu dilemparinya dengan batu, serta dipukulinya dengan kayu, sehingga darah tertumpah sebanyak-banyaknya. Akhirnya tangkapan itu matilah di tiang salib itu.
Nabi Isa yang sebenarnya terlepas dan tangkapan itu, tetapi orang ramai dan musuh tidak mengetahuinya. Kepada Nabi Muhammad diwahyukan Allah apa yang sebenarnya terjadi di saat itu.
Firman Allah di dalam al-Quran:
Kata mereka, mereka telah membunuh al-Masihi Isa Anak Mariam, seorang yang menjadi Rasul Allah. Yang sebenarnya mereka tidaklah membunuh Nabi Isa dan pula menyalibkannya, tetapi telah menyalibkan seorang lain yang diserupakan Allah dengan rupa Nabi Isa. Orang-orang yang berselisihan tentang Nabi Isa ini, yang sebenarnya masih dalam keraguan, bukanlah dengan pengetahuan yang yakin, hanya dengan menduga belaka. Bukanlah mereka telah membunuh Nabi Isa yang sebenarnya. Allah telah mengangkatkan Nabi Isa kepadaNya, Allah itu Maha Agung dan Maha Bijaksana.
Dan firmanNya lagi:
Mereka (orang-orang kafir) membuat rencana (untuk membunuh Nabi Isa), sedang Allah juga membuat rancangan (untuk menghindarkan Nabi Isa dari dibunuh), akhirnya rencana Allah jugalah yang terjadi, kerana Allah adalah sepandai-pandai perencana.
Ingatlah tatkala Allah bersabda: Hai Isa, Aku akan ambil kamu, dan akan angkatkan kamu kepadaKu, dan akan membersihkan kamu dari (tangan-tangan) orang-orang yang kafir itu dan akan jadikan orang-orang yang mengikut kamu itu diatas orang-orang yang kafir itu sampai hari kiamat dan kemudian kepadaKu jualah tempat kembali kamu. Nanti Aku akan tetapkan keputusan tentang segala perkara yang kamu perselisihkan.
Selain ayat-ayat yang tersebut diatas ini, ada banyak lagi ayat-ayat didalam Kitab Suci al-Quran yang menerangkan bahawa Allah telah angkat Nabi Isa kepadaNya dan bahawa Allah akan turunkan Nabi Isa kembali untuk diimani oleh semua ahli Kitab. Di samping ayat-ayat al-Quran, tidak sedikit jumlah Hadis-hadis yang sahih menerangkan bahawa Isa akan turun kembali.
Dengan alasan-alasan tersebut, maka ijmak sekalian Sahabat, Tabiin dan Mujtahidin, bahawa Isa masih hidup dan akan turun.
Firman Allah dalam al-Quran, surah Ali-Imran 55:
(Ingatlah) tatkala Allah berfirman: Hai Isa, sesungguhnya Aku (Allah) akan mengambil engkau dan akan mengangkat engkau kepadaKu serta akan membersihkan engkau dari mereka yang kafir itu.
Perkataan Allah Aku ambil dan Aku angkat engkau kepadaKu dalam ayat tersebut di atas, diulangi Allah lagi dalam ayat-ayat lainnya, dan beberapa Hadis Sahih yang menerangkan bahawa Isa a.s. akan diturunkan kembali, menjadikan para Sahabat, Tabiin dan Mujtahidin sepakat mengatakan bahawa Nabi Isa masih hidup di langit, dan suatu waktu nanti akan turun lagi ke bumi.
PENGIKUT-PENGIKUT ISA AL-MASIHI
Iman al-Kisaie (Abu Bakar Muhammad bin Abdullah) yang hidup dalam abad ke 11 Masihi, dan menulis kitab Qisasul Anbiya, bahawa Nabi Isa a.s. pernah melalui (menjumpai) suatu kelompok manusia yang sedang menangkap ikan. Nabi Isa lalu memberikan pelajaran kepada mereka, agar mereka jangan hanya hidup untuk didunia ini saja. Diterangkannya pula kepada mereka tentang kehidupan diakhirat dengan Syurganya, dan ajaran-ajaran serta kepercayaan lainnya. Akhirnya empat orang dari kaum penangkap ikan ini beriman kepada Isa a.s. dan menjadi pengikutnya. Mereka itu ialah Syimun dan saudara lelakinya yang bernama Andirius, Yaqub dan Yuhanna.
Kemudian Nabi Isa a.s. melalui pula suatu kelompok manusia yang sedang mencuci pakaian mereka disungai. Nabi Isa berkata kepada mereka: Hai kaum, kamu mencuci pakaian itu dan membersihkannya dan kotoran-kotoran yang melekat padanya. Apakah kamu tidak mahu membersihkan hatimu itu? Mereka pun beriman dan menjadi pengikut Isa a.s. Mereka adalah: Lukas, Thomas, Markus dan Yuhanna dan beberapa saudara mereka yang masih kecil, di antaranya juga yang bernama Syimun dan Yaqub.
Mereka itu semualah yang menjadi pengikut-pengikut yang setia dan yang disebut Hawariyun dalam al-Quran menurut al-Kisaie. Mereka semua berjumlah 12 orang. Akhirnya datang pula seorang lainnya yang bernama Judas, yang belum pernah mendengarkan akan perkataan-perkataan atau ajaran Isa a.s., tetapi turut beriman kerana ajakan orang-orang yang telah beriman lebih dahulu. Hanya setelah Isa dan pengikutnya mengalami pengepungan yang amat kritikal sebagai yang telah kita terangkan sebelum ini, Judas ini murtad, menyeleweng, meninggalkan Isa dan pengikut-pengikutnya lalu mengkhianati Isa a.s dengan memberitahukan tempat persembunyian Nabi Isa kepada musuh-musuhnya, iaitu orang-orang Yahudi, sehingga mereka menyerbu tempat persembunyian itu.
Menurut sejarah, Nabi Isa diangkat Allah menjadi Nabi dan Rasul dalam umur 30 tahun. Setelah menyiarkan ajarannya selama tiga tahun atau lima tahun, terjadilah pengepungan, yang menurut kaum Nasrani, Isa tertangkap dan disalib.
Jadi Nabi Isa menyebarkan ajarannya itu hanya dalam waktu tiga atau lima tahun saja, yang selalu diancam oleh orang Yahudi untuk dibunuh, sehingga menjadikan Nabi Isa selalu berpindah-randah tempat untuk menghindari penangkapan atau pembunuhan terhadap diri beliau. Kerana keadaan yang demikian itu, pengikut-pengikutnya tidak banyak, dan pelajaran yang disampaikannya pun tidak teratur, serta orang-orang yang menerima pelajaran dari beliau itu berbagai-bagai peringkat kecerdasannya, berbagai-bagai pula lamanya masing-masing mereka bergaul dengan Isa al-Masih a.s.
Sesudah Nabi Isa as. diangkat Allah ke langit, maka hanya tinggal para pengikut yang setia ini sajalah, yang dengan sekadar ilmu yang ada pada masing-masing mereka, mereka ajarkan lagi ajaran Isa al-Masih a.s. itu. Juga dalam keadaan bersembunyi, tidak aman dan tidak bebas.
Diantara mereka, ada pula yang menuliskan apa yang mereka ketahui itu. Dan dari tulisan-tulisan mereka inilah nantinya yang dijadikan Kitab Suci yang mereka namai Injil. Masing-masing Injil itu mereka namai dengan nama penulisnya. Di antaranya ada Injil Mathius, Injil Yuhanna, Injil Lukas, Injil Barnaba dan banyak lagi Injil-injil yang lainnya. Tentu saja Injil-injil itu tidak sama antar satu sama lain, sebab hanya merupakan catatan dari masing-masing pencatat saja, selama mereka bergaul dengan Nabi Isa, atau semata-mata hanya khabar atau cerita yang sampai kepada mereka saja tentang Nabi Isa a.s. Sebab tidak semua penulis Injil itu adalah Sahabat (Hawari), malah banyak pula penulis-penulis Injil yang tidak pernah bertemu samasekali dengan Isa, bahkan tidak pula dengan para Sahabat atau Hawari.
Tidak hairanlah kalau beberapa abad kemudian, ajaran yang diajarkan mereka menjadi bersimpang-siur, menjadikan mereka berpecah-belah tentang kepercayaan. Ada diantara mereka yang mengatakan bahawa Isa al-Masih a.s. adalah sebagai Nabi dan Rasul sebagaimana juga Nabi-nabi dan Rasul-rasul yang datang sebelumnya. Tetapi ada pula diantara mereka yang melebihkannya kerana Isa tidak punya bapa, menganggap Isa sebagai anak Allah. Juga tentang ibunya yang bernama Mariam dan Malaikat Jibril (Ruhul Kudus) yang mendatangi Mariam. Bahkan timbul kepercayaan yang mengatakan bahawa Isa adalah Allah yang menjelma menjadi anak manusia melalui perut seorang wanita suci iaitu ibunya, Mariam. Bahkan timbul lagi kepercayaan bahawa Malaikat Ruhul Kudus yang menyampaikan berita kelahiran Isa kepada Mariam itupun adalah Allah menjelma pula. Akhirnya timbullah kepercayaan Trinitas; iaitu Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Ruhul Kudus. Oleh orang-orang yang datang kemudian ditafsirkan bahawa Allah Bapa itu Tuhan 100%, Allah Putra, iaitu Jesus (Isa) itu Tuhan 100% dan Allah Ruhul Kudus (Malaikat Jibril) adalah Tuhan 100% pula. Bahkan ada yang mempercayai bahawa Mariam ibunya, adalah Tuhan pula, sebab ia melahirkan Tuhan iaitu Tuhan Jesus.
Kekacauan yang menimpa pengikut-pengikut Isa al-Masih a.s. itu menimbulkan kekacauan yang menyebabkan pertumpahan darah yang terus-menerus dalam waktu berabad-abad lamanya dikalangan mereka. Sehingga manusia berada kembali dalam kegelapan, iaitu kegelapan kepercayaan.
Untuk melenyapkan kegelapan itulah akhirnya diutus Allah Nabi dan Rasul terakhir, iaitu Muhammad s.a.w. dengan membawa Kitab Suci al-Quran, untuk membetulkan semua kitab yang salah, yang dianggap orang Kitab-kitab Suci, yang ada tersebar sebelum lahirnya Nabi Muhammad s.a.w.
Diantara ayat-ayat al-Quran yang ada hubungannya dengan kepercayaan-kepercayaan orang yang mengaku pengikut Nabi Isa a.s. berbunyi sebagai berikut (ertinya): Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini adalah hamba Allah. Allah beri kepadaku Kitab, dan Allah menjadikan aku Nabi. Allah jadikan aku orang yang berbakti dimana saja aku berada. Allah wajibkan kepadaku mendirikan sembahyang, dan mengeluarkan zakat selama aku hidup. Allah jadikan aku berbakti terhadap ibuku, dan Allah tidak jadikan aku menjadi orang sombong dan celaka. Dan keselamatan tercurah atasku pada hari aku dilahirkan, serta pada hari matiku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup diakhirat nanti. Ya itulah Isa anak Mariam. Allah firmankan perkataan-perkataan yang penuh berisi kebenaran, kerana banyak manusia yang berselisih tentang dia dan ragu-ragu. Tidaklah layak bagi Allah mempunyai anak. Maha Suci Ia. Bila Ia menghendaki sesuatu, Ia hanya berkata: Jadilah, maka terjadilah sesuatu yang dikehendakiNya itu. (Berkata Isa): Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kamu, maka sembahlah Ia (Allah saja), inilah jalan yang lurus (benar). Maka timbullah perselisihan diantara golongan manusia. Maka celaka besarlah orang-orang kafir dihari yang amat hebat nanti. Dihari itu mereka akan datang kepada Kami, dan alangkah terangnya mereka dapat mendengar dan melihat dihari itu. Tetapi orang-orang zalim yang hidup sekarang ini tetap dalam kesesatan yang nyata. Dan ancamlah mereka (Hai, Muhammad) dengan kepastiannya hari yang penuh dengan dukacita itu, iaitu tatkala sudah diputuskan segala perkara. Mereka tetap lalai dan tidak mahu percaya. Sesungguhnya Kamilah yang memiliki bumi dan apa-apa yang terdapat diatasnya. Dan akhirnya kepada Kami jualah mereka itu akan kembali.
(Mariam: 3040)
Dan ingatlah ketika Isa Anak Maryam berkata: Hai, Bani Israel, sesungguhnya aku ini Rasul Allah yang diutus kepada kamu, membenarkan apa yang dihadapanku (iaitu Kitab Taurat) dan memberi khabar gembira akan kedatangannya seorang Rasul sesudahku namanya Ahmad (iaitu Muhammad). Tetapi tatkala Rasul itu datang kepada mereka membawa keterangan, mereka berkata: Ini adalah sihir semata." (as-Saff: 6)
Hai, Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), sungguh sudah datang kepadamu Rasul Kami (Nabi Muhammad) menerangkan banyak perkara yang kamu (nenek-moyangmu) sembunyikan dan isi al-Kitab (Taurat dan Injil) dan banyak pula yang kamu hapuskan (kerana memberatkan kamu) sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya yang terang dan Kitab Suci (al-Quran dan Allah).
(al-Maidah: 5)
Hai, Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu. Janganlah kamu berkata tentang Allah selain perkataan yang benar. Sesungguhnya ia Anak Mariam itu adalah Rasul Allah dan (kejadian Isa itu adalah disebabkan) kalimahNya, yang diletakkan pada Mariam (untuk menghamilkannya) bersama roh daripadaNya. Berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya. Janganlah kamu katakan Allah itu bertiga (Trinitas). Berhentilah kamu dan perkataan yang demikian, itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah hanya Satu (Maha Tunggal). Maha Suci Ia daripada mempunyai anak. KepunyaanNyalah apa saja yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi. Dan cukuplah Allah itu saja sebagai Pelindung (Saksi). (an-Nisa: 171)
Berkata orang-orang Yahudi: Uzair anak Allah. Dan berkata orang-orang Nasrani: Isa al-Masihi anak Allah. Yang demikian itu adalah omongan mereka dengan mulut mereka, menyerupai perkataan orang-orang kafir yang dahulu, yang telah dibinasakan oleh Allah. Hairan mengapa mereka dipalingkan begitu rupa. Mereka menjadikan guru-guru dan pendita-pendita mereka sebagai Tuhan selain Allah. Dan begitu juga terhadap Isa Al-Masihi Anak Mariam. Padahal mereka tidak diperintah selain untuk menyembah Allah yang Maha Esa, yang tiada Tuhan selain Dia. Maha Suci Ia dan apa-apa yang mereka sekutukan.
(at-Taubah: 3031)
Maksud turunnya Isa itu adalah untuk menerangkan kepada orang-orang yang mengaku mengikuti pelajaran Nabi Isa, tetapi telah membelok dari ajaran Nabi Isa yang sebenarnya. Lebih-lebih untuk menegaskan kepada mereka bahawa Isa tidak pernah mengajarkan bahawa dia adalah Tuhan atau anak Tuhan dan untuk menegaskan kepada ummat manusia, bahawa Muhammad s.a.w. adalah Rasul Allah yang terakhir yang harus diimani dan diikuti dan bahawa al-Quran al-Karim adalah Kitab Suci yang mencakupi seluruh Kitab-kitab Suci yang sebelumnya dan bahawa Islam adalah ajaran semua Nabi dan Rasul yang pernah diutus Tuhan ke permukaan bumi ini.
Dengan alasan yang tersebut diatas inilah, maka ummat Islam percaya, bahawa Nabi Isa a.s. tidaklah mati terbunuh ditiang salib sebagai kepercayaan ummat Nasrani sekarang ini. Kerana selain ayat-ayat al-Quran yang amat jelas tersebut diatas itu, tidak mungkin menurut kepercayaan setiap orang Islam, seorang Nabi dan Rasul Allah yang begitu benar dan mulianya, akan dapat ditangkap, serta dibunuh dengan pembunuhan kejam, di luar penkemanusiaan itu.
Allah yang Maha Kuasa pasti telah dapat menyelamatkan Nabi dan RasulNya yang bernama Isa al-Masihi, dan perlakuan yang tidak sewajarnya ini.
Kalau ummat Islam dan ummat Nasrani berlainan kepercayaan tentang kedua masalah ini (iaitu tentang ketuhanan Isa dan tersalibnya Isa) ummat Islam tidak diperbolehkan bertengkar dan berdebat dengan ummat Nasrani tentang masalah ini. Kerana masalah ini seratus peratus masalah ghaib, yang tidak mungkin dapat diselesaikan dengan bertengkar dan berdebat.
Dengan ayat-ayat yang tersebut diatas, ummat Islam menunggu sampai datang saatnya nanti di hari kiamat, dialam akhirat, dimana Allah akan menetapkan putusan tentang masalah yang sedang diperselisihkan sekarang ini, antara ummat Islam, ummat Nasrani dan ummat Yahudi.
Marilah kita sama menunggu saat yang dijanjikan Allah itu dengan sabar dan menjauhkan diri dari sengketa, berjalan dan hidup dengan kepercayaan masing-masing.
Tetapi bila perdebatan mengenai masalah-masalah yang diperselisihkan itu dapat dijamin akan berjalan secara baik, dijamin tidak akan membangkitkan nafsu-nafsu yang tidak dapat dikendalikan, maka setiap saat ummat Islam diperbolehkan menghadapinya.
