Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN. Tampilkan semua postingan

02 Januari 2010

balita doyan ngrokok

Sandi Adi Susanto adalah balita yang memiliki kebiasaan buruk, dia gemar dan jago ngisep rokok. Pasangan Mulud Riadi dan Mujiati, orangtua Sandi Adi Susanto kepada Harian Surya menjelaskan, anaknya mulai suka merokok ketika mulai bisa berjalan yaitu sekitar usia 1,5 tahun.

http://www.kompas.com/data/photo/2009/12/30/0646444p.JPG

Saat mereka masih tinggal di kawasan Kepuh, Kecamatan Sukun, Kota Malang . Ketika itu, setiap pagi hari setelah bangun tidur, Sandi meminta dibuatkan segelas kopi dan minta sebatang rokok.

”Permintaan itu saya penuhi karena jauh hari sebelumnya, ada pesan dari orangtua laki-laki saya apabila Sandi minta segelas kopi dan sebatang rokok agar dipenuhi,” kata Mujiati.

Sejak saat itu Sandi jadi suka merokok. Bahkan, kata Mujiati, sejumlah tetangganya pernah menggunjing, mengapa anak sekecil itu setiap hari diberi rokok. ”Padahal, kami tidak pernah memberinya rokok tiap hari. Sandi mendapat rokok justru dari orang-orang yang mengenalnya,” urai Mujiati.

Sebenarnya Sandi sempat berhenti merokok selama sebulan. Namun, menjelang malam Jumat Legi, Mujiati mengaku bermimpi bertemu dengan ibunya, Sumarni, yang sudah meninggal. Dalam mimpi itu, almarhumah Sumarni minta segelas kopi dan sebatang rokok. ”Sejak mimpi itu, Sandi kambuh merokok sampai sekarang,” paparnya.

Soal Sandi yang mengonsumsi miras, Mujiati mengaku tak pernah memergoki langsung. Namun, Sandi sering bercerita kalau dia diajak minum jenis anggur merah. Setelah minum anggur merah itu, Sandi mengeluh dadanya sesak dan kepala pusing. ”Ini yang saya khawatirkan,” papar perempuan yang tampak lebih tua dari usianya itu.

Melihat perilaku anaknya itu, Mujiati mengaku belum pernah memeriksakan ke psikolog. Mujiati maupun sejumlah warga menganggap apa yang menimpa Sandi itu bukan kelainan, tetapi akibat ’ditempeli’ neneknya yang sudah meninggal.

http://www.kompas.com/data/photo/2009/12/30/0641354p.JPG

Wali Kota Malang Peni Suparto ketika diberitahu kondisi Sandi tampak heran. Peni melihat apa yang menimpa Sandi itu merupakan suatu kelainan akibat pengaruh lingkungan. Karena itu, Sandi harus segera diperiksakan dan dibina yang benar.

29 Desember 2009

CUCI TANGAN DI RS RAWAN TERTULAR BAKTERY

Pakar bakteri menemukan risiko mencuci tangan di rumah sakit bisa meningkatkan risiko infeksi. Ilmuwan menganjurkan perlunya wastafel khusus untuk mencegah virus atau bakteri berpindah dari satu orang ke orang lain saat mencuci tangan di rumah sakit. Menurut bakteriolog Profesor Hugh Pennington, rumah sakit seharusnya menyediakan wastafel tempat mencuci tangan yang dilengkapi dengan sistem infra merah otomatis untuk mencegah virus yang terdapat pada wastafel berpindah dari satu orang ke yang lainnya pada saat mencuci tangan. "Teknologi itu sebenarnya sudah ada sejak lama dan merupakan cara efektif untuk mengontrol infeksi di rumah sakit. Tapi anehnya sampai sekarang sangat jarang rumah sakit yang memakainya, padahal di bandar udara bahkan di tempat penjagalan saja sudah ada," kata Prof Pennington seperti dilansir Telegraph, Selasa (29/12/2009). Data Departemen kesehatan Inggris menunjukkan terjadi peningkatan kasus infeksi di rumah sakit, terutama infeksi bakteri MRSA yang mencapai 509 kasus dan Clostridium difficile sebanyak 6855 kasus pada tahun 2009. Tingginya kasus infeksi yang berasal dari rumah sakit seharusnya bisa menjadi pelajaran untuk bisa meningkatkan fasilitas sanitasi dan higienis di rumah sakit. Berbeda dengan di Inggris, rumah sakit di Skotlandia sudah menyediakan fasilitas ruang isolasi yang dapat mencegah penyebaran mikroorganisme mematikan. "Meskipun beberapa rumah sakit sudah menggunakan sistem desinfektan, tapi hal itu tidak cukup. Bahkan desinfektan hanya akan meningkatkan resistensi (kekebalan) mikroorganisme," jelas Pennington. Selama ini yang menjadi sorotan penularan bakteri di rumah sakit adalah infeksi nosokomial. Infeksi yang terjadi pada pasien selama di rumah sakit atau menggunakan fasilitas kesehatan lain. Penyakit ini tidak ditemukan saat pasien masuk rumah sakit. Ancaman penularan infeksi nosokomial yang terjadi di rumah sakit kini menjadi perhatian serius banyak negara. Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat kejadian infeksi di institusi pelayanan kesehatan berkisar 3-21 persen. Sebelumnya, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan masalah infeksi nosokomial akan menjadi perhatian khusus dalam upaya memberikan jaminan kesehatan kepada pasien (patient safety).