Firman Allah dalam al-Quran:
Serulah manusia kejalan Allah dengan bijaksana dan nasihat-nasihat yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmulah yang lebih mengetahui akan orang-orang yang sesat dari jalanNya dan Ialah pula yang lebih tahu akan orang-orang yang benar (mendapat petunjuk). Dan jika kamu terpaksa harus membalas seksaan, maka balaslah dengan pembalasan yang sebanding dengan apa yang telah mereka seksakan kepadamu. Dan jika kamu sabar (tidak membalas) maka itulah yang lebih baik, bagi orang-orang yang sabar. Dan sabarlah engkau dan tidaklah engkau dapat bersabar, kalau bukan kerana Allah. Dan janganlah engkau berdukacita terhadap mereka dan janganlah engkau berkecil hati lantaran tipu daya mereka. Sesungguhnya Allah beserta dengan orang yang taqwa dan orang yang berbuat kebaikan.
(an-Nahal: 125-129)
27 Desember 2009
NABI AYUB
Pada suatu hari, seluruh Malaikat berkumpul membicarakan makhluk Allah, mengenai ketaatan manusia dan maksiatnya, keburukan manusia dan kebaikannya. Akhirnya semua Malaikat itu memutuskan dengan sebulat suara bahawa Nabi Ayublah di kala itu manusia yang paling baik di atas dunia, yang paling banyak ibadatnya kepada Allah dan yang paling tinggi keimanan dalam dadanya.
Dengan harta kekayaan yang banyak, anak keturunan yang banyak pula dia tidak pernah sekali juga terlambat beribadat dan bersujud kepada Allah. Dia selalu memperhatikan dan menolong orang-orang yang melarat dan fakir miskin. Mendengar keputusan Malaikat itu, Iblis ingin menjalankan siasat kotornya. Iblis tak sudi kalau ada manusia di muka bumi ini tebal imannya kepada Allah, sempurna ibadat dan syukurnya. Tiap-tiap orang beriman itu, akan dicubanya membelokkan dan menyesatkannya. Dengan berbagai cara dan akal yang busuk, dengan pujukan yang halus dan dengan senjatanya yang paling ampuh, ialah dengan berbohong.
Iblis ini lalu datang menghadap ke hadhrat Allah, lalu berkata:
Ya, Tuhan! HambaMu yang bernama Ayub itu bukanlah beribadat menyembah Engkau, bukan bersyukur memuji Engkau. Ibadat dan syukurnya itu hanya kerana hartanya yang banyak, keturunannya yang cukup. Dia menyembah Engkau itu hanya agar Engkau menambah harta dan keturunannya. Dia bersyukur kepada Engkau itu agar semua harta dan anak-anaknya itu tetap banyak, supaya kambing dan biri-birinya yang berjumlah ribuan itu tetap tidak berkurang, supaya unta dan lembunya yang berjumlah ratusan itu semakin Engkau tambah, supaya binatang perahan dan yang dikerjakan semakin gemuk-gemuk dan kuat-kuat, supaya anak lelaki dan perempuannya yang sudah banyak itu ditambah banyak lagi. Ayub hanya menyembah harta, bukan menyembah Engkau. Mensyukuri anak keturunannya, bukan mensyukuri Engkau. Cuba Engkau izinkan saya merampas harta kekayaan itu, tentu dia tidak akan menyembah Engkau lagi. Sebab itu cubalah izinkan saya, ya Tuhan, untuk melenyapkan semua harta kekayaan itu.
Allah menjawab: Ayub adalah hambaKu yang beriman penuh dengan keimanan yang suci ikhlas. Dia menyembahKu kerana memang dia menginsafi akan keharusan menyembahKu ini. Ibadatnya suci dan pengaruh harta dunia, suci dari sifat-sifat loba dan tamak.
Tetapi kerana Allah ingin menjadikan Nabi Ayub lebih suci dan bersih imannya, agar dapat menjadi contoh teladan tentang keimanan dan kesabaran bagi seluruh ummat manusia, si Iblis diberiNya izin untuk merampas semua harta kekayaan Ayub. Tuhan lalu berfirman kepada Iblis: Boleh kau coba, kumpulkanlah semua kakitangan dan kawan-kawanmu. Lakukanlah apa-apa yang kamu rencanakan itu. Perhatikanlah nanti bagaimana kesudahannya!
Iblis lalu bersiap mengumpulkan semua kakitangannya, semua tentera dan pembantu-pembantunya dan dia berkata kepada mereka: Tuhan sudah mengizinkan kita untuk merampas harta kepunyaan Ayub, agar Ayub menjadi orang melarat, agar dengan kehilangan hartanya itu, hilang pula keimanan dan ibadatnya."
Dalam waktu sebentar saja, hilang lenyaplah semua harta dan kekayaan Nabi Ayub itu. Tidak seekor pun kambing atau biri-birinya lagi yang tinggal, tidak seekor pula unta dan lembunya, kebun dan tanaman-tanamannya pun habis kesemuanya.
Dengan berbentuk sebagai seorang tua yang berpengalaman dan penuh dengan kasihsayang, Iblis itu lalu datang kepada Ayub mahu menggodanya; dia berkata: Sekarang hartamu sudah musnah semuanya. Tuhan yang selalu engkau puji dan sembah itu, rupanya tidak menolongmu sedikit jua pun. Sia-sialah engkau beribadat dan menyembahNya.
Berbagai-bagai pula percakapan antara manusia sesama manusia, melihat nasib yang menimpa Nabi Ayub itu. Di antaranya ada yang berkata: Itulah tanda bahawa Ayub tidak ikhlas dalam ibadatnya, tidak beres sembahyang dan zakat hartanya.
Ada pula yang berkata: Ayublah manusia yang paling baik dan paling ikhlas ibadatnya. Kenapa Tuhan tidak memelihara hartanya? Kalau Tuhan memang Pengasih dan Penolong, maka Ayublah yang paling pantas dikasihi dan ditolong Tuhan.
Ada pula orang lainnya berkata: Semua itu terjadi, kerana Tuhan akan menguji keimanan Nabi Ayub dan mahu memberi pelajaran yang nyata kepada manusia.
Mendengar semua perkataan itu, Nabi Ayub tinggal tenang dan sabar. Tidak sedikitpun dia merasa sedih dan menyesal. Tidak sedikit juga menggoyangkan keimanan dan keikhlasannya dalam beribadat, malah sebaliknya, Nabi Ayub semakin kuat dan bersungguh-sungguh beribadat dan memuji Allah. Terhadap orang ramai itu, Nabi Ayub berkata: Semua itu, adalah kepunyaan Allah. Diberikan Allah kepadaku, kemudian diambil Allah kembali. Maka terpuji Allah yang telah memberi harta itu kepadaku dalam masa yang begitu lama dan Maha terpuji Tuhan yang telah mengambil kembali harta itu, kerana memang milikNya. Puji bagi Allah yang memberi dan mengambil, di waktu memberi nikmatNya dan mencabut nikmatNya itu kembali. Maha terpuji Tuhan yang mendatangkan bahagia dan menurunkan seksa. Dia Tuhan satu Raja dan segala raja. DiberikanNya kekuasaan dan kekayaan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia cabut kekuasaan dan kekayaan itu dan siapa saja yang Dia kehendaki.
Sehabis berkata begitu, Nabi Ayub kembali bersujud menyembah Allah dengan khusyuknya, lebih dari biasanya lagi.
Setelah melihat kejadian itu, Iblis merasa kecewa besar, gagal segala niat dan usahanya. Tetapi Iblis masih mempunyai akal dan daya-upaya lain. Dia segera datang menghadap Allah pula dan berkata: Ayub menerima nikmat dengan pujian dan menerima cubaan dengan sabar, itu adalah disebabkan kerana Ayub masih mempunyai anak yang banyak, kepada siapa dia dapat minta tolong dan dengan siapa dia dapat kaya kembali. Bila Engkau izinkan saya, ya Tuhan, untuk melenyapkan semua anak lelaki dan perempuannya, saya yakin bahawa Ayub akan nyata kekafiran dan keengkarannya terhadap Engkau.
Tuhan menjawab: Boleh engkau lenyapkan semua anak-anaknya, tetapi akan engkau lihat sendiri, bahawa Ayub akan tetap imannya, takkan berkurang sedikit juga.
Kembali Iblis mengumpulkan semua kakitangan dan pembantu-pembantunya. Semuanya bersiap memasuki istana anak-anak Ayub, lalu menewaskan mereka, serta menghancurkan mahligai-mahligai dan istana yang mereka diami.
Lalu Iblis pergi mendapatkan Nabi Ayub dan berkata: Seluruh anak dan mahligaimu sudah hancur luluh. Mereka ada yang mati kerana luka-lukanya dan ada pula kerana terbanting keras terhimpit barang-barang yang berat. Demikianlah Allah membalasi engkau, hai Ayub, atas semua ibadat engkau kepada Allah itu.
Dengan airmata bercucuran dan menangis tersedu-sedu, Ayub menjawab perkataan Iblis yang sedang berbentuk manusia yang berlagak teman itu: Allah memberi, Allah mengambil, Allah menghidupkan dan Allah mematikan. Atas semua itu aku memuji akan Allah yang menjalankan hakNya itu.
Nabi Ayub lalu sujud menyembah dan bersyukur memuji Tuhannya. Iblis kembali kecewa besar dan gagal lagi usahanya itu, tetapi Iblis tidak kekurangan daya-upayanya.
Dia kembali mendapatkan Tuhan Allah dan berkata: Dengan habisnya harta kekayaan dan anak-anaknya itu, Nabi Ayub masih tetap sabar, kerana ia yakin dengan badannya yang sihat dan kuat itu, dia masih dapat mengumpulkan harta dan beroleh anak kembali.
Izinkanlah saya sekarang juga untuk melenyapkan kesihatan badan Nabi Ayub, serta mendatangkan berbagai-bagai penyakit kepada-nya. Dengan hilangnya kesihatan badannya dan dengan adanya berbagai-bagai penyakit itu nanti akan terbuktilah kepadaMu, hai Tuhan, bahawa Ayub tidak ikhlas dalam ibadatnya kepada Engkau. Dengan hilangnya kesihatan dan datangnya penyakit itu, dia akan membelakangi Engkau, akan derhaka dan tidak memuji Engkau.
Tuhan ingin menjadikan Nabi Ayub seorang hambaNya yang benar-benar teguh memegang tampuk keimanannya, hambaNya yang tabah dan sabar, hambaNya yang tetap syukur dan memuji Allah, untuk dijadikan contoh bagi semua manusia dalam keimanan dan kesabarannya, lebih-lebih bagi orang-orang yang kehilangan harta, kehilangan anak dan pula bagi orang-orang yang ditimpa berbagai-bagai penyakit yang berat-berat.
Kepada Iblis diperbolehkan Allah untuk menjalankan tipu muslihatnya yang bagaimana juga hebatnya untuk menyesatkan keimanan Nabi Ayub yang teguh itu, kerana Tuhan Maha Mengetahui bahawa Ayub benar-benar teguh imannya, kuat dan tabah menderita, walaupun penderitaan yang bagaimana juga hebatnya, sedikitpun dia tidak akan lupa memuji syukur dan menyembah Tuhannya.
Iblis kembali muncul, menyeludup ke dalam tubuh Ayub. Lalu meniupkan kepada Ayub semacam penyakit yang amat berbahaya, sehingga kerananya, Nabi Ayub jatuh terhampar di tempat pembaringannya. Makin hari semakin kurus badannya, dia tidak berdaya; habis segala kekuatan dan kegagahannya. Mukanya muram dan pucat, dengan mata yang cukam. Semua penderitaannya ditanggungkannya dengan keimanan tak berkurang, malah semakin bertambah; bukan dengan keluh-kesah dan kesal, tetapi dengan tetap memuji-muji Allah.
Demikianlah penanggungan Nabi Ayub, bukan berhari-hari dan berbulan-bulan, tetapi bertahun-tahun lamanya, sehingga keadaan badan Nabi Ayub sungguh menyedihkan dan hampir-hampir tak sanggup hidup lagi tampaknya. Kerana sakitnya berjalan lama, mulailah berkurang jumlah teman dan kawannya, sehingga akhirnya tidak seorang juga yang datang menengok dan menolongnya, kerana tidak ada yang diharapkan lagi daripadanya. Teman satu-satunya yang masih tinggal di sampingnya, yang selalu menolong dia menanggungkan sengsara hidupnya ini, ialah isterinya sendiri, bernama Rahmah.
Isteri yang setia itu dengan tak kenal penat, meladeni Ayub yang sedang sakit payah itu dengan segala kasihmesra dan susah-payahnya. Segala kesakitan yang diderita Ayub, seakan-akan dia sendiri ikut menderitanya pula. Nabi Ayub dihibur dan diladeninya.hal mana menunjukkan keimanan seorang isteri yang kuat dan teguh, yang tidak kalah pula dengan keimanan suaminya sendiri.
Penderitaan Ayub dan isterinya (Rahmah), bukan hanya sampai di situ saja, penderitaan ini semakin melonjak lagi, lebih tinggi dan lebih hebat.
Ayub dan isterinya bukan hanya kehilangan hartabenda, anak, kesihatan badannya, kehilangan semua kawan dan temannya, tetapi ditarnbah lagi dengan penghinaan dan ejekan dan orang-orang bekas kawan dan temannva sendiri.
Mereka bukan kasihan dan datang menolong, tetapi mereka keberatan bila Ayub dan isterinya tetap berada di rumahnya dan bertetangga dengan mereka. Mereka bukan hanya merasa jijik saja melihat Ayub, tetapi juga takut kalau-kalau penyakitnya yang hebat itu dapat menular kepada mereka. Dengan tidak menaruh perasaan sedikitpun, mereka mendatangi Rahmah dan berkata: Hai Rahmah, kami takut kalau penyakitnya Ayub berpindah kepada anak-cucu kami, sebab itu keluarkanlah Ayub dan ketetanggaan kami dan kalau engkau tidak suka mengeluarkannya, maka kami akan mengeluarkannya dengan paksa!
Mendengar ucapan yang kasar dan menyayat perasaan itu, Rahmah melolong menangis dengan sekuat-kuat suaranya: Aduh nasib, mengapa mereka mengusir kami dan kampung dan rumah
kami sendiri?
Rahmah, isteri yang setia itu mengeluarkan segenap tenaga yang ada padanya, untuk memangku suaminya dan membawanya ke luar kampung dan tinggal di sebuah pondok yang sudah ditinggalkan orang. Di sanalah Nabi Ayub beserta isterinya menanggungkan derita lahir dan batin, dengan penuh kesabaran dan keimanan yang tidak pernah berkurangan.
Untuk penghidupannya, Rahmah terpaksa bekerja memotong-motong roti pada seorang pedagang roti. Setiap petang dia pulang mendapatkan suaminya, dengan membawa beberapa potong roti yang dihadiahkan orang kepadanya.
Tetapi setelah orang ramai tahu, bahawa Rahmah itu adalah isteri Ayub, maka pedagang roti itupun tidak membenarkannya bekerja lagi sebagai tukang potong roti, kerana khuatir kalau-kalau penyakit Ayub itu menulari roti yang akan dijualnya.
Kerana ketiadaan pekerjaan dan makanan, maka beberapa hari lamanya, baik Ayub mahupun isteninya tidak makan dan minum sedikitpun. Ya, penanggungan di balik penanggungan, penderitaan
di balik penderitaan.
Kerana sudah tidak tahan menahan lapar dan dahaga, Rahmah minta izin kepada Ayub untuk pergi menjalankan ikhtiar mencari makanan dan minuman. Melihat itu, Ayub berteriak kepada isterinya: Ya Rahmah, janganlah engkau pergi meninggalkan aku seorang diri, aku takut kalau engkau tidak kembali lagi !
Rahmah menjawab: Jangan khuatir, ya Saiyidi, selama hayat masih berada dalam tubuhku. Aku pergi hanya sebentar dan akan segera kembali lagi.
Maka pergilah Rahmah dan tidak lama kemudian dia pulang kembali dengan membawa sepotong roti dan air minum. Setelah Nabi Ayub melihat sepotong roti segar yang dibawa isterinya itu, Ayub mengira bahawa isterinya sudah menjual kehormatan dirinya untuk mendapatkan sepotong roti itu. Lalu Rahmah menceritakan kepada Ayub, bagaimana caranya ia mendapatkan roti itu: Ya, Saiyidi, aku bukan menjual kehormatan diriku, aku berlindung diri kepada Allah dari segala perbuatan yang menodai diriku. Roti ini aku perolehi sebagai tukaran dengan rambutku yang panjang.
Lalu Rahmah membukakan kepalanya yang tertutup itu, yang semula tertutup oleh rambut yang panjang kini sudah menjadi gondol samasekali.
Melihat kejadian itu, Ayub sangat sedih hatinya, lalu dia menangis, bukan menangisi nasibnya, tetapi menangisi rambut isterinya, kerana diantara yang paling menarik hatinya terhadap isterinya, ialah kerana rambutnya yang panjang itu menambah kecantikan isterinya yang amat cantik.
Berkatalah Rahmah: Janganlah engkau menangisi rambutku yang sudah hilang. Ketahuilah bahawa rambut itu akan tumbuh kembali dan mungkin akan lebih indah dari yang sudah hilang itu. Demikianlah katanya menghibur suaminya.
Mendengar jawapan isterinya itu, Ayub merasa puas dan senang hatinya. Dia kembali bersyukur, bertasbih, bertakbir memuji-muji Allah. Dia merasa puas dan senang atas segala penderitaan yang dialami dan ditanggungkannya dan seketika itu juga Nabi Ayub a.s. bermunajat (berbisik) dengan segenap jiwa raganya ke hadhrat Tuhan: Ya Allah, Tuhanku, aku redha kalau Engkau cabut daripadaku akan nikmat Mu yang bernama hartabenda, anak turunanku dan kesihatan badanku, bahkan aku redha kalau Engkau cabut dariku akan segala darah dan dagingku, serta kalau perlu boleh cabut segala tulang-belulang dan semua anggota badanku. Hanya aku berharap agar jangan sampai Engkau mencabut dua perkara (nikmat) Mu, iaitu akal fikiran dan lidahku, kerana aku memerlukan akal dan fikiran itu, guna mengingatMu dan aku memerlukan lidah itu, untuk dapat menyebut nama dan memujiMu.
Ya, dengan cara begitu, Nabi Ayub a.s. sesaat pun tak pernah lupa kepada Allah. Tak pernah ketinggalan menyebut dan memuji-muji Allah.
Setelah Iblis melihat bahawa Nabi Ayub dengan percobaan dan penderitaan-penderitaan yang sudah tiba di puncak ketinggian dan kehebatannya itu masih tetap sabar dengan keimanan yang tak goyang sedikitpun, maka Iblis masih belum putusasa. Dia kini mencoba membelokkan perhatiannya, bukan terhadap Nabi Ayub, tetapi terhadap isterinya.
Isteri Ayub sekarang ini mendapat godaan yang tidak terhingga dari Iblis lanatullahi alaihi. Iblis mencoba mengingat-ingatkan kepada isteri Ayub akan masa-masa yang silam, yang penuh dengan kemeawahan dan kesenangan; Iblis mencoba pula membanding-bandingkan kemewahan dan kesenangan yang silam itu dengan penderitaan dan kepahitan yang sedang mereka alami sekarang ini. Iblis mencoba menanamkan keluh-kesah dan putusasa kepada Rahmah.
Daya-upaya Iblis ini ada juga pengaruhnya sedikit. Pada suatu hari Rahmah duduklah di samping suaminya dan berkata:
Sampai bilakah Allah akan menyiksamu, ya Ayub? Ke mana perginya hartabenda kita, ke mana perginya anak-anak dan teman-teman kita? Ke mana tubuhmu yang sihat dan gagah itu?
Alangkah terkejut dan sedihnya hati Ayub mendengar kata-kata isterinya yang mulai berputar pendiriannya itu, kata-kata yang terang menunjukkan hilangnya keimanan dan kesabaran, bahkan kata-kata yang seakan-akan keluar dari jiwa yang tidak kenal Tuhan: kata-kata yang melupakan samasekali segala nikmat dan pemberian Allah yang berlimpah-limpah dalamasa yang panjang. Dia hanya mengingat akan cubaan Allah dalam waktu yang begitu singkat, harta dan anak serta kegagahan di waktu muda saja yang teringat olehnya.
Ayub menjaawab kata-kata isterinya dengan rasa pedih dalam hati: Sungguh engkau ini sudah dapat disesatkan syaitan dan Iblis. Engkau menangis atas kemewahan hidup yang telah hilang, anak-anak yang sudah meninggal.
Isterinya menjawab pula: Kenapa engkau tidak mendoa kepada Tuhan untuk melenyapkan kesedihan dan petaka atas dirimu ini."
Berapa tahunkah kita mendapat kesenangan dan bahagia? tanya Ayub pula.
Selama berpuluh-puluh tahun, jawab isterinya.
Berapa tahunkah kita menderita? tanya Nabi Ayub.
Baru tujuh tahun, jawab isterinya pula.
Dari itu aku malu kepada Tuhan meminta hilangnya petaka yang baru sebentar ini. Terbukti kepadaku, bahawa engkau sudah goyang pendirian dan menjadi tipis imanmu. Mulai hari ini, saya tidak mahu memakan makanan yang engkau buat, tidak mahu meminum minuman air yang engkau sajikan. Engkau tidak boleh lagi mengurus dan meladeniku. Sekarang juga engkau harus pergi.
Dengan harta kekayaan yang banyak, anak keturunan yang banyak pula dia tidak pernah sekali juga terlambat beribadat dan bersujud kepada Allah. Dia selalu memperhatikan dan menolong orang-orang yang melarat dan fakir miskin. Mendengar keputusan Malaikat itu, Iblis ingin menjalankan siasat kotornya. Iblis tak sudi kalau ada manusia di muka bumi ini tebal imannya kepada Allah, sempurna ibadat dan syukurnya. Tiap-tiap orang beriman itu, akan dicubanya membelokkan dan menyesatkannya. Dengan berbagai cara dan akal yang busuk, dengan pujukan yang halus dan dengan senjatanya yang paling ampuh, ialah dengan berbohong.
Iblis ini lalu datang menghadap ke hadhrat Allah, lalu berkata:
Ya, Tuhan! HambaMu yang bernama Ayub itu bukanlah beribadat menyembah Engkau, bukan bersyukur memuji Engkau. Ibadat dan syukurnya itu hanya kerana hartanya yang banyak, keturunannya yang cukup. Dia menyembah Engkau itu hanya agar Engkau menambah harta dan keturunannya. Dia bersyukur kepada Engkau itu agar semua harta dan anak-anaknya itu tetap banyak, supaya kambing dan biri-birinya yang berjumlah ribuan itu tetap tidak berkurang, supaya unta dan lembunya yang berjumlah ratusan itu semakin Engkau tambah, supaya binatang perahan dan yang dikerjakan semakin gemuk-gemuk dan kuat-kuat, supaya anak lelaki dan perempuannya yang sudah banyak itu ditambah banyak lagi. Ayub hanya menyembah harta, bukan menyembah Engkau. Mensyukuri anak keturunannya, bukan mensyukuri Engkau. Cuba Engkau izinkan saya merampas harta kekayaan itu, tentu dia tidak akan menyembah Engkau lagi. Sebab itu cubalah izinkan saya, ya Tuhan, untuk melenyapkan semua harta kekayaan itu.
Allah menjawab: Ayub adalah hambaKu yang beriman penuh dengan keimanan yang suci ikhlas. Dia menyembahKu kerana memang dia menginsafi akan keharusan menyembahKu ini. Ibadatnya suci dan pengaruh harta dunia, suci dari sifat-sifat loba dan tamak.
Tetapi kerana Allah ingin menjadikan Nabi Ayub lebih suci dan bersih imannya, agar dapat menjadi contoh teladan tentang keimanan dan kesabaran bagi seluruh ummat manusia, si Iblis diberiNya izin untuk merampas semua harta kekayaan Ayub. Tuhan lalu berfirman kepada Iblis: Boleh kau coba, kumpulkanlah semua kakitangan dan kawan-kawanmu. Lakukanlah apa-apa yang kamu rencanakan itu. Perhatikanlah nanti bagaimana kesudahannya!
Iblis lalu bersiap mengumpulkan semua kakitangannya, semua tentera dan pembantu-pembantunya dan dia berkata kepada mereka: Tuhan sudah mengizinkan kita untuk merampas harta kepunyaan Ayub, agar Ayub menjadi orang melarat, agar dengan kehilangan hartanya itu, hilang pula keimanan dan ibadatnya."
Dalam waktu sebentar saja, hilang lenyaplah semua harta dan kekayaan Nabi Ayub itu. Tidak seekor pun kambing atau biri-birinya lagi yang tinggal, tidak seekor pula unta dan lembunya, kebun dan tanaman-tanamannya pun habis kesemuanya.
Dengan berbentuk sebagai seorang tua yang berpengalaman dan penuh dengan kasihsayang, Iblis itu lalu datang kepada Ayub mahu menggodanya; dia berkata: Sekarang hartamu sudah musnah semuanya. Tuhan yang selalu engkau puji dan sembah itu, rupanya tidak menolongmu sedikit jua pun. Sia-sialah engkau beribadat dan menyembahNya.
Berbagai-bagai pula percakapan antara manusia sesama manusia, melihat nasib yang menimpa Nabi Ayub itu. Di antaranya ada yang berkata: Itulah tanda bahawa Ayub tidak ikhlas dalam ibadatnya, tidak beres sembahyang dan zakat hartanya.
Ada pula yang berkata: Ayublah manusia yang paling baik dan paling ikhlas ibadatnya. Kenapa Tuhan tidak memelihara hartanya? Kalau Tuhan memang Pengasih dan Penolong, maka Ayublah yang paling pantas dikasihi dan ditolong Tuhan.
Ada pula orang lainnya berkata: Semua itu terjadi, kerana Tuhan akan menguji keimanan Nabi Ayub dan mahu memberi pelajaran yang nyata kepada manusia.
Mendengar semua perkataan itu, Nabi Ayub tinggal tenang dan sabar. Tidak sedikitpun dia merasa sedih dan menyesal. Tidak sedikit juga menggoyangkan keimanan dan keikhlasannya dalam beribadat, malah sebaliknya, Nabi Ayub semakin kuat dan bersungguh-sungguh beribadat dan memuji Allah. Terhadap orang ramai itu, Nabi Ayub berkata: Semua itu, adalah kepunyaan Allah. Diberikan Allah kepadaku, kemudian diambil Allah kembali. Maka terpuji Allah yang telah memberi harta itu kepadaku dalam masa yang begitu lama dan Maha terpuji Tuhan yang telah mengambil kembali harta itu, kerana memang milikNya. Puji bagi Allah yang memberi dan mengambil, di waktu memberi nikmatNya dan mencabut nikmatNya itu kembali. Maha terpuji Tuhan yang mendatangkan bahagia dan menurunkan seksa. Dia Tuhan satu Raja dan segala raja. DiberikanNya kekuasaan dan kekayaan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia cabut kekuasaan dan kekayaan itu dan siapa saja yang Dia kehendaki.
Sehabis berkata begitu, Nabi Ayub kembali bersujud menyembah Allah dengan khusyuknya, lebih dari biasanya lagi.
Setelah melihat kejadian itu, Iblis merasa kecewa besar, gagal segala niat dan usahanya. Tetapi Iblis masih mempunyai akal dan daya-upaya lain. Dia segera datang menghadap Allah pula dan berkata: Ayub menerima nikmat dengan pujian dan menerima cubaan dengan sabar, itu adalah disebabkan kerana Ayub masih mempunyai anak yang banyak, kepada siapa dia dapat minta tolong dan dengan siapa dia dapat kaya kembali. Bila Engkau izinkan saya, ya Tuhan, untuk melenyapkan semua anak lelaki dan perempuannya, saya yakin bahawa Ayub akan nyata kekafiran dan keengkarannya terhadap Engkau.
Tuhan menjawab: Boleh engkau lenyapkan semua anak-anaknya, tetapi akan engkau lihat sendiri, bahawa Ayub akan tetap imannya, takkan berkurang sedikit juga.
Kembali Iblis mengumpulkan semua kakitangan dan pembantu-pembantunya. Semuanya bersiap memasuki istana anak-anak Ayub, lalu menewaskan mereka, serta menghancurkan mahligai-mahligai dan istana yang mereka diami.
Lalu Iblis pergi mendapatkan Nabi Ayub dan berkata: Seluruh anak dan mahligaimu sudah hancur luluh. Mereka ada yang mati kerana luka-lukanya dan ada pula kerana terbanting keras terhimpit barang-barang yang berat. Demikianlah Allah membalasi engkau, hai Ayub, atas semua ibadat engkau kepada Allah itu.
Dengan airmata bercucuran dan menangis tersedu-sedu, Ayub menjawab perkataan Iblis yang sedang berbentuk manusia yang berlagak teman itu: Allah memberi, Allah mengambil, Allah menghidupkan dan Allah mematikan. Atas semua itu aku memuji akan Allah yang menjalankan hakNya itu.
Nabi Ayub lalu sujud menyembah dan bersyukur memuji Tuhannya. Iblis kembali kecewa besar dan gagal lagi usahanya itu, tetapi Iblis tidak kekurangan daya-upayanya.
Dia kembali mendapatkan Tuhan Allah dan berkata: Dengan habisnya harta kekayaan dan anak-anaknya itu, Nabi Ayub masih tetap sabar, kerana ia yakin dengan badannya yang sihat dan kuat itu, dia masih dapat mengumpulkan harta dan beroleh anak kembali.
Izinkanlah saya sekarang juga untuk melenyapkan kesihatan badan Nabi Ayub, serta mendatangkan berbagai-bagai penyakit kepada-nya. Dengan hilangnya kesihatan badannya dan dengan adanya berbagai-bagai penyakit itu nanti akan terbuktilah kepadaMu, hai Tuhan, bahawa Ayub tidak ikhlas dalam ibadatnya kepada Engkau. Dengan hilangnya kesihatan dan datangnya penyakit itu, dia akan membelakangi Engkau, akan derhaka dan tidak memuji Engkau.
Tuhan ingin menjadikan Nabi Ayub seorang hambaNya yang benar-benar teguh memegang tampuk keimanannya, hambaNya yang tabah dan sabar, hambaNya yang tetap syukur dan memuji Allah, untuk dijadikan contoh bagi semua manusia dalam keimanan dan kesabarannya, lebih-lebih bagi orang-orang yang kehilangan harta, kehilangan anak dan pula bagi orang-orang yang ditimpa berbagai-bagai penyakit yang berat-berat.
Kepada Iblis diperbolehkan Allah untuk menjalankan tipu muslihatnya yang bagaimana juga hebatnya untuk menyesatkan keimanan Nabi Ayub yang teguh itu, kerana Tuhan Maha Mengetahui bahawa Ayub benar-benar teguh imannya, kuat dan tabah menderita, walaupun penderitaan yang bagaimana juga hebatnya, sedikitpun dia tidak akan lupa memuji syukur dan menyembah Tuhannya.
Iblis kembali muncul, menyeludup ke dalam tubuh Ayub. Lalu meniupkan kepada Ayub semacam penyakit yang amat berbahaya, sehingga kerananya, Nabi Ayub jatuh terhampar di tempat pembaringannya. Makin hari semakin kurus badannya, dia tidak berdaya; habis segala kekuatan dan kegagahannya. Mukanya muram dan pucat, dengan mata yang cukam. Semua penderitaannya ditanggungkannya dengan keimanan tak berkurang, malah semakin bertambah; bukan dengan keluh-kesah dan kesal, tetapi dengan tetap memuji-muji Allah.
Demikianlah penanggungan Nabi Ayub, bukan berhari-hari dan berbulan-bulan, tetapi bertahun-tahun lamanya, sehingga keadaan badan Nabi Ayub sungguh menyedihkan dan hampir-hampir tak sanggup hidup lagi tampaknya. Kerana sakitnya berjalan lama, mulailah berkurang jumlah teman dan kawannya, sehingga akhirnya tidak seorang juga yang datang menengok dan menolongnya, kerana tidak ada yang diharapkan lagi daripadanya. Teman satu-satunya yang masih tinggal di sampingnya, yang selalu menolong dia menanggungkan sengsara hidupnya ini, ialah isterinya sendiri, bernama Rahmah.
Isteri yang setia itu dengan tak kenal penat, meladeni Ayub yang sedang sakit payah itu dengan segala kasihmesra dan susah-payahnya. Segala kesakitan yang diderita Ayub, seakan-akan dia sendiri ikut menderitanya pula. Nabi Ayub dihibur dan diladeninya.hal mana menunjukkan keimanan seorang isteri yang kuat dan teguh, yang tidak kalah pula dengan keimanan suaminya sendiri.
Penderitaan Ayub dan isterinya (Rahmah), bukan hanya sampai di situ saja, penderitaan ini semakin melonjak lagi, lebih tinggi dan lebih hebat.
Ayub dan isterinya bukan hanya kehilangan hartabenda, anak, kesihatan badannya, kehilangan semua kawan dan temannya, tetapi ditarnbah lagi dengan penghinaan dan ejekan dan orang-orang bekas kawan dan temannva sendiri.
Mereka bukan kasihan dan datang menolong, tetapi mereka keberatan bila Ayub dan isterinya tetap berada di rumahnya dan bertetangga dengan mereka. Mereka bukan hanya merasa jijik saja melihat Ayub, tetapi juga takut kalau-kalau penyakitnya yang hebat itu dapat menular kepada mereka. Dengan tidak menaruh perasaan sedikitpun, mereka mendatangi Rahmah dan berkata: Hai Rahmah, kami takut kalau penyakitnya Ayub berpindah kepada anak-cucu kami, sebab itu keluarkanlah Ayub dan ketetanggaan kami dan kalau engkau tidak suka mengeluarkannya, maka kami akan mengeluarkannya dengan paksa!
Mendengar ucapan yang kasar dan menyayat perasaan itu, Rahmah melolong menangis dengan sekuat-kuat suaranya: Aduh nasib, mengapa mereka mengusir kami dan kampung dan rumah
kami sendiri?
Rahmah, isteri yang setia itu mengeluarkan segenap tenaga yang ada padanya, untuk memangku suaminya dan membawanya ke luar kampung dan tinggal di sebuah pondok yang sudah ditinggalkan orang. Di sanalah Nabi Ayub beserta isterinya menanggungkan derita lahir dan batin, dengan penuh kesabaran dan keimanan yang tidak pernah berkurangan.
Untuk penghidupannya, Rahmah terpaksa bekerja memotong-motong roti pada seorang pedagang roti. Setiap petang dia pulang mendapatkan suaminya, dengan membawa beberapa potong roti yang dihadiahkan orang kepadanya.
Tetapi setelah orang ramai tahu, bahawa Rahmah itu adalah isteri Ayub, maka pedagang roti itupun tidak membenarkannya bekerja lagi sebagai tukang potong roti, kerana khuatir kalau-kalau penyakit Ayub itu menulari roti yang akan dijualnya.