23 Desember 2009

Tips Cara Cepat Dapat Darah Di PMI

Mungkin anda membutuhkan tips ini dilain waktu. Ga selamanya manusia akan sehat, yang pastinya ada suatu musibah yang kita sendiri tidak tau. Mungkin dikeluarga anda, tetangga, teman, atau pun orang2 yang anda kenal. Nih saya ingin berbagi pengalaman dan ilmu buat anda dikemudian hari.
Suatu hari waktunya jam 7malam ada saudara saya yang jatuh sakit dan dirawat di RS, terkena musibah sakit demam berdarah. Nah waktu itu dokter bilang membutuhkan darah secepatnya kepada keluarga saya. Respon buru2 sebagian keluarga saya ajak sekitar 10 orang ke PMI tuk ngambil darah di PMI yang ditunjuk pihak rumah sakit.
Pas diPMI sang kakak yang kena demam berdarah lebih dahulu datang. Waktu itu saya datang belakangan bersama sebagian keluarga. Dan sang kakak bilang dgn wajah yang sedih kalau darahnya baru bisa diambil jam 12 siang, waktu itu tiba dIPMI jam 2 pagi.
Dengan santai saya bilang sama semua saudara yang saya ajak tadi ''yuk masuk semua, tanpa terkecuali'' dengan herannya semua saudara dan keluarga saya bertanya ''ngapain masuk, darahnya baru keluar jam 12siang nanti!!'' saya bilang sama mereka untuk tidak usah banyak bertanya.
Di loket saya bertanya kepada petugas PMI ''pak,, darah buat saudara saya bisa diambil sekarang tidak??'' namun kata petugas '' tidak bisa sekarang,, darahnya baru bisa diambil nanti siang jam 12'' dan saya pun kembali bilang sama petugas PMInya ''pak bagaimana jika darahnya saya ambil sekarang dengan menukar darah kami'' sambil saya menunjuk keluarga saya. Dan sang petugas pun tersenyum ''bisa pak bisa'' lalu kami semua pun masuk ke ruangan untuk dicek jenis yang cocok untuk darah saudara saya yang membutuhkan. Alhamdulillah 4 orang cocok. Dan saat itu juga kami bisa mendapatkan darah secepatnya tanpa menunggu waktu yang lama.
Ibaratnya sama juga dengan kita memberi darah buat saudara kita sendiri. Namun disaat membutuhkan siapa yang punya, betul tidak?
Semoga pengalaman ini bisa berguna buat anda dikemudian hari.

06 Desember 2009

Bocah Lelaki Yang Tak Boleh Lecet

Image and video hosting by TinyPic

Cambridge,
Max Braybrook bocah berusia 16 bulan dijaga bak kristal yang tak boleh sedikitpun tergores oleh orangtuanya. Memar, lecet atau benjol sedikit saja nyawa bocah penderita Wiskott Aldrich Syndrome bisa melayang.
Max Braybrook menderita suatu penyakit yang jarang ditemukan. Dirinya tidak boleh terjatuh atau terbentur sesuatu, karena benjolan sedikit saja bisa membunuhnya. Selain itu, penyakit ini bisa memicu Max mengalami stroke, kanker atau pendarahan akibat benjolan tersebut.
"Ini sangat menakutkan, padahal saat ini Max sedang belajar berjalan. Jika ia terjatuh, maka itu bisa menjadi hal yang sangat mengerikan karena benjolan kecil bisa menyebabkan pendarahan yang parah di bawah kulitnya," ujar Jaqui (29 tahun) ibunda dari Max, seperti dikutip dari Dailymail, Sabtu (5/12/2009).
"Kami sudah mulai merasa bahwa ada masalah serius pada diri Max tak lama setelah dia lahir. Tapi kondisi yang sangat menakutkan ini baru diberitahu oleh dokter Maret 2009 lalu," ujar sang ibu.
Memar yang terjadi pada Max ini berhubungan dengan rendahnya kadar trombosit dalam darah. Sang ibu awalnya tidak mengira Max mengalami penyakit tersebut, karena sindrom ini sangat langka terjadi. Tapi saat dirujuk ke Addenbrooke's Hospital di Cambridge, ternyata didapatkan jumlah trombositnya hanya 4 keping tiap ml darahnya. Padahal pada orang normal rata-rata jumlah trombositnya antara 150.000 sampai 450.000 per ml darah.
Trombosit yang dimiliki oleh Max sangat rendah, sehingga sangat berisiko menderita pendarahan di otak yang berbahaya. Sejak itu, Max mendapat perawatan di Great Ormond Street Hospital, London. Satu-satunya harapan untuk sembuh adalah melakukan transplantasi sumsum tulang belakang dari donor yang cocok dengan tubuhnya. Idealnya transplantasi ini dilakukan sebelum Max berusia 5 tahun.
Ketiga saudara perempuan Max telah melakukan tes untuk melihat adanya kecocokan atau tidak, tapi sayangnya tidak ada satupun yang cocok dengan tubuh Max.
"Kini kami harus menjaga Max lebih ketat agar tidak terjatuh, terbentur atau melakukan hal-hal yang bisa memicu timbulnya memar atau benjolan di tubuhnya untuk mengurangi risiko terkena infeksi, stroke, leukimia atau pendarahan parah lainnya," ujar Jaqui.
Seperti dikutip dari Emedicine, Wiskott-Aldrich syndrome (WAS)
umumnya terjadi karena kekurangan immunoglobulin M (IgM). Anak yang menderita WAS menyebabkan produksi trombositnya rendah, rentan terhadap penyakit autoimun dan penyakit berbahaya yang berhuungan dengan darah.
WAS adalah penyakit yang terkait dengan kondisi resesif kromosom X, karena itu penyakit ini lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki meskipun pernah juga ditemukan pada anak perempuan. Gejala dari penyakit ini adalah sistem kekebalan tubuh menurun sehingga mudah terkena infeksi, jumlah trombosit yang rendah serta kelainan pada kulit seperti eksim.