Kerana ketiadaan pekerjaan dan makanan, maka beberapa hari lamanya, baik Ayub mahupun isteninya tidak makan dan minum sedikitpun. Ya, penanggungan di balik penanggungan, penderitaan
di balik penderitaan.
Kerana sudah tidak tahan menahan lapar dan dahaga, Rahmah minta izin kepada Ayub untuk pergi menjalankan ikhtiar mencari makanan dan minuman. Melihat itu, Ayub berteriak kepada isterinya: Ya Rahmah, janganlah engkau pergi meninggalkan aku seorang diri, aku takut kalau engkau tidak kembali lagi !
Rahmah menjawab: Jangan khuatir, ya Saiyidi, selama hayat masih berada dalam tubuhku. Aku pergi hanya sebentar dan akan segera kembali lagi.
Maka pergilah Rahmah dan tidak lama kemudian dia pulang kembali dengan membawa sepotong roti dan air minum. Setelah Nabi Ayub melihat sepotong roti segar yang dibawa isterinya itu, Ayub mengira bahawa isterinya sudah menjual kehormatan dirinya untuk mendapatkan sepotong roti itu. Lalu Rahmah menceritakan kepada Ayub, bagaimana caranya ia mendapatkan roti itu: Ya, Saiyidi, aku bukan menjual kehormatan diriku, aku berlindung diri kepada Allah dari segala perbuatan yang menodai diriku. Roti ini aku perolehi sebagai tukaran dengan rambutku yang panjang.
Lalu Rahmah membukakan kepalanya yang tertutup itu, yang semula tertutup oleh rambut yang panjang kini sudah menjadi gondol samasekali.
Melihat kejadian itu, Ayub sangat sedih hatinya, lalu dia menangis, bukan menangisi nasibnya, tetapi menangisi rambut isterinya, kerana diantara yang paling menarik hatinya terhadap isterinya, ialah kerana rambutnya yang panjang itu menambah kecantikan isterinya yang amat cantik.
Berkatalah Rahmah: Janganlah engkau menangisi rambutku yang sudah hilang. Ketahuilah bahawa rambut itu akan tumbuh kembali dan mungkin akan lebih indah dari yang sudah hilang itu. Demikianlah katanya menghibur suaminya.
Mendengar jawapan isterinya itu, Ayub merasa puas dan senang hatinya. Dia kembali bersyukur, bertasbih, bertakbir memuji-muji Allah. Dia merasa puas dan senang atas segala penderitaan yang dialami dan ditanggungkannya dan seketika itu juga Nabi Ayub a.s. bermunajat (berbisik) dengan segenap jiwa raganya ke hadhrat Tuhan: Ya Allah, Tuhanku, aku redha kalau Engkau cabut daripadaku akan nikmat Mu yang bernama hartabenda, anak turunanku dan kesihatan badanku, bahkan aku redha kalau Engkau cabut dariku akan segala darah dan dagingku, serta kalau perlu boleh cabut segala tulang-belulang dan semua anggota badanku. Hanya aku berharap agar jangan sampai Engkau mencabut dua perkara (nikmat) Mu, iaitu akal fikiran dan lidahku, kerana aku memerlukan akal dan fikiran itu, guna mengingatMu dan aku memerlukan lidah itu, untuk dapat menyebut nama dan memujiMu.
Ya, dengan cara begitu, Nabi Ayub a.s. sesaat pun tak pernah lupa kepada Allah. Tak pernah ketinggalan menyebut dan memuji-muji Allah.
Setelah Iblis melihat bahawa Nabi Ayub dengan percobaan dan penderitaan-penderitaan yang sudah tiba di puncak ketinggian dan kehebatannya itu masih tetap sabar dengan keimanan yang tak goyang sedikitpun, maka Iblis masih belum putusasa. Dia kini mencoba membelokkan perhatiannya, bukan terhadap Nabi Ayub, tetapi terhadap isterinya.
Isteri Ayub sekarang ini mendapat godaan yang tidak terhingga dari Iblis lanatullahi alaihi. Iblis mencoba mengingat-ingatkan kepada isteri Ayub akan masa-masa yang silam, yang penuh dengan kemeawahan dan kesenangan; Iblis mencoba pula membanding-bandingkan kemewahan dan kesenangan yang silam itu dengan penderitaan dan kepahitan yang sedang mereka alami sekarang ini. Iblis mencoba menanamkan keluh-kesah dan putusasa kepada Rahmah.
Daya-upaya Iblis ini ada juga pengaruhnya sedikit. Pada suatu hari Rahmah duduklah di samping suaminya dan berkata:
Sampai bilakah Allah akan menyiksamu, ya Ayub? Ke mana perginya hartabenda kita, ke mana perginya anak-anak dan teman-teman kita? Ke mana tubuhmu yang sihat dan gagah itu?
Alangkah terkejut dan sedihnya hati Ayub mendengar kata-kata isterinya yang mulai berputar pendiriannya itu, kata-kata yang terang menunjukkan hilangnya keimanan dan kesabaran, bahkan kata-kata yang seakan-akan keluar dari jiwa yang tidak kenal Tuhan: kata-kata yang melupakan samasekali segala nikmat dan pemberian Allah yang berlimpah-limpah dalamasa yang panjang. Dia hanya mengingat akan cubaan Allah dalam waktu yang begitu singkat, harta dan anak serta kegagahan di waktu muda saja yang teringat olehnya.
Ayub menjaawab kata-kata isterinya dengan rasa pedih dalam hati: Sungguh engkau ini sudah dapat disesatkan syaitan dan Iblis. Engkau menangis atas kemewahan hidup yang telah hilang, anak-anak yang sudah meninggal.
Isterinya menjawab pula: Kenapa engkau tidak mendoa kepada Tuhan untuk melenyapkan kesedihan dan petaka atas dirimu ini."
Berapa tahunkah kita mendapat kesenangan dan bahagia? tanya Ayub pula.
Selama berpuluh-puluh tahun, jawab isterinya.
Berapa tahunkah kita menderita? tanya Nabi Ayub.
Baru tujuh tahun, jawab isterinya pula.
Dari itu aku malu kepada Tuhan meminta hilangnya petaka yang baru sebentar ini. Terbukti kepadaku, bahawa engkau sudah goyang pendirian dan menjadi tipis imanmu. Mulai hari ini, saya tidak mahu memakan makanan yang engkau buat, tidak mahu meminum minuman air yang engkau sajikan. Engkau tidak boleh lagi mengurus dan meladeniku. Sekarang juga engkau harus pergi.
NABI YUNUS
Sebuah negeri Ninuwi namanya, dimana setiap rumah penuh dengan berhala yang disembah dan hampir setiap penduduknya hidup dalam kejahilan, kegelapan, kesesatan dan berbagai hal yang jauh dari kebenaran.
Kepada mereka itulah Nabi Yunus diutus Tuhan untuk menyingkapkan kegelapan dan membawa cahaya terang. Untuk membimbing akal dan fikiran mereka, agar dapat memikirkan alam yang luas bukan hanya alam yang sempit, agar dapatlah mereka menginsafi bahawa berhala itu adalah barang buatan yang tidak ada gunanya disembah, yang harus disembah adalah Allah yang menjadikan bumi dan langit, bulan, matahari dan segalanya.
Mereka terkejut mendengar keterangan baru itu, yang memang bertentangan dengan apa yang sudah menjadi tradisi kehidupan mereka turun temurun; iaitu menyembah dan memuja batu batu yang berupakan patung atau berhala.
Mereka bukan hanya terkejut saja, tetapi kerana sudah menjadi tabiat pula bagi mereka, bahawa mereka tidak akan tunduk menurutkan kata seseorang yang dianggapnya bukan raja dan bukan bangsawan, tidak mempunyai kekayaan dan kekuasaan apa apa, tetapi hanya orang biasa saja.
Sebagaimana nasibnya semua Nabi dan Rasul, demikian pulalah nasib dan pengalaman yang dialami oleh Nabi Yunus. Dia ditentang dan didebat orang dengan berbagai bagai tentangan dan debatan. Dengan sabar dan tahan hati, dengan lunak dan budi yang tinggi, Nabi Yunus menghadapi mereka. Bukan sebulan dua, tetapi sampai bertahun tahun pula, namun mereka tetap mengengkari akan ajakan Nabi Yunus.
Kerana keengkaran yang tidak boleh ditawar tawar ini, Nabi Yunus mulai khuatir, kalau kalau mereka itu akan mengalami pula seksa dan azab Tuhan, sebagaimana yang telah dialami oleh bangsa bangsa yang terdahulu dari mereka. Hal ini dikemukakan Nabi Yunus kepada mereka: Saya khuatir kalau seksaan Allah turun atas kamu sekalian, kerana keengkaran kamu yang tidak boleh ditawar tawar ini dan tidak seorang juga yang dapat menghindarkan dirinya dan seksaan Allah itu, selain orang yang dikehendaki Allah yaitu orang orang beriman dan tunduk kepada ajaran Allah.
Lucu dalam pendengaran telinga mereka peringatan Nabi Yunus yang demikian itu. Kerana semua itu mereka anggap hanya omong kosong belaka. Mereka menjawab peringatan ini dengan kesombongan: Kami tidak akan tunduk kepadamu, kami tidak takut akan seksa Tuhanmu itu. Datangkanlah siksa itu kalau engkau memang benar.
Nabi Yunus tidak dapat menahan sabarnya lagi. Hatinya marah tidak terhingga, harapannya putus samasekali. Nabi Yunus berjanji tidak akan berhubungan dan berkata lagi di hadapan mereka.
Nabi Yunus lalu berjalan, bertolak meninggalkan kampung dan bangsa yang engkar itu. Dia pergi merantau ke negeri lain, dengan hati yang kesal dan putusasa.
Tidak lama dan belum jauh perjalanan Nabi Yunus dari negeri itu, turunlah seksa Tuhan atas penduduk negeri yang sombong dan bongkak itu. Mula mula hawa panas meningkat tinggi kerananya warna kulit mereka berobah seketika itu juga, menjadi jelek serta banyak cacat cacatnya. Derita hawa panas semakin meningkat tinggi lagi, sehingga mereka merasakan benar pedihnya seksaan itu. Mulai timbul di hatinya, rasa takut dan mereka mulai percaya akan kata kata Nabi Yunus itu memang benar. Sekarang mereka menjerit jerit mencari Yunus, ingin taubat serta ingin menurut perintahnya. Mereka teringat akan azab dan seksa yang pernah diturunkan terhadap kaumnya Nabi Nuh, terhadap bangsa Ad dan Tsamud. Mereka ingin bertaubat dan menurut akan segala ajaran Nabi Yunus. Tetapi sayang, Nabi Yunus sudah pergi dan tidak seorang pun mengetahui ke mana perginya.
Hawa makin meningkat juga panasnya. Kaum ibu sudah tak menghiraukan lagi anak anak bayi mereka sendiri, begitu pula keadaan kambing dan biri biri sama sama tidak diladeni lagi, lembu dan unta pun demikian pula keadaannya. Baik manusia mahupun binatang, masing masing memikirkan nasibnya sendiri.
Di kala itulah mereka minta taubat dan ampun sehebat hebatnya kepada Allah yang pernah diajarkan Nabi Yunus kepada mereka yang pada waktu itu mereka tolak. Karena taubat dan
kehendaknya itu benar benar keluar dan hati mereka, taubat yang ikhlas seikhlas ikhlasnya, segera Allah menghentikan seksaan yang telah diturunkan itu.
Mereka kembali hidup dalam keadaan biasa, aman dan tenteram. Mereka menginginkan agar Nabi Yunus segera kembali kerana mereka merasa rindu kepada Yunus dan pelajaran Nabi dan Rasul, sebagai guru dan kalau perlu akan mereka angkat menjadi raja mereka.
Tetapi Yunus tidak kembali. Dia berjalan terus-menerus dengan hatinya yang kesal dan.........
Sesudah lama berjalan, akhirnya Yunus tiba di pinggir laut, di tepi sebuah pantai. Tampaklah olehnya sekelompok manusia yang sedang bersiap untuk belayar menyeberangi lautan luas itu dengan sebuah perahu. Yunus minta agar diizinkan turut menumpang dan bersama sama belayar. Sebagai tamu, Nabi Yunus mereka sambut dengan penghormatan dan kemuliaan. Permintaan Yunus mereka kabulkan, apalagi setelah terbukti Yunus adalah seorang yang baik budi serta halus tuturbahasanya. Penghormatan-nya terhadap Yunus semakin bertambah sehingga Yunus benar-benar menjadi tamu yang paling terhormat di kalangan mereka.
Perahu belayar dengan lancarnya mengarungi samudera luas akhirnya hilanglah tepi pantai dan pandangan mata. Mereka tiba di tengah tengah samudera luas yang tak berpinggir.
Dengan takdir Allah, di tengah tengah samudera yang luas itu, perahu tersebut menjumpai gelombang yang sangat tinggi, gulung menggulung, sebagai gunung gunung yang sedang
berkejar kejaran, seolah olah hendak menyerang bahtera kecil yang sedang mereka kayuh. Hati para penumpang berdebar hebat, bahaya maut menghadang mereka. Tidak ada jalan lain yang dapat menghindarkan diri dan bahaya samudera itu selain dengan mengurangi muatan perahunya. Semua barang muatan pun segera dilemparkan ke luar perahu, tetapi perahu masih dalam bahaya, sehingga terpaksa harus mengurangi muatan lainnya, iaitu muatan yang berupakan manusia.
Tetapi siapakah di antara mereka yang harus dilemparkan ke laut, untuk menjaga keselamatan jiwa orang yang banyak itu? Untuk ini, tidak dapat hanya dengan cara ditunjuk belaka. Akhirnya mereka tetapkan mengadakan undian saja, untuk menentukan siapa yang harus berkorban demi keselamatan jiwa lainnya. Mereka rela menjalankan korban jiwa dilemparkan ke laut, bila takdir menentukan demikian dengan undian itu.
Setelah undian dilangsungkan, maka jatuhlah pada nama Nabi Yunus. Tetapi kerana Yunus adalah tamu yang terhormat yang harus mereka pelihara dan menjaganya bersama sama, maka mereka tidak sudi menjalankan putusan undian terhadap diri Yunus di kala itu. Mereka tetapkan mengadakan undian yang kedua kalinya. Tetapi kali yang kedua ini pun, undian itu jatuh pada din Nabi Yunus pula. Timbul keyakinan dalam hati Yunus, bahawa jatuhnya undian yang berulang dua kali atas dirinya itu, adalah hal yang sangat luarbiasa dan mungkin ini mengandung rahsia yang luarbiasa pula.
Dengan demikian, Nabi Yunus tidak suka undian itu diulang ketiga kalinya. Dia minta supaya ketetapan undian yang sudah berlangsung dua kali itu dijalankan. Dia sendiri bersiap untuk dilemparkan ke dalam laut, sedia untuk ditelan oleh gelombang yang datang mengganas itu. Mungkin ini sebagai peringatan Allah atas dirinya, yang telah meninggalkan kewajibannya sendiri menghadapi kaumnya dengan berputusasa dan hijrah sebelum ada perintah Allah untuk berhijrah.
Sesudah mengucapkan selamat tinggal dan selamat jalan kepada semua penumpang dan kawan kawan seperahu, Nabi Yunus lalu melompat ketengah tengah gelombang besar itu, menyerahkan nasibnya kepada Allah s.w.t.
Ikan besar yang sedang melewati dekat tempat itu, mendapat wahyu dan Allah untuk menelan Nabi Yunus dengan syarat, bahawa ikan itu tidak akan memakan daging Nabi Yunus dan tidak akan merusak tulang belulangnya, kerana dia itu adalah Nabi Allah yang mulia, seorang Nabi yang terburu mengambil keputusan dan diserang putusasa. Hal itu dijalankan Nabi Yunus untuk menebus kesalahan dan keputusasaannya sendiri.
Nabi Yunus ditelan oleh ikan besar itu, masuk ke dalam perutnya dengan selamat, tidak kurang suatu apa. Kemudian ikan besar itu berenang ke sana ke mari ditengah gelombang yang besar, kadang kadang ke permukaan samudera dan kadang kadang pula sampai ke dasar laut yang jauh di bawah.
Gelap di bilik gelap, dengan perasaan yang tidak dapat dibayangkan dengan pena. Tetapi dia rela, dia sabar dan tabah untuk menebus kesalahan keslahannya dan selalu berdoa, mudah mudahan Allah mengampuninya dan kesalahan itu dan Allah sudi menurunkan rahmat yang lebih besar atas diri dan bangsanya.
Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, ya Tuhanku, dan sungguh saya ini orang yang sudah aniaya terhadap diriku sendiri.
Demikianlah ucapan Nabi Yunus di dalam perut ikan yang gelap gelita itu. Doa dan permohonan Nabi Yunus itu didengar oleh Allah, kerana Tuhan Maha Mendengar akan doa hambaNya, di mana saja hambaNya itu berdoa kepadaNya. Ikan diwahyukan Allah untuk memuntahkan tamu yang ada dalam perutnya itu ke atas daratan di tepi pantai. Keadaan Nabi Yunus sekeluar dan kapal selam yang berjiwa itu sangat luarbiasa, badannya kurus kering lemah longlai dan tidak mempunyai daya lagi.
Dengan rahmat Allah atas din Nabi Yunus, di tempat dia terdampar itu, lalu tumbuh sepohon yaqtin yang berbuah dan berdaun rimbun. Buahnya lalu dimakan oleh Nabi Yunus dan di bawah naungan daunnya yang rimbun itulah Nabi Yunus ber-lindung dad terikan panas matahari.
Berhubung dengan kejadian atas din Nabi Yunus mi, Allah dengan tegas membukakan rahsianya dengan firmanNya Surah as-Saffat, ayat i~ dan 144:
Kalau bukanlah dia (Yunus), yang sebelumnya banyak menyebut nama Allah (ibadat), nescaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari kiamat.
Jadi nyatalah bahawa yang menyebabkan dia dapat tetap hidup dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam, tanpa udara, makanan dan minuman itu, adalah lantaran zikir dan ibadat yang banyak dilakukannya sebelum kejadian itu. Zikir dan ibadat itulah yang dapat menjadi udara, makanan dan minumannya.
Sungguh beruntunglah manusia yang dalam hidupnya banyak melakukan zikir dan ibadat terhadap Allah, Tuhan Rabbul Alamin.
Lama kelamaan Nabi Yunus menjadi sihat dan kuat kembali dan mulai merasakan keenakan hidup di tengah udara yang cukup.
Baru saja Nabi Yunus dapat duduk dan berdiri, perintah Allah datang berupa wahyu kepadanya: Kembalilah engkau sekarang juga ke kampung halamanmu karena bangsamu sedang menunggu pinpinanmu. Mereka sudah beriman semuanya dengan keimanan yang suci murni. Mereka sudah membuang segala berhala dan patung yang selama ini mereka puja dan sembah. Mereka sedang bersusah payah mencari engkau, tetapi tidak bertemu.
Nabi Yunus kembali ke kampung halamannya, bertemu dengan sanak saudaranya dan bangsanya. Nabi Yunus lalu sujud bersimpuh memuji dan menyembah Allah, diikuti oleh seluruh keluarga dan bangsanya yang sudah taubat dan sedar itu.
Dengan merekalah Nabi Yunus hidup dalam keadaan yang aman dan tenteram, merupakan suatu masyarakat manusia makmur dan diredhai Allah.
Kepada mereka itulah Nabi Yunus diutus Tuhan untuk menyingkapkan kegelapan dan membawa cahaya terang. Untuk membimbing akal dan fikiran mereka, agar dapat memikirkan alam yang luas bukan hanya alam yang sempit, agar dapatlah mereka menginsafi bahawa berhala itu adalah barang buatan yang tidak ada gunanya disembah, yang harus disembah adalah Allah yang menjadikan bumi dan langit, bulan, matahari dan segalanya.
Mereka terkejut mendengar keterangan baru itu, yang memang bertentangan dengan apa yang sudah menjadi tradisi kehidupan mereka turun temurun; iaitu menyembah dan memuja batu batu yang berupakan patung atau berhala.
Mereka bukan hanya terkejut saja, tetapi kerana sudah menjadi tabiat pula bagi mereka, bahawa mereka tidak akan tunduk menurutkan kata seseorang yang dianggapnya bukan raja dan bukan bangsawan, tidak mempunyai kekayaan dan kekuasaan apa apa, tetapi hanya orang biasa saja.
Sebagaimana nasibnya semua Nabi dan Rasul, demikian pulalah nasib dan pengalaman yang dialami oleh Nabi Yunus. Dia ditentang dan didebat orang dengan berbagai bagai tentangan dan debatan. Dengan sabar dan tahan hati, dengan lunak dan budi yang tinggi, Nabi Yunus menghadapi mereka. Bukan sebulan dua, tetapi sampai bertahun tahun pula, namun mereka tetap mengengkari akan ajakan Nabi Yunus.
Kerana keengkaran yang tidak boleh ditawar tawar ini, Nabi Yunus mulai khuatir, kalau kalau mereka itu akan mengalami pula seksa dan azab Tuhan, sebagaimana yang telah dialami oleh bangsa bangsa yang terdahulu dari mereka. Hal ini dikemukakan Nabi Yunus kepada mereka: Saya khuatir kalau seksaan Allah turun atas kamu sekalian, kerana keengkaran kamu yang tidak boleh ditawar tawar ini dan tidak seorang juga yang dapat menghindarkan dirinya dan seksaan Allah itu, selain orang yang dikehendaki Allah yaitu orang orang beriman dan tunduk kepada ajaran Allah.
Lucu dalam pendengaran telinga mereka peringatan Nabi Yunus yang demikian itu. Kerana semua itu mereka anggap hanya omong kosong belaka. Mereka menjawab peringatan ini dengan kesombongan: Kami tidak akan tunduk kepadamu, kami tidak takut akan seksa Tuhanmu itu. Datangkanlah siksa itu kalau engkau memang benar.
Nabi Yunus tidak dapat menahan sabarnya lagi. Hatinya marah tidak terhingga, harapannya putus samasekali. Nabi Yunus berjanji tidak akan berhubungan dan berkata lagi di hadapan mereka.
Nabi Yunus lalu berjalan, bertolak meninggalkan kampung dan bangsa yang engkar itu. Dia pergi merantau ke negeri lain, dengan hati yang kesal dan putusasa.
Tidak lama dan belum jauh perjalanan Nabi Yunus dari negeri itu, turunlah seksa Tuhan atas penduduk negeri yang sombong dan bongkak itu. Mula mula hawa panas meningkat tinggi kerananya warna kulit mereka berobah seketika itu juga, menjadi jelek serta banyak cacat cacatnya. Derita hawa panas semakin meningkat tinggi lagi, sehingga mereka merasakan benar pedihnya seksaan itu. Mulai timbul di hatinya, rasa takut dan mereka mulai percaya akan kata kata Nabi Yunus itu memang benar. Sekarang mereka menjerit jerit mencari Yunus, ingin taubat serta ingin menurut perintahnya. Mereka teringat akan azab dan seksa yang pernah diturunkan terhadap kaumnya Nabi Nuh, terhadap bangsa Ad dan Tsamud. Mereka ingin bertaubat dan menurut akan segala ajaran Nabi Yunus. Tetapi sayang, Nabi Yunus sudah pergi dan tidak seorang pun mengetahui ke mana perginya.
Hawa makin meningkat juga panasnya. Kaum ibu sudah tak menghiraukan lagi anak anak bayi mereka sendiri, begitu pula keadaan kambing dan biri biri sama sama tidak diladeni lagi, lembu dan unta pun demikian pula keadaannya. Baik manusia mahupun binatang, masing masing memikirkan nasibnya sendiri.
Di kala itulah mereka minta taubat dan ampun sehebat hebatnya kepada Allah yang pernah diajarkan Nabi Yunus kepada mereka yang pada waktu itu mereka tolak. Karena taubat dan
kehendaknya itu benar benar keluar dan hati mereka, taubat yang ikhlas seikhlas ikhlasnya, segera Allah menghentikan seksaan yang telah diturunkan itu.
Mereka kembali hidup dalam keadaan biasa, aman dan tenteram. Mereka menginginkan agar Nabi Yunus segera kembali kerana mereka merasa rindu kepada Yunus dan pelajaran Nabi dan Rasul, sebagai guru dan kalau perlu akan mereka angkat menjadi raja mereka.
Tetapi Yunus tidak kembali. Dia berjalan terus-menerus dengan hatinya yang kesal dan.........
Sesudah lama berjalan, akhirnya Yunus tiba di pinggir laut, di tepi sebuah pantai. Tampaklah olehnya sekelompok manusia yang sedang bersiap untuk belayar menyeberangi lautan luas itu dengan sebuah perahu. Yunus minta agar diizinkan turut menumpang dan bersama sama belayar. Sebagai tamu, Nabi Yunus mereka sambut dengan penghormatan dan kemuliaan. Permintaan Yunus mereka kabulkan, apalagi setelah terbukti Yunus adalah seorang yang baik budi serta halus tuturbahasanya. Penghormatan-nya terhadap Yunus semakin bertambah sehingga Yunus benar-benar menjadi tamu yang paling terhormat di kalangan mereka.
Perahu belayar dengan lancarnya mengarungi samudera luas akhirnya hilanglah tepi pantai dan pandangan mata. Mereka tiba di tengah tengah samudera luas yang tak berpinggir.
Dengan takdir Allah, di tengah tengah samudera yang luas itu, perahu tersebut menjumpai gelombang yang sangat tinggi, gulung menggulung, sebagai gunung gunung yang sedang
berkejar kejaran, seolah olah hendak menyerang bahtera kecil yang sedang mereka kayuh. Hati para penumpang berdebar hebat, bahaya maut menghadang mereka. Tidak ada jalan lain yang dapat menghindarkan diri dan bahaya samudera itu selain dengan mengurangi muatan perahunya. Semua barang muatan pun segera dilemparkan ke luar perahu, tetapi perahu masih dalam bahaya, sehingga terpaksa harus mengurangi muatan lainnya, iaitu muatan yang berupakan manusia.
Tetapi siapakah di antara mereka yang harus dilemparkan ke laut, untuk menjaga keselamatan jiwa orang yang banyak itu? Untuk ini, tidak dapat hanya dengan cara ditunjuk belaka. Akhirnya mereka tetapkan mengadakan undian saja, untuk menentukan siapa yang harus berkorban demi keselamatan jiwa lainnya. Mereka rela menjalankan korban jiwa dilemparkan ke laut, bila takdir menentukan demikian dengan undian itu.
Setelah undian dilangsungkan, maka jatuhlah pada nama Nabi Yunus. Tetapi kerana Yunus adalah tamu yang terhormat yang harus mereka pelihara dan menjaganya bersama sama, maka mereka tidak sudi menjalankan putusan undian terhadap diri Yunus di kala itu. Mereka tetapkan mengadakan undian yang kedua kalinya. Tetapi kali yang kedua ini pun, undian itu jatuh pada din Nabi Yunus pula. Timbul keyakinan dalam hati Yunus, bahawa jatuhnya undian yang berulang dua kali atas dirinya itu, adalah hal yang sangat luarbiasa dan mungkin ini mengandung rahsia yang luarbiasa pula.
Dengan demikian, Nabi Yunus tidak suka undian itu diulang ketiga kalinya. Dia minta supaya ketetapan undian yang sudah berlangsung dua kali itu dijalankan. Dia sendiri bersiap untuk dilemparkan ke dalam laut, sedia untuk ditelan oleh gelombang yang datang mengganas itu. Mungkin ini sebagai peringatan Allah atas dirinya, yang telah meninggalkan kewajibannya sendiri menghadapi kaumnya dengan berputusasa dan hijrah sebelum ada perintah Allah untuk berhijrah.
Sesudah mengucapkan selamat tinggal dan selamat jalan kepada semua penumpang dan kawan kawan seperahu, Nabi Yunus lalu melompat ketengah tengah gelombang besar itu, menyerahkan nasibnya kepada Allah s.w.t.
Ikan besar yang sedang melewati dekat tempat itu, mendapat wahyu dan Allah untuk menelan Nabi Yunus dengan syarat, bahawa ikan itu tidak akan memakan daging Nabi Yunus dan tidak akan merusak tulang belulangnya, kerana dia itu adalah Nabi Allah yang mulia, seorang Nabi yang terburu mengambil keputusan dan diserang putusasa. Hal itu dijalankan Nabi Yunus untuk menebus kesalahan dan keputusasaannya sendiri.
Nabi Yunus ditelan oleh ikan besar itu, masuk ke dalam perutnya dengan selamat, tidak kurang suatu apa. Kemudian ikan besar itu berenang ke sana ke mari ditengah gelombang yang besar, kadang kadang ke permukaan samudera dan kadang kadang pula sampai ke dasar laut yang jauh di bawah.
Gelap di bilik gelap, dengan perasaan yang tidak dapat dibayangkan dengan pena. Tetapi dia rela, dia sabar dan tabah untuk menebus kesalahan keslahannya dan selalu berdoa, mudah mudahan Allah mengampuninya dan kesalahan itu dan Allah sudi menurunkan rahmat yang lebih besar atas diri dan bangsanya.
Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, ya Tuhanku, dan sungguh saya ini orang yang sudah aniaya terhadap diriku sendiri.
Demikianlah ucapan Nabi Yunus di dalam perut ikan yang gelap gelita itu. Doa dan permohonan Nabi Yunus itu didengar oleh Allah, kerana Tuhan Maha Mendengar akan doa hambaNya, di mana saja hambaNya itu berdoa kepadaNya. Ikan diwahyukan Allah untuk memuntahkan tamu yang ada dalam perutnya itu ke atas daratan di tepi pantai. Keadaan Nabi Yunus sekeluar dan kapal selam yang berjiwa itu sangat luarbiasa, badannya kurus kering lemah longlai dan tidak mempunyai daya lagi.
Dengan rahmat Allah atas din Nabi Yunus, di tempat dia terdampar itu, lalu tumbuh sepohon yaqtin yang berbuah dan berdaun rimbun. Buahnya lalu dimakan oleh Nabi Yunus dan di bawah naungan daunnya yang rimbun itulah Nabi Yunus ber-lindung dad terikan panas matahari.
Berhubung dengan kejadian atas din Nabi Yunus mi, Allah dengan tegas membukakan rahsianya dengan firmanNya Surah as-Saffat, ayat i~ dan 144:
Kalau bukanlah dia (Yunus), yang sebelumnya banyak menyebut nama Allah (ibadat), nescaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari kiamat.
Jadi nyatalah bahawa yang menyebabkan dia dapat tetap hidup dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam, tanpa udara, makanan dan minuman itu, adalah lantaran zikir dan ibadat yang banyak dilakukannya sebelum kejadian itu. Zikir dan ibadat itulah yang dapat menjadi udara, makanan dan minumannya.
Sungguh beruntunglah manusia yang dalam hidupnya banyak melakukan zikir dan ibadat terhadap Allah, Tuhan Rabbul Alamin.
Lama kelamaan Nabi Yunus menjadi sihat dan kuat kembali dan mulai merasakan keenakan hidup di tengah udara yang cukup.
Baru saja Nabi Yunus dapat duduk dan berdiri, perintah Allah datang berupa wahyu kepadanya: Kembalilah engkau sekarang juga ke kampung halamanmu karena bangsamu sedang menunggu pinpinanmu. Mereka sudah beriman semuanya dengan keimanan yang suci murni. Mereka sudah membuang segala berhala dan patung yang selama ini mereka puja dan sembah. Mereka sedang bersusah payah mencari engkau, tetapi tidak bertemu.
Nabi Yunus kembali ke kampung halamannya, bertemu dengan sanak saudaranya dan bangsanya. Nabi Yunus lalu sujud bersimpuh memuji dan menyembah Allah, diikuti oleh seluruh keluarga dan bangsanya yang sudah taubat dan sedar itu.
Dengan merekalah Nabi Yunus hidup dalam keadaan yang aman dan tenteram, merupakan suatu masyarakat manusia makmur dan diredhai Allah.
25 Desember 2009
NABI HUD
Nabi Noh dan pengikut pengikutnya yang terdiri dari orang orang yang beriman telah diselamatkan Allah dari bahaya maut. Semua musuh mereka yang terdiri dari orang-orang kafir yang jahat, seluruhnya sudah musnah. Orang-orang beriman yang selamat ini, setelah berhenti banjir dahsyat itu, di bawah pimpinan Nabi Noh semakin tebal iman mereka, semakin percaya kepada Nabi Noh dan ajarannya. Mereka tidak berhenti henti mengucap syukur dan beribadat menyembah Allah yang telah menyelamatkan mereka. Makin terasa sampai sedalam dalamnya dalam jiwa raga mereka akan kebesaran Allah dan kekuasaanNya. Demikianlah berjalan beberapa abad pula lamanya. Manusia hidup rukun dan damai, iman dan taqwa, senang, tenang dan bahagia sekali.
Tetapi beberapa abad kemudian, anak cucu atau keturunan mereka, mulalah melupakan ajaran Nabi Noh dan nenek moyang mereka yang beriman itu. Mungkin karena kurangnya penerangan atau pengaruh penghidupan yang semakin meningkat, pengaruh ekonomi, keinginan-keinginan dan keperluan, ditambah lagi oleh tipu daya Setan dan Iblis yang selalu menggoda dan memperdayakan mereka. Akhirnya seluruh manusia menjadi lupa sama sekali akan Allah Pencipta yang diajarkan Nabi Noh dan nenek moyang mereka orang beriman.
Setelah mereka berkembang biak menjadi manusia banyak, hidup terpancar di segenap pelosok yang berjauhan dan berdekatan, menjadi berbagai bagai suku kaum dan bangsa, antar satu sama lain sudah tak kenal mengenal lagi, masing masing golongan, suku dan bangsa berkembang menurut adat kebiasaan atau tradisi masing masing. Yang satu ingin lebih kaya, lebih kuat dari yang lain. Akhirnya yang kaya memeras terhadap si miskin, dan yang kuat menindas terhadap yang lemah.
Bersamaan dengan lenyapnya keimanan terhadap Allah, lenyap pulalah ketenteraman dan keamanan, kebahagiaan dan kesenangan hidup. Lalu timbullah berbagai-bagai maksiat, kejahatan, kepercayaan yang sesat dan menyesatkan. Bila mereka sudah kacau dan tak aman lagi, kembalilah mereka ingin menyelamatkan diri masing masing. Karena mereka sudah lupa terhadap Allah, maka mereka tercari carilah cara memperoleh keselamatan dan ketenteraman. Akhirnya mereka buat pulalah patung berhala, dan patung patung itulah menurut para pemuka mereka yang dapat menyelamatkan mereka dari segala kesusahan dan bahaya. Akhirnya patung atau berhala itu mereka hormati, mereka mengagungkannya, mereka puji lalu sembah. Dan patung patung itulah 'tuhan', kata mereka.
Sejarah sepeninggalan Nabi Noh berulang kembali, dengan ulangan yang sama tidak ada perbezaan sama sekali. Bangsa 'Ad, begitulah namanya satu kaum yang paling derhaka di zaman itu, hidup di negeri Ahqaf, antara Yaman dan Oman sekarang ini, di bilangan negeri Arab jua.
Bangsa 'Ad ini termasyhur sekali karena besar tubuh orangnya dan kuat. Hidup di tanah yang subur, tumbuh di situ berbagai bagai tumbuh tumbuhan, mengalir di situ sungai sungai dan mata air. Masing masing mempunyai kebun yang luas, hasil bumi yang berlipat ganda banyaknya. Dengan kekayaan yang melimpah ruah itu, mereka dapat membuat rumah dan istana tempat tinggal masing masing.
Kerana kebahagiaan hidup yang berlimpahan itu, mereka lupa akan asal usul kejadian mereka, mereka tidak tahu dari mana asalnya segala nikmat dan rahmat yang berlimpah ruah itu.
Akal mereka hanya sampai ke batu batu yang mereka buat dan gambar sendiri berupakan patung patung. Kepada batu batu itulah mereka berterima kasih atas semua nikmat dan rahmat itu, dan kepada batu itu pulalah mereka minta tolong bila di timpa kesusahan dalam hidup dan penghidupan mereka.
Bukan hanya sesat diri mereka bahkan akhirnya mereka menyebarkan kejahatan di permukaan bumi yang penuh rahmat itu. Si kuat di antara mereka menyeksa kepada yang lemah, yang besar menganiaya terhadap anak kecil, sehingga keamanan dan kebahagiaan hanya dimiliki oleh beberapa gelintir manusia saja di antara mereka, iaitu mereka yang kuat dan berani saja. Sedang orang yang lemah dan tak punya kekuasaan, hidup menderita, dengan derita yang tak terperikan lagi.
Diutus Tuhanlah kepada mereka seorang dari bangsa 'Ad itu sendiri, Nabi Hud namanya. Seorang yang lapang dada, berbudi tinggi, pengasih dan penyantun, penuh dengan kesabaran. Diajarkan kepada kaum 'Ad itu akan Tuhan yang sebenarnya, iaitu Allah s.w.t. Sedang batu batu yang mereka sembah dan cintai itu tak ada kekuasaan apa apa. Tidak dapat memberi manfaat atau mudarat, tidak mempunyai kuasa untuk berbuat apa apa. Allahlah yang selayaknya disembah dan dipuja, karena Allahlah yang menjadikan kamu dan memberi kamu rezeki, yang menghidupkan dan mematikan kamu, yang membentangkan bumi tempat berpijak, menumbuhkan tumbuh tumbuhan dan mendatangkan berbagai-bagai nikmat yang kamu pergunakan, kata Nabi Hud kepada mereka.
Sebagai manusia di zaman Nabi Noh, seruan dan ajaran Hud ini tidak dihiraukan oleh manusia 'Ad, mereka membantah dengan membangga banggakan kekayaan dan kepintaran mereka sendiri. Diperingatkan pula oleh Nabi Hud, bahawa nanti semua orang yang sudah mati itu akan dihidupkan kembali di Alam Akhirat, akan diperhitungkan kejahatan dan kebaikannya. Mana yang jahat akan diseksa dan mana yang baik akan dibahagiakan dalam Syurga yang disediakan Tuhan.
Ajaran ini lebih mereka ejek lagi dengan berkata: "Manakan boleh orang yang sudah mati dan hancur menjadi satu dengan tanah akan dapat hidup kembali. Hidup hanya di dunia ini saja, senang dan susah hanya di muka bumi saja."
Diperingatkan Hud seksa yang pernah diturunkan Allah terhadap manusia engkar di zaman Nabi Noh. Mereka tidak percaya. Itu adalah cerita bohong yang diada adakan saja, atau berita dongeng yang diada adakan oleh Hud, kata mereka.
Bahkan Hud dianggap mereka orang yang terlalu bodoh. "Apa kelebihan engkau atas kami?" kata mereka kepada Hud. "Engkau makan sebagaimana kami makan jua, engkau minum sebagaimana kami minum pula, engkau hidup seperti kehidupan kami tak ada bezanya sedikit juga," kata mereka selanjutnya. "Kenapa engkau mengatakan diutus Allah? Kenapa engkau saja yang diutus Allah? Kami pun berhak diutus Allah itu! Perkataanmu itu adalah bohong semata mata," kata mereka kepada Hud.
Hud terus mengajak mereka, walaupun mendapat sambutan dingin dan juga tentangan dari mereka yang engkar itu. Demikianlah dari masa ke semasa, tahun ke tahun, beratus tahun pula lamanya. Hanya sedikit sekali yang menurut ajarannya itu.
Ternyata pulalah, bahawa memang mereka tidak mahu beriman, mereka tidak mahu berhenti berbuat derhaka dan jahat, mereka hanya berbuat apa yang mereka kehendaki belaka dengan tidak mengacuhkan siapa saja. Sifat takbur mereka sudah demikian hebatnya, sehingga tidak dapat diempang empang lagi, sehingga masyarakat ketika itu kerananya menjadi kacau bilau, porak peranda, sehingga tak ada orang yang merasa aman lagi, selain orang orang yang kuat dan berkuasa saja. Sedang semua mereka tidak juga mahu menurutkan ajaran Nabi Hud itu.
Pada suatu hari terbentanglah di langit awan hitam yang panjang, melintang di tengah tengah langit. Hampir semua mereka ke luar rumah menoleh ke arah awan yang agak ganjil itu. Akhirnya mereka berkata: "Itulah awan panjang, menandakan sebentar lagi hujan akan turun untuk menyiram tanam tanaman kita, memberi minum kepada binatang-binatang ternak kita."
Tetapi Nabi Hud berkata kepada mereka: "Itu bukan awan rahmat, tetapi awan yang membawa angin kencang yang akan menewaskan kamu sekalian, angin yang penuh dengan azab seksa yang sepedih pedihnya."
Sejurus kemudian angin dahsyat berhembuslah, luar biasa hebatnya. Binatang ternakan mereka yang sedang berkeliaran di padang pasir, kecil besar turut terbang disapu bersih oleh angin entah ke mana perginya. Mulalah mereka takut dan berlompatan lari masuk ke dalam rumah mereka masing masing, yang merupakan gedung dan istana yang kuat kukuh itu. Mereka tutup segala pintu, untuk berlindung diri. Mereka pergunakan segala kekuatan tubuh mereka yang kuat dan besar itu untuk mempertahankan pintu dan rumah-rumah mereka itu agar jangan diterbangkan angin.
Tujuh malam dan delapan hari lamanya angin dahsyat itu bertiup sehebat hebatnya. Jangankan manusia dan binatang-binatang serta tumbuh tumbuhan, batu yang besar yang berupakan gunung itu pun lenyap menjadi angin, lebih lebih lagi patung yang mereka sembah selama ini. Demikianlah jadinya manusia kuat yang takbur itu.
Firman Allah: "Tidaklah Tuhan akan mencelakakan satu negeri dengan satu petaka, sedang penduduknya berbuat baik baik."
Heran, Nabi Hud dan pengikutnya tetap di rumah saja, dengan tidak merasakan sedikit juga akan bahaya angin ribut yang begitu dahsyat selama se minggu berturut turut itu. Akhirnya Nabi Hud pindah tempat karena negeri itu sudah menjadi padang jarak padang tekukur. Dia pindah ke Hadhramaut, di mana beliau hidup sampai wafatnya. Alhambra Granada
Tetapi beberapa abad kemudian, anak cucu atau keturunan mereka, mulalah melupakan ajaran Nabi Noh dan nenek moyang mereka yang beriman itu. Mungkin karena kurangnya penerangan atau pengaruh penghidupan yang semakin meningkat, pengaruh ekonomi, keinginan-keinginan dan keperluan, ditambah lagi oleh tipu daya Setan dan Iblis yang selalu menggoda dan memperdayakan mereka. Akhirnya seluruh manusia menjadi lupa sama sekali akan Allah Pencipta yang diajarkan Nabi Noh dan nenek moyang mereka orang beriman.
Setelah mereka berkembang biak menjadi manusia banyak, hidup terpancar di segenap pelosok yang berjauhan dan berdekatan, menjadi berbagai bagai suku kaum dan bangsa, antar satu sama lain sudah tak kenal mengenal lagi, masing masing golongan, suku dan bangsa berkembang menurut adat kebiasaan atau tradisi masing masing. Yang satu ingin lebih kaya, lebih kuat dari yang lain. Akhirnya yang kaya memeras terhadap si miskin, dan yang kuat menindas terhadap yang lemah.
Bersamaan dengan lenyapnya keimanan terhadap Allah, lenyap pulalah ketenteraman dan keamanan, kebahagiaan dan kesenangan hidup. Lalu timbullah berbagai-bagai maksiat, kejahatan, kepercayaan yang sesat dan menyesatkan. Bila mereka sudah kacau dan tak aman lagi, kembalilah mereka ingin menyelamatkan diri masing masing. Karena mereka sudah lupa terhadap Allah, maka mereka tercari carilah cara memperoleh keselamatan dan ketenteraman. Akhirnya mereka buat pulalah patung berhala, dan patung patung itulah menurut para pemuka mereka yang dapat menyelamatkan mereka dari segala kesusahan dan bahaya. Akhirnya patung atau berhala itu mereka hormati, mereka mengagungkannya, mereka puji lalu sembah. Dan patung patung itulah 'tuhan', kata mereka.
Sejarah sepeninggalan Nabi Noh berulang kembali, dengan ulangan yang sama tidak ada perbezaan sama sekali. Bangsa 'Ad, begitulah namanya satu kaum yang paling derhaka di zaman itu, hidup di negeri Ahqaf, antara Yaman dan Oman sekarang ini, di bilangan negeri Arab jua.
Bangsa 'Ad ini termasyhur sekali karena besar tubuh orangnya dan kuat. Hidup di tanah yang subur, tumbuh di situ berbagai bagai tumbuh tumbuhan, mengalir di situ sungai sungai dan mata air. Masing masing mempunyai kebun yang luas, hasil bumi yang berlipat ganda banyaknya. Dengan kekayaan yang melimpah ruah itu, mereka dapat membuat rumah dan istana tempat tinggal masing masing.
Kerana kebahagiaan hidup yang berlimpahan itu, mereka lupa akan asal usul kejadian mereka, mereka tidak tahu dari mana asalnya segala nikmat dan rahmat yang berlimpah ruah itu.
Akal mereka hanya sampai ke batu batu yang mereka buat dan gambar sendiri berupakan patung patung. Kepada batu batu itulah mereka berterima kasih atas semua nikmat dan rahmat itu, dan kepada batu itu pulalah mereka minta tolong bila di timpa kesusahan dalam hidup dan penghidupan mereka.
Bukan hanya sesat diri mereka bahkan akhirnya mereka menyebarkan kejahatan di permukaan bumi yang penuh rahmat itu. Si kuat di antara mereka menyeksa kepada yang lemah, yang besar menganiaya terhadap anak kecil, sehingga keamanan dan kebahagiaan hanya dimiliki oleh beberapa gelintir manusia saja di antara mereka, iaitu mereka yang kuat dan berani saja. Sedang orang yang lemah dan tak punya kekuasaan, hidup menderita, dengan derita yang tak terperikan lagi.
Diutus Tuhanlah kepada mereka seorang dari bangsa 'Ad itu sendiri, Nabi Hud namanya. Seorang yang lapang dada, berbudi tinggi, pengasih dan penyantun, penuh dengan kesabaran. Diajarkan kepada kaum 'Ad itu akan Tuhan yang sebenarnya, iaitu Allah s.w.t. Sedang batu batu yang mereka sembah dan cintai itu tak ada kekuasaan apa apa. Tidak dapat memberi manfaat atau mudarat, tidak mempunyai kuasa untuk berbuat apa apa. Allahlah yang selayaknya disembah dan dipuja, karena Allahlah yang menjadikan kamu dan memberi kamu rezeki, yang menghidupkan dan mematikan kamu, yang membentangkan bumi tempat berpijak, menumbuhkan tumbuh tumbuhan dan mendatangkan berbagai-bagai nikmat yang kamu pergunakan, kata Nabi Hud kepada mereka.
Sebagai manusia di zaman Nabi Noh, seruan dan ajaran Hud ini tidak dihiraukan oleh manusia 'Ad, mereka membantah dengan membangga banggakan kekayaan dan kepintaran mereka sendiri. Diperingatkan pula oleh Nabi Hud, bahawa nanti semua orang yang sudah mati itu akan dihidupkan kembali di Alam Akhirat, akan diperhitungkan kejahatan dan kebaikannya. Mana yang jahat akan diseksa dan mana yang baik akan dibahagiakan dalam Syurga yang disediakan Tuhan.
Ajaran ini lebih mereka ejek lagi dengan berkata: "Manakan boleh orang yang sudah mati dan hancur menjadi satu dengan tanah akan dapat hidup kembali. Hidup hanya di dunia ini saja, senang dan susah hanya di muka bumi saja."
Diperingatkan Hud seksa yang pernah diturunkan Allah terhadap manusia engkar di zaman Nabi Noh. Mereka tidak percaya. Itu adalah cerita bohong yang diada adakan saja, atau berita dongeng yang diada adakan oleh Hud, kata mereka.
Bahkan Hud dianggap mereka orang yang terlalu bodoh. "Apa kelebihan engkau atas kami?" kata mereka kepada Hud. "Engkau makan sebagaimana kami makan jua, engkau minum sebagaimana kami minum pula, engkau hidup seperti kehidupan kami tak ada bezanya sedikit juga," kata mereka selanjutnya. "Kenapa engkau mengatakan diutus Allah? Kenapa engkau saja yang diutus Allah? Kami pun berhak diutus Allah itu! Perkataanmu itu adalah bohong semata mata," kata mereka kepada Hud.
Hud terus mengajak mereka, walaupun mendapat sambutan dingin dan juga tentangan dari mereka yang engkar itu. Demikianlah dari masa ke semasa, tahun ke tahun, beratus tahun pula lamanya. Hanya sedikit sekali yang menurut ajarannya itu.
Ternyata pulalah, bahawa memang mereka tidak mahu beriman, mereka tidak mahu berhenti berbuat derhaka dan jahat, mereka hanya berbuat apa yang mereka kehendaki belaka dengan tidak mengacuhkan siapa saja. Sifat takbur mereka sudah demikian hebatnya, sehingga tidak dapat diempang empang lagi, sehingga masyarakat ketika itu kerananya menjadi kacau bilau, porak peranda, sehingga tak ada orang yang merasa aman lagi, selain orang orang yang kuat dan berkuasa saja. Sedang semua mereka tidak juga mahu menurutkan ajaran Nabi Hud itu.
Pada suatu hari terbentanglah di langit awan hitam yang panjang, melintang di tengah tengah langit. Hampir semua mereka ke luar rumah menoleh ke arah awan yang agak ganjil itu. Akhirnya mereka berkata: "Itulah awan panjang, menandakan sebentar lagi hujan akan turun untuk menyiram tanam tanaman kita, memberi minum kepada binatang-binatang ternak kita."
Tetapi Nabi Hud berkata kepada mereka: "Itu bukan awan rahmat, tetapi awan yang membawa angin kencang yang akan menewaskan kamu sekalian, angin yang penuh dengan azab seksa yang sepedih pedihnya."
Sejurus kemudian angin dahsyat berhembuslah, luar biasa hebatnya. Binatang ternakan mereka yang sedang berkeliaran di padang pasir, kecil besar turut terbang disapu bersih oleh angin entah ke mana perginya. Mulalah mereka takut dan berlompatan lari masuk ke dalam rumah mereka masing masing, yang merupakan gedung dan istana yang kuat kukuh itu. Mereka tutup segala pintu, untuk berlindung diri. Mereka pergunakan segala kekuatan tubuh mereka yang kuat dan besar itu untuk mempertahankan pintu dan rumah-rumah mereka itu agar jangan diterbangkan angin.
Tujuh malam dan delapan hari lamanya angin dahsyat itu bertiup sehebat hebatnya. Jangankan manusia dan binatang-binatang serta tumbuh tumbuhan, batu yang besar yang berupakan gunung itu pun lenyap menjadi angin, lebih lebih lagi patung yang mereka sembah selama ini. Demikianlah jadinya manusia kuat yang takbur itu.
Firman Allah: "Tidaklah Tuhan akan mencelakakan satu negeri dengan satu petaka, sedang penduduknya berbuat baik baik."
Heran, Nabi Hud dan pengikutnya tetap di rumah saja, dengan tidak merasakan sedikit juga akan bahaya angin ribut yang begitu dahsyat selama se minggu berturut turut itu. Akhirnya Nabi Hud pindah tempat karena negeri itu sudah menjadi padang jarak padang tekukur. Dia pindah ke Hadhramaut, di mana beliau hidup sampai wafatnya. Alhambra Granada
NABI NUH
NABI NOH
PENCIPTA KAPAL PERTAMA
Kalau benarlah apa yang di katakan oleh Hisyam bin Muhammad bin as-Saib al-Kalby, bahawa Adam dan Hawa mula pertama diturunkan Allah ke permukaan bumi, di daerah pergunungan yang paling subur bernama Gunung Nut, India. Sedang menurut Ahmad Zaky, Gunung Nut itu nama aslinya adalah Gunung Rahun, dimana Adam pertama kali diturunkan. Di sanalah Adam dan Hawa hidup dan berketurunan. Di antara keturunan Adam dan Hawa ada yang hidup berpindah randah, tentu saja dengan tujuan mencari tempat yang lebih baik, udara yang lebih nyaman, atau penghasilan yang lebih mudah mendapatkannya. Dengan jalan begitu, manusia makin lama makin banyak jumlahnya, dan daerah yang mereka tempati semakin luas pula, berkembang ke Timur dan ke Barat, ke Utara atau ke Selatan. Beberapa abad kemudian, dunia ini menjadi ramai dan semakin ramai. Pada abad pertama sampai kelima menurut Said yang diambil dari perkataan Qatadah (Sahabat Rasulullah s.a.w.), mereka boleh dikatakan hidup dalam keadaan aman dan tenteram, dengan kepercayaan yang benar sesuai dengan ajaran Adam dan Hawa yang sangat giat menunjuki akan anak turunan-nya agar jangan sampai tersesat dan celaka, seperti apa yang sudah terjadi antara adik dan kakak yang bernama Qabil dan Habil. Tetapi dalam abad-abad yang berikutnya, iaitu kira-kira pada turunan yang kelima atau keenam dari Adam dan Hawa, mulailah timbul kerosakan dalam kepercayaan mereka. Ajaran Adam dan Hawa nenek moyang mereka, sudah mereka lupakan. Lalu timbullah berbagai-bagai kerosakan, kekacauan atau perselisihan antara mereka. Diriwayatkan oleh Atiyah dari Ibnu Abbas r.a., bawah manusia di saat wafatnya Adam semuanya baik dan beriman, tetapi kemudian hampir seluruhnya menjadi seperti binatang binatang yang tidak mempunyai akal. Dan karena itulah Allah lalu mengutus Nabi-nabi dan Rasul-rasul, untuk membimbing mereka, dengan memberi khabar gembira dan ancaman. Nabi pertama yang diutus Allah, iaitu Nabi Idris a.s. kira-kira dalam abad keenam sesudah Adam. Tetapi Nabi Idris ini mereka dustakan, sampai Nabi Idris ini diangkatkan Allah ke Tempat Tinggi (wafat). Sepeninggalan Nabi Idris a.s., di antara manusia yang hidup kafir dan jahat seperti binatang itu, ada pula beberapa orang yang hidup secara baik, sehingga mereka dicintai oleh kaum kerabat dan orang orang yang ada di sekitar mereka. Di antara mereka itu ada lima orang yang amat masyhur, iaitu yang bernama: Wad, Suwaa, Yaghuth, Yauuq dan Nasr. Menurut Hisyam, kelima-lima orang yang baik ini mati serentak berturut turut dalam satu bulan, sehingga menyebabkan kegemparan yang amat sangat bagi keluarga dan orang-orang yang mencintai mereka itu. Kemudian salah seorang dari kerabat yang sangat cinta mengusulkan kepada teman-teman dan kaum kerabat, agar bagi kelima orang baik yang telah meninggal dunia itu, dibuatkan gambar berupa patung yang menyerupai mereka, sekadar untuk kenang kenangan supaya melepaskan teragak atau rindu hati terhadap masing-masing mereka. Usul ini diterima orang banyak dengan gembira. Lalu di carilah orang-orang yang pandai menggambar dan mematungkannya. Mereka buatlah lima patung (berhala) yang pertama di dunia ini, yang masing-masingnya mereka beri nama dengan nama nama dari orang yang meninggal itu, iaitu Wad, Suwaa, Yaghuth, Yauuq dan Nasr. Begitulah, patung-patung itu sering mereka datangi untuk melihatnya, mereka hormati, kadang-kadang dengan upacara-upacara tertentu. Demikianlah terjadi pada abad pertama.
Menurut at-Tabary, nama-nama tersebut sesudah ditaarifkan, iaitu dibahasa-Arabkan, iaitu sesudah dilbranikan dari bahasa aslinya. Pada abad kedua, cara membesarkan dan menghormati patung-patung itu makin ditingkatkan. Dalam pada itu timbullah berbagai bagai cerita dongeng tentang patung patung atau berhala berhala tersebut, cerita-cerita yang sangat mempengaruhi jiwa manusia yang mendengarkannya. Dalam abad ketiga, mulalah timbul dogma-dogma, mitos atau kepercayaan-kepercayaan yang bersifat mistik.
Mereka katakan, bahawa nenek-moyang kita sampai menghormati patung patung itu, karena dengan penghormatan itu patung-patung tersebut dapat mendatangkan manfaat dan syafaat bagi mereka. Lalu patung-patung itu mereka sembah, mereka puja-puja. Timbullah kepercayaan menyembah patung-patung, dan patung-patung itulah tuhan, kata mereka.
Berkata Ibnul Kalby dari Ibnu Salih, bahawa menurut Ibnu Abbas r.a. antara Adam dan Noh adalah 12 abad lamanya. Dan di abad kedua belas sesudah Adam ini, seluruh manusia sudah menyembah patung-patung tersebut. Kerananya Allah lalu mengutus Nabi Noh a.s. untuk memperbaiki keadaan mereka yang sudah rosak itu.
Menurut al-Quran, umur Nabi Noh ini 950 tahun. Nabi Noh diutus Allah menjadi Nabi dan Rasul ketika berumur 480 tahun, sampai wafatnya, iaitu dalam masa 500 tahun atau 5 abad lamanya. Nabi Noh a.s. dengan segiat-giatnya, tanpa mengenal lelah, siang dan malam, terus-menerus mencuba membelokkan kaumnya dari kekafiran menyembah patung-patung tersebut. Tetapi amatlah sulitnya, terlalu sedikit hasilnya. Dalam masa 5 abad itu, hanya berhasil mendapatkan pengikut 70 atau 80 orang saja, yang semuanya terdiri dari orang-orang yang lemah dan melarat saja.
Nabi Noh itu adalah seorang fasih berkata kata, tajam pemikiran atau akalnya, dapat menangkis kalau berdebat, bersifat sabar dan tenang. Sungguhpun begitu, setiap kali Nabi Noh membawa mereka kepada menyembah Allah, maka mereka menentangnya; setiap diperingatkan akan azab dan seksa Tuhan, mereka menutup anak telinga masing-masing; saban diberi khabar suka dengan Syurga Allah, bahkan mereka menyombong dan mengejek serta mencuba membantah seruan Nabi Noh.
Dengan sabar dan tak putus asa, Nabi Noh menghadapi mereka. Bukan sekali dua kali, bukan dalam waktu sebulan-dua bulan, atau setahun-dua tahun, tetapi dalam waktu berpuluh, bahkan beratus tahun. Hampir seluruh umur yang diberikan Allah kepada Nabi Noh yang lamanya 950 tahun itu, dipakaikan dengan segiat giatnya untuk membelokkan kekafiran kaumnya itu. Dengan kesabaran dan keterangan-keterangan yang terang dan jelas elas, dengan kepandaian berkata dan berbicara, dengan membawakan alasan-alasan yang lengkap. Langit dan bumi, siang dan malam, laut dan darat, dipergunakan Nabi Noh sebagai alasan dan bukti atas keagungan Allah atas kekuasaanNya, dan atas keesaan Allah.
Sedikit sekali mereka yang percaya kepada Noh dan mengiakan pelajarannya. Tidak sesuai dengan jumlahnya manusia, tidak cocok dengan kegiatan dan kebijaksanaan yang sudah diberikan Nabi Noh. Tidak lebih jumlah mereka yang menurut ini daripada 80 orang saja. Yang lain tetap engkar, tidak percaya, tetap mem-bantah dan membesarkan diri, mengejek dan lain-lain sebagainya.
Reaksi dari mereka yang engkar itu bukan semakin berkurang, malah bertambah hebat dan meningkat juga. Mereka berkata ke-pada Nabi Noh: Bukankah engkau manusia biasa seperti kami juga, buat apa kami mengikuti engkau. Kalau diutus kepada kami seorang Malaikat, barangkali dapat kami mengikutnya, mengiakan katanya. Bukankah orang-orang yang mengikuti engkau itu, orang-orang yang rendah dan bodoh belaka. Sedangkan kami ini orang orang yang mulia, berkedudukan dan pekerjaan yang tinggi-tinggi, tidak mengharapkan fikiran dan pertolongan orang lain, cukup kepandaian dan kepintaran Engkau sendiri, ya Noh, bukan lebih dari kami tentang harta, tentang akal dan fikiran, tentang pemandangan, bahkan engkau kami pandang orang yang dusta.
Semua itu dijawab oleh Nabi Noh dengan jawapan yang tegas tepat, dengan keterangan-keterangan yang dapat melemahkan dan mengalahkan hujah mereka: Dapatkan gerangan kamu memutar jalan matahari dengan kepandaianmu, atau mencapai bintang dengan tanganmu? Dapatkah kamu beroleh terang kalau tidak karena matahari yang diciptakan Allah. Dapatkah kamu hidup kalau tidak dengan udara yang dijadikan Allah?
Mereka menjawab lagi dengan sanggahan yang baru dan dibuat-buat: Kalau engkau benar-benar orang yang mencintai sesama manusia, cintailah orang-orang yang telah mengikutimu itu saja, sedang kami biarkanlah saja, karena kami tidak akan dapat mengikuti jejak mereka, kami tidak dapat menganut agama yang mereka anut yang engkau ajarkan itu, dimana disamakan sang raja raja dengan rakyat murba, orang-orang yang mulia dengan orang yang hina-dina, orang yang kaya dengan orang-orang yang miskin.
Nabi Noh menjawab: Bahawa agama ini buat kamu sekalian, dengan tidak mengecualikan yang pintar dan yang bodoh, yang jadi raja dan yang jadi budak, yang berkuasa dan dikuasai, yang kaya dan yang miskin.
Debat ini bertambah sengit juga. Noh menghadapinya dengan sabar dan tenang saja, tetapi mereka rupanya telah sempit dada, lalu berkata kepada Noh: Hai, Noh, engkau sudah debat kami, dan telah lebih dari cukup banyaknya, datangkanlah kepada kami (seksa) yang engkau katakan itu, kalau engkau orang yang benar.
Nabi Noh menambah lagi dengan sabar: Sungguh kamu orang-orang yang bodoh sekali, kamu minta seksaan Allah, bukan rahmat Allah yang kamu tuntut. Ketahuilah bahawa Allah kuasa atas tiap-tiap sesuatu. Kalau Allah menghendaki akan diseksanya kamu, dan kalau Allah suka datanglah seksaan itu selekas-lekasnya kepada kamu, dimana kamu pasti menyesal nanti.
Sehabis perdebatan itu, Nabi Noh selamanya bermunajat dan berdoa kepada Allah, mengemukakan perasaan hati dan bermohon ampun atas kelemahannya, minta petunjuk petunjuk yang baru, sambil mengeluh dan mengadu. Akhirnya Allah menurunkan wahyu kepada Noh: Tidak akan beriman kaummu itu selain orang-orang yang telah beriman itu, dan janganlah kamu berputus asa atas apa apa yang mereka perbuat. Sehabis berjuang dan berusaha, dengan kesabaran yang ada padanya, akhirnya Nabi Noh berdoa kepada Allah:
Ya Allah, janganlah dibiarkan tinggal di bumi ini orang-orang yang engkar seorang pun, sebab kalau engkau biarkan mereka tinggal, mereka akan menyesatkan hamba-hambaMu, dan mereka akan menurunkan turunan yang jahat dan engkar saja.
Doa Nabi Noh ini didengar oleh Allah, dan dikabulkanNya, lalu berfirman: Engkau perbuatlah kapal dengan pertolongan dan petunjuk-petunjuk Kami dan janganlah engkau pohonkan pertolongan kepadaKu tentang nasib orang-orang yang zalim itu, mereka semuanya akan tenggelam.
Nabi Noh mulai membina kapal dengan mempergunakan kayu dan paku, di suatu tempat dekat kota. Dan tiap orang yang lalu di tempat itu, selalu mengejek dan memperolok-olokkannya dengan berbagai bagai kata dan bicara, Ada yang berkata: Engkau selama ini, hai Noh, mendakwakan yang engkau Nabi dan Rasul; kenapa had ini kami lihat engkau menjadi tukang kayu? Apa engkau sudah bosan menjadi Nabi dan ingin menjadi tukang kayu?
Ada pula yang mengejek: Apa gunanya kapal yang engkau buat itu, sedang di sini tidak ada laut dan sungai? Apakah engkau akan tarik dengan lembu kapal itu atau akan engkau terbangkan di udara?
Di bawah serangan ejekan itu Nabi Noh terus bekerja dan hanya berkata: Bila kamu tetap mengejek kami, kami akan mengejek kamu pula nanti sebagai kamu mengejek kami ini, dan akan kamu ketahui sendiri nasibnya orang-orang yang kena seksa itu, sedang seksaan itu akan terjadi.
Noh dan pengikutnya terus bekerja, sehingga sempurnalah pembikinan kapal itu. Hanya sekarang menunggu bagaimana perintah Allah selanjutnya. Dalam pada itu Tuhan telah mewajibkan kepada Noh, agar bila seksa itu telah datang, Noh dan pengikut-pengikutnya segera naik ke kapal itu, dengan membawa semua orang yang beriman dan binatang ternaknya yang berpasang-pasangan.
Terbukalah pintu-pintu langit, sehingga dari langit itu tercurah air sebesar-besarnya jatuh ke bumi, sedang dari bumi terpancar sumber-sumber air yang besar-besar, sehingga dalam sebentar waktu permukaan bumi digenangi air banjir yang luar-biasa hebatnya, menggenangi tanah yang tinggi dan yang rendah. Air banjir semakin naik juga sehingga telah mencapai rumah-rumah dan bukit-bukit, sedang Nabi Noh dan pengikut-pengikut-nya sewaktu itu telah berada di atas kapal yang mereka perbuat selama ini.
Dengan kegemparan yang luar biasa, manusia manusia engkar itupun berlompatan ke sana-sini tidak keruan tujunya sebagai se gerombolan keldai dikejuti singa, berteriak melolong lolong, menghindarkan diri masing-masing dari bahaya maut, Ada yang naik ke atas atap rumah rumah tetapi tercapai juga oleh air banjir, ada yang naik memanjat batang kayu yang tinggi, tetapi akhirnya tenggelam juga, ada pula yang berenang menuju ke bukit yang tinggi-tinggi yang menurut kiranya tidak akan tercapai oleh banjir yang bagaimana hebatnya.
Ketika Nabi Noh berdiri di tempat yang tertinggi di atas kapalnya, mata Nabi Noh terpandang kepada seorang anaknya yang bernama Kanan, anak yang engkar yang tidak tunduk kepadanya sedang berjuang dengan maut menggabai-gabai mencari tempat yang tinggi. Cinta kepada anak memaksa Noh memanggil anaknya yang malang itu, panggilan yang penghabisan: Hai, anakku! Mari bersama kami, janganlah engkau bersama orang-orang yang kafir itu ! Seruan yang penghabisan di saat yang genting begitu rupa itupun tidak dapat diterima oleh otak dan perasaan anak yang derhaka itu, karena ia masih percaya akan dapat menghindarkan dirinya dari seksaan yang nyata itu dengan kekuatan dan fikiran yang ada padanya. Seruan bapaknya itu dijawab dengan sombong pula: Saya akan mencapai puncak gunung yang tinggi itu, sehingga saya akan terlepas dari banjir ini.
Noh berkata lagi kepadanya, ya karena cinta kepada anak sendiri: Hari ini tidak ada yang dapat melindungi dari seksa, selain Tuhan Yang Maha Pengasih. Anak itupun lenyap ditelan ombak yang sedang bergulung gulung, tinggallah Nabi Noh melihat dengan sedih dan berkata: Ya Allah, bukankah anakku itu termasuk keluarga saya sendiri?
Allah menurunkan ilham kepada Noh, bahawa anak itu bukan ahlimu lagi dan tidaklah termasuk menjadi keluargamu siapa saja yang kafir dan derhaka: Kami hanya berhak menolong orang orang yang iman saja. Allah ilhamkan pula kepada Noh, agar Nabi Noh jangan minta minta lagi kepada Tuhan tentang apa yang tidak diketahuinya dengan berfirman: Aku ajari engkau (ya Noh) tentang apa yang engkau masih jahil.
Nabi Noh insaf akan ajaran yang di terimanya dari Allah lalu menengadahkan kedua telapak tangannya bersyukur kepada Allah yang telah memelihara kaumnya yang beriman terlepas dari seksa, lalu Nabi Noh bermohon ampun atas segala dosa dan kesalahannya:
Aku berlindung diri kepadaMu, ya Tuhanku, atas apa-apa yang sudah saya mohon yang saya sendiri tidak tahu betul, dan kalau Engkau tidak beri ampun atas saya, sungguh saya akan tergolong orang orang yang merugi.
Banjir dahsyat dan gelombangnya yang bergulung itu telah dapat menelan semua manusia yang engkar. Langit mulai tertutup dan berhenti mencurahkan air, sedang bumi telah menghisap semua air yang ada di atas datarannya. Kapal Nabi Noh terhenti di atas puncak Gunung Judy yang sampai sekarang orang-orang pintar sedang mencari bekas bekasnya. Nuh dan pengikutnya kembali ke kampung-halamannya menghirup udara baru yang penuh dengan berkat dan pertolongan Allah.
PENCIPTA KAPAL PERTAMA
Kalau benarlah apa yang di katakan oleh Hisyam bin Muhammad bin as-Saib al-Kalby, bahawa Adam dan Hawa mula pertama diturunkan Allah ke permukaan bumi, di daerah pergunungan yang paling subur bernama Gunung Nut, India. Sedang menurut Ahmad Zaky, Gunung Nut itu nama aslinya adalah Gunung Rahun, dimana Adam pertama kali diturunkan. Di sanalah Adam dan Hawa hidup dan berketurunan. Di antara keturunan Adam dan Hawa ada yang hidup berpindah randah, tentu saja dengan tujuan mencari tempat yang lebih baik, udara yang lebih nyaman, atau penghasilan yang lebih mudah mendapatkannya. Dengan jalan begitu, manusia makin lama makin banyak jumlahnya, dan daerah yang mereka tempati semakin luas pula, berkembang ke Timur dan ke Barat, ke Utara atau ke Selatan. Beberapa abad kemudian, dunia ini menjadi ramai dan semakin ramai. Pada abad pertama sampai kelima menurut Said yang diambil dari perkataan Qatadah (Sahabat Rasulullah s.a.w.), mereka boleh dikatakan hidup dalam keadaan aman dan tenteram, dengan kepercayaan yang benar sesuai dengan ajaran Adam dan Hawa yang sangat giat menunjuki akan anak turunan-nya agar jangan sampai tersesat dan celaka, seperti apa yang sudah terjadi antara adik dan kakak yang bernama Qabil dan Habil. Tetapi dalam abad-abad yang berikutnya, iaitu kira-kira pada turunan yang kelima atau keenam dari Adam dan Hawa, mulailah timbul kerosakan dalam kepercayaan mereka. Ajaran Adam dan Hawa nenek moyang mereka, sudah mereka lupakan. Lalu timbullah berbagai-bagai kerosakan, kekacauan atau perselisihan antara mereka. Diriwayatkan oleh Atiyah dari Ibnu Abbas r.a., bawah manusia di saat wafatnya Adam semuanya baik dan beriman, tetapi kemudian hampir seluruhnya menjadi seperti binatang binatang yang tidak mempunyai akal. Dan karena itulah Allah lalu mengutus Nabi-nabi dan Rasul-rasul, untuk membimbing mereka, dengan memberi khabar gembira dan ancaman. Nabi pertama yang diutus Allah, iaitu Nabi Idris a.s. kira-kira dalam abad keenam sesudah Adam. Tetapi Nabi Idris ini mereka dustakan, sampai Nabi Idris ini diangkatkan Allah ke Tempat Tinggi (wafat). Sepeninggalan Nabi Idris a.s., di antara manusia yang hidup kafir dan jahat seperti binatang itu, ada pula beberapa orang yang hidup secara baik, sehingga mereka dicintai oleh kaum kerabat dan orang orang yang ada di sekitar mereka. Di antara mereka itu ada lima orang yang amat masyhur, iaitu yang bernama: Wad, Suwaa, Yaghuth, Yauuq dan Nasr. Menurut Hisyam, kelima-lima orang yang baik ini mati serentak berturut turut dalam satu bulan, sehingga menyebabkan kegemparan yang amat sangat bagi keluarga dan orang-orang yang mencintai mereka itu. Kemudian salah seorang dari kerabat yang sangat cinta mengusulkan kepada teman-teman dan kaum kerabat, agar bagi kelima orang baik yang telah meninggal dunia itu, dibuatkan gambar berupa patung yang menyerupai mereka, sekadar untuk kenang kenangan supaya melepaskan teragak atau rindu hati terhadap masing-masing mereka. Usul ini diterima orang banyak dengan gembira. Lalu di carilah orang-orang yang pandai menggambar dan mematungkannya. Mereka buatlah lima patung (berhala) yang pertama di dunia ini, yang masing-masingnya mereka beri nama dengan nama nama dari orang yang meninggal itu, iaitu Wad, Suwaa, Yaghuth, Yauuq dan Nasr. Begitulah, patung-patung itu sering mereka datangi untuk melihatnya, mereka hormati, kadang-kadang dengan upacara-upacara tertentu. Demikianlah terjadi pada abad pertama.
Menurut at-Tabary, nama-nama tersebut sesudah ditaarifkan, iaitu dibahasa-Arabkan, iaitu sesudah dilbranikan dari bahasa aslinya. Pada abad kedua, cara membesarkan dan menghormati patung-patung itu makin ditingkatkan. Dalam pada itu timbullah berbagai bagai cerita dongeng tentang patung patung atau berhala berhala tersebut, cerita-cerita yang sangat mempengaruhi jiwa manusia yang mendengarkannya. Dalam abad ketiga, mulalah timbul dogma-dogma, mitos atau kepercayaan-kepercayaan yang bersifat mistik.
Mereka katakan, bahawa nenek-moyang kita sampai menghormati patung patung itu, karena dengan penghormatan itu patung-patung tersebut dapat mendatangkan manfaat dan syafaat bagi mereka. Lalu patung-patung itu mereka sembah, mereka puja-puja. Timbullah kepercayaan menyembah patung-patung, dan patung-patung itulah tuhan, kata mereka.
Berkata Ibnul Kalby dari Ibnu Salih, bahawa menurut Ibnu Abbas r.a. antara Adam dan Noh adalah 12 abad lamanya. Dan di abad kedua belas sesudah Adam ini, seluruh manusia sudah menyembah patung-patung tersebut. Kerananya Allah lalu mengutus Nabi Noh a.s. untuk memperbaiki keadaan mereka yang sudah rosak itu.
Menurut al-Quran, umur Nabi Noh ini 950 tahun. Nabi Noh diutus Allah menjadi Nabi dan Rasul ketika berumur 480 tahun, sampai wafatnya, iaitu dalam masa 500 tahun atau 5 abad lamanya. Nabi Noh a.s. dengan segiat-giatnya, tanpa mengenal lelah, siang dan malam, terus-menerus mencuba membelokkan kaumnya dari kekafiran menyembah patung-patung tersebut. Tetapi amatlah sulitnya, terlalu sedikit hasilnya. Dalam masa 5 abad itu, hanya berhasil mendapatkan pengikut 70 atau 80 orang saja, yang semuanya terdiri dari orang-orang yang lemah dan melarat saja.
Nabi Noh itu adalah seorang fasih berkata kata, tajam pemikiran atau akalnya, dapat menangkis kalau berdebat, bersifat sabar dan tenang. Sungguhpun begitu, setiap kali Nabi Noh membawa mereka kepada menyembah Allah, maka mereka menentangnya; setiap diperingatkan akan azab dan seksa Tuhan, mereka menutup anak telinga masing-masing; saban diberi khabar suka dengan Syurga Allah, bahkan mereka menyombong dan mengejek serta mencuba membantah seruan Nabi Noh.
Dengan sabar dan tak putus asa, Nabi Noh menghadapi mereka. Bukan sekali dua kali, bukan dalam waktu sebulan-dua bulan, atau setahun-dua tahun, tetapi dalam waktu berpuluh, bahkan beratus tahun. Hampir seluruh umur yang diberikan Allah kepada Nabi Noh yang lamanya 950 tahun itu, dipakaikan dengan segiat giatnya untuk membelokkan kekafiran kaumnya itu. Dengan kesabaran dan keterangan-keterangan yang terang dan jelas elas, dengan kepandaian berkata dan berbicara, dengan membawakan alasan-alasan yang lengkap. Langit dan bumi, siang dan malam, laut dan darat, dipergunakan Nabi Noh sebagai alasan dan bukti atas keagungan Allah atas kekuasaanNya, dan atas keesaan Allah.
Sedikit sekali mereka yang percaya kepada Noh dan mengiakan pelajarannya. Tidak sesuai dengan jumlahnya manusia, tidak cocok dengan kegiatan dan kebijaksanaan yang sudah diberikan Nabi Noh. Tidak lebih jumlah mereka yang menurut ini daripada 80 orang saja. Yang lain tetap engkar, tidak percaya, tetap mem-bantah dan membesarkan diri, mengejek dan lain-lain sebagainya.
Reaksi dari mereka yang engkar itu bukan semakin berkurang, malah bertambah hebat dan meningkat juga. Mereka berkata ke-pada Nabi Noh: Bukankah engkau manusia biasa seperti kami juga, buat apa kami mengikuti engkau. Kalau diutus kepada kami seorang Malaikat, barangkali dapat kami mengikutnya, mengiakan katanya. Bukankah orang-orang yang mengikuti engkau itu, orang-orang yang rendah dan bodoh belaka. Sedangkan kami ini orang orang yang mulia, berkedudukan dan pekerjaan yang tinggi-tinggi, tidak mengharapkan fikiran dan pertolongan orang lain, cukup kepandaian dan kepintaran Engkau sendiri, ya Noh, bukan lebih dari kami tentang harta, tentang akal dan fikiran, tentang pemandangan, bahkan engkau kami pandang orang yang dusta.
Semua itu dijawab oleh Nabi Noh dengan jawapan yang tegas tepat, dengan keterangan-keterangan yang dapat melemahkan dan mengalahkan hujah mereka: Dapatkan gerangan kamu memutar jalan matahari dengan kepandaianmu, atau mencapai bintang dengan tanganmu? Dapatkah kamu beroleh terang kalau tidak karena matahari yang diciptakan Allah. Dapatkah kamu hidup kalau tidak dengan udara yang dijadikan Allah?
Mereka menjawab lagi dengan sanggahan yang baru dan dibuat-buat: Kalau engkau benar-benar orang yang mencintai sesama manusia, cintailah orang-orang yang telah mengikutimu itu saja, sedang kami biarkanlah saja, karena kami tidak akan dapat mengikuti jejak mereka, kami tidak dapat menganut agama yang mereka anut yang engkau ajarkan itu, dimana disamakan sang raja raja dengan rakyat murba, orang-orang yang mulia dengan orang yang hina-dina, orang yang kaya dengan orang-orang yang miskin.
Nabi Noh menjawab: Bahawa agama ini buat kamu sekalian, dengan tidak mengecualikan yang pintar dan yang bodoh, yang jadi raja dan yang jadi budak, yang berkuasa dan dikuasai, yang kaya dan yang miskin.
Debat ini bertambah sengit juga. Noh menghadapinya dengan sabar dan tenang saja, tetapi mereka rupanya telah sempit dada, lalu berkata kepada Noh: Hai, Noh, engkau sudah debat kami, dan telah lebih dari cukup banyaknya, datangkanlah kepada kami (seksa) yang engkau katakan itu, kalau engkau orang yang benar.
Nabi Noh menambah lagi dengan sabar: Sungguh kamu orang-orang yang bodoh sekali, kamu minta seksaan Allah, bukan rahmat Allah yang kamu tuntut. Ketahuilah bahawa Allah kuasa atas tiap-tiap sesuatu. Kalau Allah menghendaki akan diseksanya kamu, dan kalau Allah suka datanglah seksaan itu selekas-lekasnya kepada kamu, dimana kamu pasti menyesal nanti.
Sehabis perdebatan itu, Nabi Noh selamanya bermunajat dan berdoa kepada Allah, mengemukakan perasaan hati dan bermohon ampun atas kelemahannya, minta petunjuk petunjuk yang baru, sambil mengeluh dan mengadu. Akhirnya Allah menurunkan wahyu kepada Noh: Tidak akan beriman kaummu itu selain orang-orang yang telah beriman itu, dan janganlah kamu berputus asa atas apa apa yang mereka perbuat. Sehabis berjuang dan berusaha, dengan kesabaran yang ada padanya, akhirnya Nabi Noh berdoa kepada Allah:
Ya Allah, janganlah dibiarkan tinggal di bumi ini orang-orang yang engkar seorang pun, sebab kalau engkau biarkan mereka tinggal, mereka akan menyesatkan hamba-hambaMu, dan mereka akan menurunkan turunan yang jahat dan engkar saja.
Doa Nabi Noh ini didengar oleh Allah, dan dikabulkanNya, lalu berfirman: Engkau perbuatlah kapal dengan pertolongan dan petunjuk-petunjuk Kami dan janganlah engkau pohonkan pertolongan kepadaKu tentang nasib orang-orang yang zalim itu, mereka semuanya akan tenggelam.
Nabi Noh mulai membina kapal dengan mempergunakan kayu dan paku, di suatu tempat dekat kota. Dan tiap orang yang lalu di tempat itu, selalu mengejek dan memperolok-olokkannya dengan berbagai bagai kata dan bicara, Ada yang berkata: Engkau selama ini, hai Noh, mendakwakan yang engkau Nabi dan Rasul; kenapa had ini kami lihat engkau menjadi tukang kayu? Apa engkau sudah bosan menjadi Nabi dan ingin menjadi tukang kayu?
Ada pula yang mengejek: Apa gunanya kapal yang engkau buat itu, sedang di sini tidak ada laut dan sungai? Apakah engkau akan tarik dengan lembu kapal itu atau akan engkau terbangkan di udara?
Di bawah serangan ejekan itu Nabi Noh terus bekerja dan hanya berkata: Bila kamu tetap mengejek kami, kami akan mengejek kamu pula nanti sebagai kamu mengejek kami ini, dan akan kamu ketahui sendiri nasibnya orang-orang yang kena seksa itu, sedang seksaan itu akan terjadi.
Noh dan pengikutnya terus bekerja, sehingga sempurnalah pembikinan kapal itu. Hanya sekarang menunggu bagaimana perintah Allah selanjutnya. Dalam pada itu Tuhan telah mewajibkan kepada Noh, agar bila seksa itu telah datang, Noh dan pengikut-pengikutnya segera naik ke kapal itu, dengan membawa semua orang yang beriman dan binatang ternaknya yang berpasang-pasangan.
Terbukalah pintu-pintu langit, sehingga dari langit itu tercurah air sebesar-besarnya jatuh ke bumi, sedang dari bumi terpancar sumber-sumber air yang besar-besar, sehingga dalam sebentar waktu permukaan bumi digenangi air banjir yang luar-biasa hebatnya, menggenangi tanah yang tinggi dan yang rendah. Air banjir semakin naik juga sehingga telah mencapai rumah-rumah dan bukit-bukit, sedang Nabi Noh dan pengikut-pengikut-nya sewaktu itu telah berada di atas kapal yang mereka perbuat selama ini.
Dengan kegemparan yang luar biasa, manusia manusia engkar itupun berlompatan ke sana-sini tidak keruan tujunya sebagai se gerombolan keldai dikejuti singa, berteriak melolong lolong, menghindarkan diri masing-masing dari bahaya maut, Ada yang naik ke atas atap rumah rumah tetapi tercapai juga oleh air banjir, ada yang naik memanjat batang kayu yang tinggi, tetapi akhirnya tenggelam juga, ada pula yang berenang menuju ke bukit yang tinggi-tinggi yang menurut kiranya tidak akan tercapai oleh banjir yang bagaimana hebatnya.
Ketika Nabi Noh berdiri di tempat yang tertinggi di atas kapalnya, mata Nabi Noh terpandang kepada seorang anaknya yang bernama Kanan, anak yang engkar yang tidak tunduk kepadanya sedang berjuang dengan maut menggabai-gabai mencari tempat yang tinggi. Cinta kepada anak memaksa Noh memanggil anaknya yang malang itu, panggilan yang penghabisan: Hai, anakku! Mari bersama kami, janganlah engkau bersama orang-orang yang kafir itu ! Seruan yang penghabisan di saat yang genting begitu rupa itupun tidak dapat diterima oleh otak dan perasaan anak yang derhaka itu, karena ia masih percaya akan dapat menghindarkan dirinya dari seksaan yang nyata itu dengan kekuatan dan fikiran yang ada padanya. Seruan bapaknya itu dijawab dengan sombong pula: Saya akan mencapai puncak gunung yang tinggi itu, sehingga saya akan terlepas dari banjir ini.
Noh berkata lagi kepadanya, ya karena cinta kepada anak sendiri: Hari ini tidak ada yang dapat melindungi dari seksa, selain Tuhan Yang Maha Pengasih. Anak itupun lenyap ditelan ombak yang sedang bergulung gulung, tinggallah Nabi Noh melihat dengan sedih dan berkata: Ya Allah, bukankah anakku itu termasuk keluarga saya sendiri?
Allah menurunkan ilham kepada Noh, bahawa anak itu bukan ahlimu lagi dan tidaklah termasuk menjadi keluargamu siapa saja yang kafir dan derhaka: Kami hanya berhak menolong orang orang yang iman saja. Allah ilhamkan pula kepada Noh, agar Nabi Noh jangan minta minta lagi kepada Tuhan tentang apa yang tidak diketahuinya dengan berfirman: Aku ajari engkau (ya Noh) tentang apa yang engkau masih jahil.
Nabi Noh insaf akan ajaran yang di terimanya dari Allah lalu menengadahkan kedua telapak tangannya bersyukur kepada Allah yang telah memelihara kaumnya yang beriman terlepas dari seksa, lalu Nabi Noh bermohon ampun atas segala dosa dan kesalahannya:
Aku berlindung diri kepadaMu, ya Tuhanku, atas apa-apa yang sudah saya mohon yang saya sendiri tidak tahu betul, dan kalau Engkau tidak beri ampun atas saya, sungguh saya akan tergolong orang orang yang merugi.
Banjir dahsyat dan gelombangnya yang bergulung itu telah dapat menelan semua manusia yang engkar. Langit mulai tertutup dan berhenti mencurahkan air, sedang bumi telah menghisap semua air yang ada di atas datarannya. Kapal Nabi Noh terhenti di atas puncak Gunung Judy yang sampai sekarang orang-orang pintar sedang mencari bekas bekasnya. Nuh dan pengikutnya kembali ke kampung-halamannya menghirup udara baru yang penuh dengan berkat dan pertolongan Allah.
Langganan:
Postingan (Atom)